Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
87. Pengganggu


__ADS_3

"Nanti biar aku yang mengurus pengeluarannya." kata Restandi. Dia akan membagi apa yang pantas untuk adiknya. Rion bergerak cepat. Dia akan memperkenalkan Trisia pada keluarganya. Rion pun membujuk Sofi.


"Ma, nanti mama harus baik ya pada Trisia. Rion yang salah ma, bukan Trisia." kata Rion dengan lembut pada Sofi.


"Tapi bukan begitu cara seorang istri berlaku Rion. Kamu tuh seperti tidak ada perempuan lain saja. Istri orang di goda." perkataan Sofi semakin jelas tidak menyukai Trisia.


"Rion tidak pernah serius sama yang lain, kalau yang ini Rion serius." kata Rion berusaha meyakinkan Sofi.


"Kamu betul mencintainya?" tanya Sofi.


"Ma jika tidak Rion tidak akan sejauh ini." Rion menatap Sofi dan menggenggam tangannya. Ingin memperlihatkan kesungguhannya. Sofi balas menatapnya. Dia tau putranya yang ini senang berganti pacar, tapi tidak pernah melewati batas.


"Baiklah, mama akan berusaha. Tapi jangan paksa mama, karena kalau tidak tulus itu artinya munafik. Mama tidak mau jadi orang yang munafik." jawab Sofi akhirnya.


"Terima kasih ma. Selama ini Rion tidak pernah minta sesuatu pada mama kan. Tolong tepati janji mama." Rion memeluk Sofi.


Pagi hari Arleta ikut bersama Restandi ke rumah sakit. Dia akan memeriksa kandungannya. Mereka sudah tiba di rumah sakit.


"Rest aku ke kantin dulu ya, aku pingin makan kue." kata Arleta di depan ruang kerja Restandi.


"Sama Rani ya, aku ada pekerjaan ." kata Restandi yang langsung memanggil Rani untuk menemani Arleta . Walaupun Rani sudah sarapan tapi dia tidak menolak makan kue di kantin. Restandi masuk ke ruangannya. Dia tengah memeriksa laporan rumah sakit. Ayahnya mulai memberikan pekerjaan dalam pengurusan rumah sakit. Karena nantinya Restandi lah yang harus memimpin rumah sakit tersebut. Paramita sudah bertekad harus bertemu Restandi hari itu. Ayahnya sudah pindah ruangan dan sudah mulai sembuh. Dia khawatir kesempatannya bertemu Restandi tinggal sedikit waktu lagi. Tidak ada orang di depan ruang kerja Restandi, Paramita pun bergegas masuk ke ruang Restandi tanpa mengetuk pintu. Dia duduk di depan Restandi yang sibuk dengan laporannya.


"Dokter apa kabar?" tanya Paramita dengan manis. Restandi terkejut dan menatap Paramita. Wajahnya langsung menunjukan tidak suka dengan apa yang di lihatnya.


"Maaf, saya tidak menerima tamu yang tidak seharusnya di ruangan ini." kata Restandi tajam.

__ADS_1


"Saya hanya ingin tau tentang ayah saya." kata Paramita berkilah.


"Ayah anda sudah baik-baik saja, Sebentar lagi bisa meninggalkan rumah sakit. Bukankah itu sudah di infokan pada anda." Restandi menegur Paramita. Dia sudah membaca catatan Aira.


"Tapi kan saya ingin tau pendapat dokter." Paramita berkeras.


"Dokter ayah anda adalah dokter Aira, dan dia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Anda tidak perlu mencari saya." Restandi masih berusaha sabar.


"Tapi mungkin dokter harus memeriksa saya, siapa tau saya memiliki penyakit jantung seperti ayah saya." Paramita mulai menggoda.


"Maaf saya tidak menerima pasien wanita. Jika anda tidak keluar sekarang juga, saya akan memanggil pihak keamanan untuk membawa anda keluar." Restandi mulai mengancam. Dia tidak mau membuang waktu untuk hal yang seperti ini. Paramita tertegun mendengar itu. Dia sedang berpikir apa yang akan dia lakukan ketika pintu tiba-tiba terbuka dan Arleta masuk.


