
Arleta dan Restandi mampir ke sebuah mal. Ada sepatu yang diincar Arleta untuk di gunakan pada pernikahannya. Mereka juga akan makan siang di sana. Restandi sedang membayar sepatu yang Arleta pilih ketika tiba-tiba mata Arleta menangkap sosok yang dia kenal. Rion tampak menggandeng seorang gadis cantik dan seksi. Penampilannya seperti seorang model. Rion menggandengnya ke satu sudut dan membiarkan gadis itu memilih sepatu. Tapi tangan Rion terus mengganggu gadis itu. Tidak heran pikir Arleta, dia tidak terkejut dengan kelakuan pria genit itu.
"Arleta". Restandi memanggil Arleta mengajaknya pergi dari toko itu. Arleta pun menghampiri Restandi, tampaknya Restandi tidak tau kehadiran Rion di toko itu. Arleta memutuskan tidak mengatakannya karena Restandi tidak suka membicarakan adiknya. Keluar dari mal mereka ke rumah sakit karena Restandi ada pertemuan mendadak. Ada kasus yang harus segera di tangani. Arleta merasa dia harus siap karena resikonya menjadi istri seorang dokter. Arleta menunggu di ruang kerja Restandi seorang diri. Monika sedang sibuk. Saat ini rumah sakit memang sibuk dengan banyaknya pasien. Pertemuannya ternyata tidak lama karena Restandi dan Sehun tiba-tiba masuk. Restandi langsung duduk di belakang meja kerjanya. Sehun tampak terkejut melihat Arleta tapi dia mengangguk kecil dan tersenyum sebelum duduk di hadapan Restandi. Mereka pun sibuk membicarakan kasus yang pernah ada. Kesempatan itu di gunakan oleh Arleta untuk mengamati Sehun. Dia memang tampan, pikir Arleta. Pantas saja Monika jatuh cinta padanya. Tapi sepertinya Sehun model yang sama dengan Restandi. Pria yang sibuk dengan pekerjaannya saja. Arleta jadi bersimpati pada Monika. Dia bisa membayangkan bagaimana rasanya memiliki perasaan pada seseorang namun tidak terbalaskan. Seperti Rika, bertahun-tahun menyimpan rasa untuk Restandi tapi akhirnya memutuskan untuk pergi menghilang. Arleta sibuk dengan pikirannya tidak menyadari pembicaraan Restandi dan Sehun telah selesai. Kedua pria itu merasa bingung, Arleta tampak memandang Sehun tapi sepertinya pikiran gadis itu entah kemana.
"Arleta". Restandi memanggilnya. Arleta pun tersadar dari lamunannya dengan terkejut. Di pandangnya Restandi yang menampakan wajah kesal. Sedangkan Sehun jadi senyum-senyum sendiri karena merasa Arleta memperhatikannya.
"Maaf aku tidak dengar". kata Arleta dengan tersipu malu.
"Aku pamit ya masih ada pasien". Sehun bangkit dan berjalan keluar, dia melihat wajah Restandi yang kesal jadi merasa tidak enak.
"Kamu ngapain mandangin Sehun?" tanya Restandi sambil menghampiri Arleta, lalu duduk di sampingnya. Arleta bingung harus menjawab apa tapi dia tidak mau Restandi jadi salah paham.
"Sebenarnya aku sedang berpikir mengapa Monika bisa jatuh cinta sama Sehun?" jawab Arleta.
__ADS_1
"Masa kamu tidak tau". jawab Restandi menyindir, dia yakin Arleta bisa melihat Sehun tampan dan menarik. Dia tidak suka Arleta menatap Sehun.
"Kalau soal tampan , kamu kan juga tampan. Tapi Monika tidak tertarik padamu". kata Arleta lagi dengan jujur. Harusnya kan Monika jatuh cintanya sama Restandi karena sering berhubungan dalam pekerjaan.
"Jadi kamu mau kalau Monika jatuh cinta sama aku?" tanya Restandi sambil tersenyum, kesalnya jadi hilang karena Arleta mengatakan dia tampan.
"Bukan begitu maksud aku". Arleta langsung merengut.
"Rest memangnya Sehun akan tetap sendiri?" tanya Arleta penasaran.
