
Rion dan Sehun sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Sampai kemudian Restandi dan Arleta datang.
"Kau di sini?" tanya Restandi pada Sehun.
"Aku mau lihat contoh kasus yang kemarin." Sehun beralasan. Monika datang membawakan kopi untuk Sehun.
"Mbak Arleta mau minum?" tanya Monika ramah.
"Aku ingin teh hangat bisa?" Arleta merasa butuh minuman yang hangat.
"Kita makan siang saja sekalian, baru habis itu pulang." kata Restandi pada Arleta. Istrinya mengangguk.
"Kalau begitu Rion kamu bawa Monika ya. Aku bersama Arleta. Nanti habis makan siang kamu antar lagi Monika ke sini. Aku dan Arleta langsung pulang." kata Restandi memutuskan. Mendengar itu Arleta dan Monika bingung. Restandi mengedipkan matanya pada Arleta dan Monika melihat itu juga. Maka mereka tidak protes.
"Ok kak, siap." kata Rion yang senang akan semobil dengan Monika. Sedangkan Sehun yang mendengar itu merasa kesal luar biasa Dia ingin ikut tapi dia punya jadwal operasi sebentar lagi. Karena kekesalan hatinya dia pun pergi tanpa mengatakan apa-apa. Lupa kalau dia belum minum kopinya. Di mobil Arleta bertanya pada Restandi.
"Kenapa kau suruh Rion membawa Monika?" Arleta menatap Restandi heran. Restandi justru tertawa lepas.
"Kamu ko malah tertawa?" Arleta semakin bingung.
"Kamu tidak lihat wajah Sehun tadi?" Restandi balik bertanya. Arleta mengingat-ingat. Tapi dia memang tidak memperhatikan wajah Sehun tadi.
"Aku hanya mengikuti permainan Arleta." jelas Restandi. Arleta mengerti, Restandi sedang mempermainkan Sehun.
__ADS_1
"Tapi aku tidak pernah bermaksud mempermainkan Sehun." kata Arleta menyanggah.
"Tapi kamu yang membuka permainan ini. Biar bagaimana ini sudah terjadi. Jujur aku memang sedang mempermainkan perasaan Sehun, biar dia tau bagaimana rasanya jatuh cinta." Restandi meraih tangan Arleta dan menciumnya.
"Bilang sama Rion jangan macam-macam pada Monika." kata Restandi lagi. Kali ini wajahnya serius. Arleta pun mengirim pesan pada Rion sesuai perkataan Restandi. Rion membalas Arleta dengan mengatakan Arleta tidak perlu khawatir. Karena Monika gadis baik-baik Rion tidak akan mengganggunya. Arleta lega. Jika Restandi menganggap ini permainan, Arleta merasa dia harus berhenti.
Melani sedang menangisi di kamarnya. Mengapa harus hamil pikirnya. Ini anak Armando, dia tidak mau Armando tau kehamilannya. Lalu bagaimana dia menyembunyikannya? Avery datang membawa susu hangat untuk adiknya.
"Sudah jangan menangis lagi. Pikirkan apa yang akan kau lakukan." Avery menyodorkan susu itu pada Melani.
"Aku tidak tau."jawab Melani lemah, dia meminum susu itu karena teringat ada bayi di perutnya.
"Kau tidak bisa menutupinya dari ayah." Avery duduk dan mulai berpikir. Sungguh bodoh adiknya ini, sudah buat masalah tapi tidak punya jalan keluar. Melani hanya terdiam dan merenung, tangisnya sudah berhenti. Dia tidak mau Avery marah padanya karena terus menangis. Walau bagaimana Avery satu-satunya pelindungnya saat ini.
"Aku malah tidak berani mengatakannya." Melani tau Avery kesal dengan masalahnya.
"Kau tidak mungkin terus bersembunyi di dalam kamar." Avery kembali berpikir untuk menghindarkan Melani bertemu ayahnya. Melani merebahkan tubuhnya tidak tau harus berbuat apa. Dia putus asa.
"Bagaimana jika kau sekolah?" tanya Avery mulai bersemangat.
"Rasanya hanya itu yang dapat di gunakan untuk membawamu keluar dari rumah." mata Avery bersinar.