"Rest aku......." Arleta terhenti dan menatap Paramita bingung.


"Silahkan keluar!" kata Restandi tajam pada Paramita. Segera Paramita bangkit dan keluar tanpa menoleh lagi.


"Pengagum terang-terangan." jawab Restandi santai. Kemarahannya surut melihat reaksi Arleta.


"Apa? Sejak kapan?" Arleta penasaran. Tidak mungkin pengagum rahasia kalau seperti itu.


"Mungkin sejak ayahnya di rawat di sini. Tadi kamu mau bilang apa?" Restandi membereskan laporan di mejanya, karena dia akan mengantar Arleta bertemu dokter Lukman Aria. Arleta sudah lupa mau bicara apa. Pikirannya terpaku pada apa yang di lihatnya tadi. Restandi menghampiri Arleta. Mencium pipinya lembut.


"Sudah ya, kita ke ruang dokter Lukman sekarang." Restandi mengusap lembut punggung Arleta, menenangkan istrinya. Arleta menurut, ketika Restandi merangkulnya dan mengajaknya pergi ke ruang dokter Lukman dia pun mengikutinya.


"Siapa namanya?" tanya Arleta berbisik ketika mereka tengah berjalan di lorong rumah sakit.

__ADS_1


"Paramita Huzen." jawab Restandi berbisik pula.


"Dia janda atau gadis?" bisik Arleta lagi.


"Mana aku tau, pasienku kan ayahnya bukan anaknya." bisik Restandi, dia merasa pertanyaan Arleta lucu. Arleta mencubit pinggang Restandi gemas.


"Sakit sayang." kata Restandi sambil memegang tangan Arleta yang mencubitnya tadi. Restandi paham Arleta cemburu dan merasa terganggu dengan apa yang Paramita lakukan.


"Kamu harus di hukum." kata Arleta kesal.


"Ok, tapi hukumannya yang manis-manis ya." Restandi meremas tangan Arleta mesra. Arleta jadi terhibur dengan kelakuan Restandi. Mereka tiba di depan ruang dokter Lukman. Restandi pun segera menarik Arleta masuk. Hasil pemeriksaan hari ini sangat bagus. Kandungan Arleta sudah baik-baik saja. Hal ini membuat perasaan Arleta membaik karena tadi sempat kacau.


"Kita makan siang dulu ya sayang, nanti baru aku antar pulang." kata Restandi ketika mereka sudah di ruang kerja Restandi lagi. Arleta diam saja, dia sedang bimbang sekarang. Restandi tau apa yang Arleta pikirkan. Dia meminta Rani memesan makan siang untuknya dan Arleta. Lalu duduk dan merangkul Arleta dengan lembut.


"Apa yang membuatmu ragu?" tanya Restandi sambil menatap Arleta lekat.


"Aku tidak ragu padamu Rest, aku percaya padamu. Aku hanya cemas, mungkin juga karena kehamilanku aku jadi begini." jawab Arleta jujur. Mengetahui ada seorang wanita yang mengejar suaminya bukan hal yang menyenangkan.


"Aku paham, Arleta sayang hal seperti ini bukan hal baru bagiku. Tapi aku tidak suka hal seperti ini menjadi sesuatu yang memusingkan kita. Baru kali ini dia nekat seperti itu. Tapi aku janji hal ini tidak akan terulang kembali." kata Restandi ingin membuat Arleta tenang. Dia tidak mau Arleta memikirkan hal-hal yang buruk.


"Jadi yang seperti ini sering kamu alami?" tanya Arleta penasaran. Memang Restandi tampan dan statusnya bagus, pasti banyak wanita yang suka.


"Aku saja sebenarnya terganggu, itu sebabnya aku hanya menerima pasien pria. Tapi memang ada hal-hal di luar batas kita, seperti tadi. Jangan cemas ya sayang, aku akan menjaga diriku untukmu." janji Restandi. Arleta teringat janji Restandi untuk bersamanya selamanya, karena dia adalah pilihan Restandi.


"Lalu bila aku yang berubah bagaimana?" tanya Arleta.

__ADS_1


"Kamu istri Restandi Gutama , aku tidak akan melepaskanmu." jawab Restandi yakin.


__ADS_2