
"Adik ipar Armando kan pimpinan rumah sakit besar di Jakarta." Lionel menjelaskan.
"Siapa namanya, mungkin aku kenal." James penasaran.
"Restandi Gutama. Dia mentorku." jawab Larasati bangga.
"Restandi Gutama? Aku punya sepupu jauh di Jakarta. Claudio Stefan. Apa kau kenal?" tanya James pada Larasati.
"Dio? Jadi dia sepupu jauh anda. Claudio Stefan teman seangkatan saya." Larasati tidak menyangka. Pantas wajah Dio agak kebarat-baratan.
"Jadi mentornya sama denganmu. Dia sangat membanggakannya. Kalau tidak salah Restandi itu dokter ternama ya. Sering di undang seminar." James melihat sinar mata kebanggaan yang sama dengan Claudio di mata Larasati.
"Benar. Tapi beliau sudah mengurangi kegiatan seminarnya sejak menjadi pimpinan rumah sakit. Bahkan saat ini sedang menantikan kelahiran anak keduanya." jawab Larasati sambil tersenyum lebar.
"Hidupnya sudah lengkap, tidak seperti kita ya Lio." kata James pada Lionel yang sedang kesal dalam hatinya. Obrolan James dan Larasati begitu lancar dan yang di bicarakan adalah Restandi. Bagaimana Lionel tidak kesal. Tapi mungkin salahnya sendiri mengincar gadis asuhan Restandi.
"Baiklah James, kami pamit dulu. Di mana yang lain?" Lionel bangkit ingin pamit, Larasati pun mengikutinya.
"Mereka sedang makan siang keluar. Aku yang jaga klinik." James menerangkan. Dia ikut bangkit untuk mengantar tamunya. Lionel membawa Larasati pergi dari situ. Dia mengajak Larasati untuk makan siang. Pada saat makan Larasati memperhatikan Lionel. Pria ini lumayan menarik. Terbukti beberapa wanita melihat padanya. Tapi kenapa dia masih sendiri ya. Apa lagi dengan status dan pekerjaannya.
"Lionel benar kau masih sendiri. Atau diam-diam kau punya pacar?" tanya Larasati ingin tau.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. Kau cantik, pintar dan pekerjaanmu bertemu banyak orang. Aku sih memang masih sendiri. Pekerjaanku menuntut banyak waktu. Yang jadi istriku nanti harus bisa mengerti akan kesibukanku. Semoga ada yang mau denganku." Lionel memberi kode.
"Itu pasti, kau baik dan pekerja keras. Kau juga peduli pada orang lain." kata Larasati menuturkan pendapatnya.
__ADS_1
"Memangnya kau mau denganku?" tanya Lionel berharap.
"Wah kalau aku menolakmu berarti aku harus mengecek kesehatanku." kata Larasati bergurau.
"Sungguh kau mau denganku?" tanya Lionel sambil memegang tangan Larasati. Gadis itu terkejut. Ternyata Lionel serius. Di tatapnya mata pria itu. Ada ketulusan dan kesungguhan di sana. Larasati jadi tidak tega.
"Lionel, kita baru kenal." Larasati menyadarkan pria itu.
"Bagaimana kalau kita saling mengenal. Kita lakukan bersama?" tanya Lionel penuh harap.
"Baiklah akan kita lakukan." menurut Larasati tidak ada salahnya untuk mengenal Lionel selama dia di Amerika. Toh tidak ada penolakan dalam hatinya. Lionel bukan pria pemaksa, itu sebabnya Larasati merasa nyaman bersamanya. Larasati tidak pernah tau, dia tengah di giring pada perjodohan. Dan itu oleh mentornya sendiri, demi melepaskan istrinya dari lirikan Lionel. Ketika mereka kembali Zakhary sedang tidur.
"Tuan Zakhary sudah minum obatnya dok, selera makannya juga sudah bagus." lapor sang perawat.