"Sekolah? di mana?" Melani duduk tegak mendengar usul kakaknya.
__ADS_1
"Nah itu masalahnya. Kau mau sekolah apa dan di mana. Aku rasa kau harus sekolah di luar negeri agar ayah tidak dapat memantaumu. Biar itu jadi urusan aku. Jika ayah rindu kau bisa Vidio cal debganmu tanpa kau perlihatkan perutmu yang membesar itu." Avery hanya bisa memikirkan itu. Tapi sepertinya Melani setuju, karena wajahnya mulai cerah. Mereka pun mulai mencari sekolah yang cocok untuk Melani. Kali ini Melani bertekad untuk tidak mengecewakan lagi ayahnya. Di pilihlah sekolah bisnis di Australia. Melani suka pada sekolah pilihan Avery.
"Ok kalau kau sudah cocok, sekarang kau harus minta ijin pada ayah." kata Avery sambil menuliskan sesuatu pada kertas.
"Apa yang kau tulis?" tanya Melani.
"Ini beberapa alasan yang harus kau katakan pada ayah agar ijinnya kau dapatkan." Melani lalu sadar Avery lebih dekat dan sering berurusan dengan ayahnya. Dia pasti tau bagaimana menghadapi ayahnya.
"Kau baca dulu, lalu kita akan menghubungi ayah." Avery menyodorkan kertas itu. Tepat seperti apa yang di katakan Avery, mereka menghubungi Zakhary untuk meminta ijinnya agar Melani dapat sekolah dan keluar dari rumah. Seperti perkiraan Avery, dengan alasan yang di pikirannya Melani mendapat ijin. Melani kagum dengan kepintaran Avery, berbeda dengan .dirinya yang hanya bisa menangis. Avery pun mengatur sekolah untuk Melani dan tempat tinggal bagi adiknya di sana. Untuk sementara ini yang dapat mereka lakukan sambil menunggu keberanian untuk menghadapi ayahnya nanti. Armando sibuk dengan pekerjaannya. Dia belum dapat kembali ke Amerika untuk membujuk Melani. Tapi pikiran Armando tetap pada Melani. Dia sudah bertekad tidak akan melepaskan Melani, walau Mauren belum tentu suka. Sampai akhirnya tiba bagi Armando bisa mendatangi Melani kembali, ternyata Melani sudah tidak ada.
"Jangan mendatangiku lagi, dia sudah pergi." kata Avery kesal melihat Armando. Sebetulnya bertemu pria itu Avery tidak keberatan asal tidak bertanya tentang adiknya.
"Jadi kau menyembunyikannya?" tanya Armando dengan tatapan tajamnya.
"Iya, aku sudah mengirimnya pergi jauh ke ujung dunia." jawab Avery ingin mengganggu Armando.
"Bagus, aku tidak mungkin mendobrak rumahmu untuk bertemu Melani. Tapi jika di luar sana besar kemungkinannya." Armando tetap menatap tajam Avery. Dia bisa melihat gadis itu menyadari perkataannya benar. Avery mulai gelisah. Dari apa yang di tangkap mata Armando pria itu yakin Avery telah mengirim adiknya pergi entah ke mana dan mengapa. Gadis itu tidak berbohong.
"Baiklah, aku pasti akan menemukannya." kata Armando sambil beranjak pergi. Sudah cukup dia mengganggu Avery hari ini . Sepeninggal Armando Avery mulai khawatir. Dia mengatur penjagaan untuk Melani di perketat. Tapi dia tidak tau tentang perkataan kalau jodoh tidak ke mana.
Karena dokter kandungan Arleta adalah Lukman Aria, teman dekat Nikolas Gutama. Tentu saja dokter Lukman mengontak Nikolas untuk memberi selamat, karena akan punya cucu. Nikolas dan Sofi terkejut akan kabar itu. Karena Restandi dan Arleta sendiri tidak memberi kabar. Mereka pun memutuskan untuk segera pulang setelah acara pernikahan berakhir. Malam ini mereka berkumpul untuk makan malam bersama sebagai rasa syukur atas kehamilan Arleta. Termasuk Rion.
"Makan yang banyak sayang, mulai sekarang mama akan mengawasi makananmu."
__ADS_1