Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
21. Dilema


__ADS_3

Restandi menemui Arlan. Selama menempati kantor baru dan menjadi pimpinan baru Restandi belum pernah mengunjunginya. Apalagi dia baru bertunangan kemarin.


"Selamat atas pertunanganmu. Aku ingin mengucapkan kemarin tapi Arleta ingin segera pulang". kata Restandi pada Arlan yang menyambutnya.


"Santai saja, Aku senang kau mau datang hari ini". Arlan menghargai kunjungan Restandi.


"Kantormu bagus juga. Tapi aku tidak melihat Revita?". tanya Restandi.


"Revita masih cuti hari ini". jawab Arlan. Mereka duduk dengan santai di ruang kerja Arlan.


"Arlan, kemarin Arleta pulang dengan menangis. Apa yang terjadi? kau pasti tau. Arleta tidak mengatakannya padaku dia bilang belum siap. Tapi aku yakin pasti itu serius". Restandi tidak membuang waktu. Arlan diam sejenak, lalu dia menghela napas.


"Aku tau. Kemarin Kevin menarik Arleta ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya. Ketika keluar dari situ Arleta menangis lalu ikut bersamamu pulang. Tidak ada yang tau apa yang terjadi di dalam. Kevin juga tidak mau mengatakan apapun". Arlan berterus terang karena dia pikir percuma menutupinya dari Restandi. Saat itu juga dia melihat wajah Restandi berubah. Tangannya mengepal kencang, Restandi marah.


"Dia tidak bisa melepaskan Arleta rupanya". Restandi tidak berusaha menutupi kemarahannya. Arlan tau jika menyangkut Arleta Restandi tidak main-main.


"Aku yakin Kevin hanya ingin membujuk Arleta kembali padanya". Arlan sebenarnya juga tidak tau apa yang Kevin lakukan, dia hanya ingin meredakan kemarahan Restandi.


"Tidak ada yang boleh menyentuh wanitaku". Restandi ingin menandaskan Kevin sudah bertindak di luar batas. Dia tidak berhak lagi atas Arleta.

__ADS_1


"Sabar Rest, tunggu Arleta yang bicara. Aku yakin tidak seburuk itu. Arleta gadis yang baik". Mendengar perkataan Arlan Restandi hanya tersenyum sinis. Dia tau yang di maksud Arlan agar dia tidak meninggalkan Arleta. Apapun yang terjadi. Restandi harus tau dulu apa yang terjadi baru bisa memutuskan.


"Maaf Rest, pertunangan kami jadi moment yang tidak menyenangkan untuk kalian berdua". kata Arlan tulus.


"Itu bukan salah kalian. Ini memang tidak bisa di hindarkan". Restandi tidak ingin Arlan merasa bersalah. Harusnya dia senang dengan pertunangannya. Mereka tidak bisa mengubah kenyataan, Kevin ada di antara mereka. Restandi pamit untuk kembali ke rumah sakit. Dia menunggu Arleta bicara tentang malam itu. Tapi Arleta tidak juga bicara. Arleta sendiri sebenarnya gelisah. Dia tidak tau harus berkata apa pada Restandi. Selain itu dia juga khawatir bertemu Kevin. Arleta sudah berjanji pada Restandi untuk tidak datang lagi ke rumah Revita. Dia sendiri juga takut datang ke sana. Hari ini Arleta meminta Restandi menjemputnya. Dia ingin menengok Sofi. Dokter tampan itu datang sesuai waktu yang di sepakati. Tapi hari ini Restandi tampak dingin sikapnya. Arleta tau sebabnya. Namun dia belum memiliki keberanian untuk bicara. Sofi sudah lebih baik, kakinya sudah bisa di gunakan dan meninggalkan kursi roda. Mereka makan malam bersama seperti biasa. Kali ini karena Sofi tau Arleta akan datang dia membuat banyak makanan yang Arleta suka. Yang membuat Arleta terharu Sofi memasaknya sendiri. Setelah pindah ke ruang keluarga untuk berbincang tidak lama kemudian Restandi memberi isyarat pada Sofi untuk meninggalkan mereka berdua tanpa di ketahui Arleta. Sofi pun beralasan akan mengantarkan kopi untuk Nikolas yang kembali ke ruang kerjanya setelah makan malam. Setelah Sofi pergi Restandi menarik Arleta membawanya ke kamarnya.