"Sepertinya perkembangannya bagus. Sebentar lagi beliau akan kembali sehat." kata Larasati menilik laporan perkembangan Zakhary. Mendengar itu Lionel jadi khawatir. Waktu Larasati di Amerika semakin sedikit. Semoga saja mereka akan semakin dekat. Lionel sangat ingin memiliki gadis lembut itu. Lionel pun kembali ke kantor. Sore itu Larasati tengah memperhatikan Armando yang belum lama kembali. Dia tengah bermain bersama putrinya Melody. Gadis cilik itu menyembunyikan mainannya ketika ayahnya menutup matanya. Armando selalu dapat menemukan mainan Melody. Rupanya ayah satu ini bersikap licik dengan mengintip ketika Melody tidak tau. Melody menjerit dan tertawa ketika ayahnya dapat menemukan mainannya. Lalu Melody harus mencium pipi Armando karena Armando berhasil menemukan mainan Melody. Larasati tersenyum. Interaksi yang manis pikirnya. Satu hari nanti Larasati ingin memiliki putri kecil seperti Melody. Mungkin dengan Lionel dia bisa punya putri seperti itu. Aduh ko berpikir tentang Lionel. Larasati membuyarkan lamunannya.
"Terima kasih." Larasati pun duduk dan menikmati kue. Tampak Armando yang menggendong Melody sambil menciumi wajah gadis cilik itu hingga gadis itu terkikik kegelian. Armando tampak sangat sayang pada putrinya.
"Sudah Ar jangan di goda lagi. Tadi malam dia tidur sambil tertawa." kata Viona pada Armando.
"Anak Daddy tidur sambil tertawa. Nanti malam tidur sama Daddy ya. Kalau tidur sambil tertawa Daddy pencet hidungnya." Armando menurunkan Melody yang tertawa riang. Melody menghampiri Larasati ingin kenal.
"Hai siapa namamu?" tanya Larasati pura-pura tidak tau.
"Lody." jawab Melody sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kau suka kue?" Larasati menyodorkan kuenya. Melody menggeleng.
"Sayang mommy ambilkan buah kau mau?" tanya Avery pada Melody. Gadis cilik itu mengangguk. Avery pergi mengambil buah.
"Cuci tanganmu dulu ya." Armando menggandeng Melody untuk cuci tangan. Avery kembali membawa sekeranjang kecil anggur merah dan sebuah piring kecil. Armando kembali bersama Melody, dia duduk memperhatikan putrinya yang mulai makan anggur. Melody menyuap satu butir anggur, lalu mengeluarkan bijinya dari mulut dan menaruhnya pada piring kecil. Ketika dia ingin mengusap tangannya pada bajunya, suara Armando berkumandang.
"Tidak boleh." kata Armando, lalu dia memberikan sebuah tisyu pada Melody. Gadis cilik itu mengambilnya. Lalu dia makan lagi dan melakukan hal yang sama seperti tadi.
"Jangan banyak-banyak, nanti perutmu sakit." mata Armando tidak lepas dari putrinya.
"Daddy mau?" tanya putrinya sambil menyodorkan sebuah anggur. Armando mengangguk. Melody pun menyuapinya anggur tadi. Lalu dia menadahkan tangannya pada Armando. Ayahnya mengeluarkan biji anggur dan memberikannya pada Melody.
"Telima kacih." kata Melody lalu meletakkan biji anggur itu pada piring kecil. Melody menyodorkan sebuah tisyu pada Armando. Larasati tersenyum. Putri sekecil itu sudah di ajar tata Krama.
"Avery, lain kali belikan anggur yang tidak ada bijinya. Jadi tangannya tidak kotor." kata Armando lembut pada Avery.
"Tapi dia paling suka jenis anggur itu." kata Avery menjelaskan. Armando penasaran. Dia mengambil anggur hijau tanpa biji. Di letakkannya di depan Melody. Gadis cilik itu tidak mengambilnya. Dia tetap mengambil anggur yang pertama.
"Lihat kan." kata Avery pada Armando. Suaminya tersenyum.
"Kamu ko pilih yang repot sih sayang." Armando mencium kepala Melody dengan sayang. Viona datang.
"Melody sayang, sudah ya. Sebentar lagi mau makan. Ayo cuci tangan sama grandma." kata Viona pada Melody. Gadis cilik itu menurut., dia pergi bersama neneknya. Armando melihat jam pada tangannya.
"Sayang waktu makan masih lama kan. Aku istirahat dulu ya." kata Armando pada Avery.
__ADS_1
"Pergilah." jawab Avery.
"Saya masuk dulu." kata Armando pada Larasati sambil tersenyum.