"Dia tidak tertarik punya pasangan apalagi pernikahan. Dia bilang hidupku sekarang menggelikan. Lihat saja nanti dia pasti di jodohkan. Dokter Lukman ayahnya sudah bilang pada papa kalau dia sangat iri, karena sebentar lagi papa akan punya menantu". jelas Restandi. Wah jika Sehun di jodohkan bagaimana nasib Monika. Arleta jadi kasihan pada gadis itu.
"Sudah jangan dipikirkan,.ayo aku antar pulang". Restandi berdiri dan menarik tangan Arleta. Mereka pun berjalan pulang. Sebentar lagi hari pernikahan mereka tiba, ada banyak yang harus mereka pikirkan. Undangan pernikahan sudah di bagikan. Maka para sanak keluarga dari luar negeri dan kota lain mulai berdatangan . Keluarga Gutama dan Kamajaya mulai sibuk. Armando di sibukkan dengan para pamannya yang ingin menyapa sang pewaris keluarga Kamajaya. Mereka mulai bertanya kapan Armando akan menikah. Armando mengelak, dia tidak berterus terang tentang hubungannya dengan Melani karena Mauren belum memberikan restu. Tapi rupanya Mauren berpikiran lain. Hal itu di gunakan Mauren untuk mengendalikan Armando. Siang itu Mauren memanggil Armando untuk bertemu dengannya di suatu tempat. Armando mengira ini pasti urusan keluarga yang datang ingin bertemu dengannya. Maka dia dengan patuh mendatangi Mauren. Tapi Armando terkejut ketika melihat Mauren duduk bersama Nareta, ibu dari Trisia. Apalagi tidak lama kemudian Trisia datang terburu-buru karena panggilan Nareta. Trisia yang melihat Armando langsung terkejut dan wajahnya menjadi pucat.
__ADS_1
"Armando, kamu ngobrol sama Trisia ya". Mauren berkata pada Armando sambil bangkit berdiri.
"Kalau suka sama model ya yang seperti ini". kata Mauren dengan pelan namun penuh penekanan pada putranya. Mauran dan Nareta pun berlalu. Armando langsung mengerti, Mauren menjodohkannya dengan Trisia. Sadar di tinggalkan berdua saja dengan Armando semakin ketakutan. Apalagi mata Armando menatapnya tajam.
"Kamu tau tentang ini?" tanya Armando marah.
"Aku sungguh tidak tau, aku hanya memenuhi panggilan mama untuk datang ke sini". jawab Trisia takut. Tapi Armando melihat kejujuran pada mata Trisia. Jadi ini memang ulah mamanya yang ingin memisahkannya dengan Melani.
"Ya sudah, kamu tenang saja. Aku masih ingin memperjuangkan cintaku. Untuk sementara kita tenang dulu". Armando memutuskan untuk tidak langsung melawan Mauren. Dia akan mencari cara untuk membatalkan keinginan mamanya. Trisia paham maksud Armando. Dia memandang sedih kepergian Armando. Trisia takut menentang mamanya tapi di satu sisi dia takut pada Armando. Peristiwa yang dia lakukan tampaknya menimbulkan luka pada dirinya, yang membuatnya merelakan Armando. Untuk saat ini Trisia mengikuti kata Armando untuk tetap tenang. Mendekati hari pernikahan Arleta semakin gugup, namun Kevin merasa semakin sesak. Akhirnya hari pernikahan tiba, Kevin sadar dirinya sudah tidak punya harapan. Dia datang seorang diri demi melihat Arleta mengenakan gaun pengantin. Arleta sangat cantik. Berjuta penyesalan datang lagi pada Kevin. Seandainya dulu dia menikahi Arleta pasti mereka sudah bahagia. Kevin menghampiri pengantin dia ingin melihat Arleta dari dekat. Ingin menyimpan sosok Arleta dalam gaun pengantin pada ingatannya.
"Kau ingin berfoto bersama kami?" tanya Restandi pada Kevin. Dia seolah tidak perduli pada kegalauan Kevin. Restandi mengumandangkan kemenangannya. Arleta tidak tau harus berkata apa.
"Tidak perlu, aku hanya ingin mengucapkan selamat pada Arleta. Semoga kau bahagia Leta". Mata Kevin hanya tertuju pada Arleta yang tersenyum tulus dan mengangguk kecil.
__ADS_1