"Arleta, kita harus bicara". Restandi langsung bersuara begitu menutup pintu kamarnya. Jantung Arleta langsung berdebar kencang.


"Apa memang harus di ceritakan?". tanya Arleta hati-hati sambil melihat pada Restandi.


"Kamu ga mau aku salah paham kan?". Restandi masih tenang menjawab Arleta. Restandi betul. Bisa saja Restandi dengar dari siapapun itu. Atau Kevin yang mengatakan hal-hal yang tidak benar pada Restandi. Pikir Arleta.


"Baiklah. Tapi berjanjilah kamu jangan marah". Arleta takut Restandi marah.


"Malam itu aku sudah berusaha menghindari Kevin". Arleta terdiam ingin tau reaksi Restandi dulu.


"Aku percaya itu". Restandi menanti Arleta melanjutkan ceritanya.


"Tapi Kevin tetap bisa menarik aku dan membawanya ke kamarnya. Dia mengunci pintunya dan memintaku memberikan hal berharga yang ku miliki". Arleta berusaha mengatur kata-katanya.

__ADS_1


"Dia mengambilnya darimu?". tanya Restandi marah. Matanya menatap sangat tajam pada Arleta. Belum pernah Arleta melihat Restandi semarah ini. Bahkan Arleta belum pernah lihat Restandi marah. Pria itu selalu hangat dan lembut padanya. Arleta jadi ragu menjawab, tiba-tiba terlintas ide di kepalanya. Ada sesuatu yang dia ingin tau.


"Bagaimana kalau.......iya?". tanya Arleta pelan. Restandi terkejut. Arleta melihat kemarahan di matanya. Restandi berbalik menatap keluar jendela tidak mau menatap Arleta. Masih diam beberapa waktu. Arleta tiba-tiba merasa takut. Bagaimana jika pria itu marah dan kecewa lalu meninggalkannya? Tidak, Arleta tidak mau kehilangan pria ini. Sebagian hatinya sudah dia serahkan padanya. Restandi lalu berbalik menghampiri Arleta berbisik di telinganya.


"Aku akan menerimamu apa adanya. Itu bukan salahmu". Restandi memeluk Arleta. Dia yakin Arleta bukan wanita yang mudah menyerahkan dirinya. Dia percaya pada Arleta. Tapi dia tidak percaya pada Kevin. Laki-laki itu pasti tidak akan tinggal diam dan mengambilnya dari Arleta. Di dalam pelukan Restandi Arleta lega luar biasa. Arleta balas memeluk Restandi.


"Rest, tapi itu tidak terjadi. Aku menangis dan bilang pada Kevin aku tidak mau di sentuh olehnya. Dia terkejut tapi bisa terima itu". kata Arleta sambil mengangkat kepalanya menatap Restandi.


"Dia pasti sangat mencintaimu. Hingga berubah pikiran ketika kau menangis". Mata Restandi berubah lembut.


"Dia terluka ketika aku bilang begitu. Aku lalu meninggalkannya dan pulang bersamamu". Arleta suka melihat mata Restandi yang kembali lembut. Restandi mencium kening Arleta.


"Kamu nakal ya. Kamu menguji aku harus di hukum nih". Restandi tidak habis pikir bisa-bisanya gadis itu membohonginya. Restandi mengangkat Arleta dan merebahkan gadis itu di tempat tidurnya.


"Rest kamu mau ngapain?". tanya Arleta terkejut.


"Menghukum kamu, sudah bikin aku marah". Restandi membaringkan tubuhnya di sebelah Arleta dan mulai mencium bibir gadis itu lembut. Arleta merasa hati dan tubuhnya tidak menolak Restandi. Tanpa sadar tangan Arleta mengalungi leher Restandi.


"Arleta, kamu membangunkan yang di bawah sana. Kamu harus tanggung jawab loh". Restandi menghentikan ciumannya, dia merasa mulai bergairah.

__ADS_1


"Hah" Arleta terkejut melepaskan rangkulannya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Kalian sedang apa?". Sofi memekik terkejut melihat Restandi dan Arleta di tempat tidur.


__ADS_2