
"Avery, kamu mau makan sesuatu lagi? Kita akan kembali menjemput Melody." Armando memecah perhatian Melody.
"Aku kenyang. Kita jemput Melody saja." Avery menyimpan ponselnya lalu menghampiri Armando.
"Ayo kita pulang." Armando mulai beranjak pergi. Avery menggandeng tangan Armando santai. Armando merasa tengah di gandeng seorang remaja. Mereka pun kembali ke rumah orangtua Armando. Tiba di sana Melody masih bermain bersama opa dan Omanya. Melody senang melihat Armando dan Avery lagi.
"Ar, kamu tidak mencari pengasuh?" tanya Mauren pada Armando. Hal yang malas Armando pikirkan.
"Aku tau aku harus mencari pengasuh, tapi aku malas melakukannya. Aku akan menitipkan Melody pada Leta di siang hari. Tapi malam hari aku akan mengurus Melody sendiri." Armando sadar Avery akan pulang ke Amerika, maka dia butuh pengasuh. Tapi tinggal bertiga dengan pengasuh Melody di apartemennya Armando merasa tidak nyaman. Mauren bisa menangkap itu.
"Bagaimana kalau kamu pulang saja ke sini. Kamu juga bisa titip Melody pada mama." Mauren sedih Armando menjaga jarak dengannya. Mungkin itu hukuman buatnya karena memaksakan kehendak pada putranya.
"Biar nanti aku pikirkan ma." jawab Armando. Dia tidak mau memperpanjang obrolan itu. Mendengar pembicaraan Armando dan Mauren, Avery jadi merasa sedih. Karena dia di ingatkan akan berpisah dengan Melody. Avery jadi pendiam. Armando melihat rupa Avery yang lesu, dia memutuskan untuk pulang ke apartemen.
__ADS_1
"Avery, ada apa denganmu?" tanya Armando pada Avery di mobil. Melody di pangkuan Avery sudah langsung tertidur karena lelah bermain.
"Aku sedih karena akan berpisah dengan Melody." kata Avery jujur. Armando paham yang di rasakan Avery.
"Kamu tidak mau buka perusahaan di sini, atau melakukan kerja sama di sini?" Armando menawarkan solusi.
"Entahlah, belum terpikir olehku." Avery menjawab lesu. Armando pun tidak bicara lagi. Hanya Avery yang tau apa yang di inginkannya. Mereka tetap diam hingga tiba di apartemen. Avery tidak berminat bicara karena suasana hatinya yang buruk. Jadi dia membawa Melody ke kamar dan tidak keluar lagi. Armando membiarkan hal itu. Avery tetap harus pulang. Suatu saat hal ini memang harus terjadi, Melody tinggal bersamanya. Avery hanya butuh waktu. Di kamarnya karena belum mengantuk Avery melihat-lihat foto yang dia buat tadi. Lalu dia lihat fotonya bersama Armando. Hatinya semakin sedih, kalau pria ini menikah nanti istrinya akan jadi ibu Melody. Usia Melody yang masih kecil ini akan mudah menerima ibu baru nantinya. Hati Avery seperti di tusuk jarum. Avery jadi berharap Armando tidak akan pernah melupakan Melani seumur hidupnya dan tidak akan bisa menerima wanita mana pun. Avery pun mencoba untuk tidur. Besok paginya seperti biasa Avery bangun dan mengurus Melody. Lalu membuat sarapan untuk Armando. Melody bermalas-malasan di tempat bermainnya. Mungkin terbawa oleh perasaan nannynya dia juga jadi tidak bersemangat. Armando keluar kamar dengan setelan kerjanya seperti biasa. Menghampiri Melody, menciumnya lalu menidurkan Melody kembali bersama bonekanya. Armando ingin sarapan. Avery sudah menyiapkan sarapan dan kopi di meja. Tapi gadis itu tetap diam seperti tadi malam. Mereka sarapan dalam diam, tapi mata Armando tetap mengawasi Avery. Gadis itu ada di depannya namun pikirannya entah ada di mana.
"Kamu mau aku bawakan sesuatu atau aku pulang cepat hari ini?" tanya Armando lagi. Kembali Avery menggeleng. Gadis remaja yang tadi malam tampaknya sedang merajuk. Armando pun menghampiri Avery, memeluknya sayang dan mencium kepalanya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Armando memancing. Dia tau perasaan Avery tapi dia ingin gadis itu mengatakannya sendiri. Ternyata Avery tetap diam. Armando menghela napas kesal. Dia pun meraih Melody, mencium putrinya sayang. Entah kenapa hari ini sepertinya dia ingin terus memeluk Melody. Tapi dia harus bekerja. Membawa Melody ke kantor gadis kecil itu tidak akan nyaman. Avery juga lebih leluasa mengurus Melody di rumah.
"Daddy kerja dulu ya sayang. Nanti pulang kita main lagi. Love you baby." Armando meletakan Melody dan memberikan boneka yang di sukainya. Si kecil itu pun sibuk dengan bonekanya. Sebelum keluar Armando masih menatap Avery. Sepertinya ada yang ingin di katakan gadis itu tapi lalu tidak jadi. Armando melangkah dengan kesal. Pelit betul sih suaranya hari ini, Armando menggerutu dalam hati. Tapi Armando mencoba bersabar. Apa yang di rasakan Avery tepat seperti apa yang di rasakan ya dulu. Ketika dia harus meninggalkan Melody di Amerika. Hari itu Armando cukup sibuk. Rencananya untuk menghubungi Arleta saja tidak terlaksana. Dia ingin Arleta mencarikannya pengasuh untuk Melody. Armando sedang mempertimbangkan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Tapi pekerjaan menghalanginya. Entah mengapa perasaannya juga tidak nyaman hari ini. Apa mungkin dia terpengaruh dengan kesedihan Avery. Dia ingin menghibur gadis itu, mungkin pulang bekerja nanti. Armando meminta Arsen memesankan makan siang untuk mereka. Dia malas keluar hari ini. Armando makan sambil bekerja. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang. Tepat seperti yang Armando inginkan. pekerjaannya selesai sore itu.
__ADS_1
"Arsen, kamu pilih saja pekerjaan yang betul-betul penting untuk besok. Nanti selamanya kamu tidak punya istri." kata Armando pada Arsen. Asistennya hanya tersenyum. Arsen penggila kerja. Lebih dari Armando. Itu sebabnya pekerjaan Armando jadi lebih mudah. Armando pun beranjak pulang. Tiba di apartemen Armando bingung karena gelap. Dia pun menyalakan lampu dan memeriksa ke kamar Avery. Apa sih yang di lakukan gadis itu. Apa dia turun ke bawah karena bosan. Di kamar Avery juga tidak ada. Tapi yang menarik perhatian Armando adalah lemari Avery yang sudah kosong. Bisa di pastikan , Avery sudah meninggalkan apartemennya bersama Melody.
"AVERY!!!" seru Armando geram.
Di rumahnya Arleta sedang di rayu oleh Restandi.
"Sayang, kita rencanakan anak kedua ya. Kamu tidak lihat kemarin Melody sangat menggemaskan." Restandi berseri-seri sambil memeluk Arleta.
"Hah, aku hamil lagi?" Rasanya baru saja lega, dia harus menggendutkan perutnya lagi.
"Iya sayang, mudah-mudahan anak kedua kita perempuan. Kita program saja." Restandi mulai menciumi Arleta dengan sayang. Mereka kemarin mampir ke rumah keluarga. Niatnya hanya mampir sebentar tapi ternyata di sana ada Melody. Maka akhirnya Restandi dan Arleta bermain bersama Melody. Sedangkan Frans dan Mauren bermain bersama Alrest. Dari situ Restandi jatuh cinta pada Melody dan ingin punya anak perempuan. Arleta bingung bagaimana menolaknya.
"Tapi nanti kalau sudah punya anak perempuan cukup ya."
__ADS_1