Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
122. Misi Armando


__ADS_3

Avery ada di kantornya saat itu. Armando pun memutuskan mendatangi gadis itu. Avery takut Armando mengambil Melody dan tidak mengijinkannya bertemu Melody lagi. Sehingga Avery melarang siapa pun melihat Melody. Tiba di tempat Armando memasuki ruang Avery tanpa mengetuk pintu. Gadis itu tampak sedang bekerja.


"Avery kita perlu bicara." kata Armando pura-pura marah. Dia kan harus menghukum gadis itu. Avery menatap Armando terkejut.


"Ar, kamu datang." Wajah gadis itu jadi pucat. Sebenarnya Armando tau mengapa Avery melakukan itu, membawa Melody. Gadis itu terlalu sayang pada putrinya. Armando duduk di hadapan Avery sambil menatap tajam pada gadis itu. Avery tidak berani menatap Armando, dia tau jika dia salah. Pulpen di tangannya terjatuh karena dia gugup. Melihat itu Armando menjadi tidak tega. Apa mungkin dia sudah sayang pada gadis itu. Rona muka Armando berubah.


"Kalau mau mengambil anaknya, kau juga harus mengambil ayahnya. Karena kami satu paket." kata Armando lembut. Mendengar itu Avery menatap Armando. Tatapan pria itu sudah berubah, tidak tajam seperti tadi. Avery tengah mencerna perkataan Armando. Dia bukan gadis bodoh. Tapi yang dia perlu tau apakah Armando serius atau bergurau.


"Maksudmu?" tanya Avery berlagak tidak mengerti.


"Kamu sudah mengambil anaknya dan mengabaikan ayahnya. Kau tau maksudku." Armando mengulangi lagi untuk menegaskan apa yang Avery lakukan.


"Maaf." Avery tau dia salah, tapi itu karena dia putus asa.


"Memikirkan jika suatu hari Melody akan punya ibu hatiku sedih. Dia akan melupakanku." Avery berterus terang tentang apa yang membuatnya resah.


"Oleh sebab itu aku datang untuk menawarkan padamu." Armando berdiri dan menghampiri Avery. Kedua tangannya bertumpu pada meja.


"Kau bisa menjadi nanny Melody seumur hidupmu." Armando berbisik di telinga Avery. Mendengar itu Avery berdiri menatap lekat Armando. Menjadi nanny Melody? seumur hidup? Apa Armando serius. Dia harus mengorbankan hidupnya hanya menjadi pengasuh Melody. Armando memang sedang mempermainkan Avery.


"Apa aku punya pilihan lain?" tanya Avery memohon kebaikan Armando karena kendali ada di tangan Armando.


"Lupakan Melody." jawab Armando tegas. Armando menyudutkan Avery.

__ADS_1


"Apa kau akan tetap sendiri?" tanya Avery penasaran.


"Itu bergantung, jika aku bertemu wanita yang tepat mengapa tidak."kata Armando menggoda. Avery kecewa. Dia melangkah ke jendela dan menatap keluar. Hatinya sedih. Jika dia bersedia mengasuh Melody lalu Armando menikah lagi , dia akan tetap kehilangan gadis kecil itu. Avery menjadi gelisah. Armando menghampirinya dan berdiri di sampingnya.


"Atau kau mau menjadi ibunya?" tanya Armando lembut. Avery langsung menatapnya.


"Menjadi ibunya?" tanya Avery tidak percaya. Apa Armando melamarnya.


"Tadi kan sudah ku bilang, jika ingin anaknya harus juga bawa ayahnya." kata Armando jelas.


"Jadi aku harus menikah denganmu?" Avery menegaskan apa yang di tangkapnya dari perkataan Armando.


"Apa itu sulit? Avery ayo kita berdamai. Ini tidak akan ada habisnya. Kau mau berpisah dengan Melody? kau sanggup?" Armando menantang. Tidak, Avery tidak sanggup berpisah dengan Melody. Tapi menikahi Armando, apakah pria itu bisa menerimanya. Dia sih tidak keberatan karena dia suka pada Armando. Avery menatap lekat Armando. Pria itu pun balas menatapnya. Entah apa yang di cari gadis itu dari dirinya. Tiba-tiba Avery mendekati Armando dan menciumnya. Armando terkejut, dia mengambil alih ciuman itu lalu menghentikannya.


"Aku hanya ingin tau apa kau bisa menerimaku karena aku tau kau tidak mencintaiku." Avery menjelaskan tindakannya walau dia malu. Wajahnya memerah. Armando tersenyum. Jadi itu alasan gadis itu menciumnya. Avery akan melakukan pernikahan tanpa cinta. Tentu dia harus tau sejauh apa dia bagi Armando. Kini giliran Armando yang mendekati dan mencium Avery lembut.


"Untuk yang satu itu, aku pasti akan memuaskanmu." bisik Armando meyakinkan Avery. Gadis itu memalingkan wajahnya yang merona. Armando tersenyum. Sepertinya pernikahan ketiga tidak buruk juga.


"Ke sini." Armando merentangkan tangannya meminta Avery masuk dalam pelukannya. Avery pun menurut.


"Meskipun ini ku lakukan karena Melody tapi aku tidak akan mengabaikanmu. Aku akan berusaha mencintaimu. Kesempatan ini hanya untukmu dan satu kali saja. Jadi jika kau menolaknya kau harus melupakan Melody." Armando memeluk Avery hangat. Gadis itu tenggelam dalam pelukan Armando. Ya dia mau menerima tawaran Armando, juga demi Melody. Mereka pun pulang ke rumah karena Armando sudah sangat rindu pada putrinya. Melihat Armando yang memeluk dan menciumi Melody dengan gemas, membuat Avery merasa menyesal sudah memisahkan mereka berdua


"Ar, kamu istirahat dulu ya bersama Melody. Aku mau masak untuk makan malam." kata Avery menyela kegiatan Armando.

__ADS_1


"Belajar jadi calon istri yang baik ya." kata Armando menggoda. Avery tersipu.


"Ar besok kita ke makam Melani ya." Ajak Avery pada Armando. Pria itu mengangguk.


"Dia pasti setuju, karena kamu kakak yang selalu menyayanginya." Armando seperti tau Avery akan meminta ijin pada Melani, untuk menikah dengan Armando. Pria itu menghampiri Avery memeluknya di tangan kirinya sedang tangan kanannya menggendong Melody. Armando akan menciptakan keluarga kecilnya. Besoknya Armando, Avery dan Melody berada di makam Melani. Avery menatap sedih pada makam adiknya. Di belakangnya Armando berdiri sambil menggendong Melody. Gadis kecil itu tentu saja tidak mengerti apa yang terjadi. Tiba-tiba datang seorang pemuda membawa rangkaian mawar putih. Pemuda itu terkejut melihat ada tiga orang berdiri di makam wanita yang ingin di datanginya


"Maaf, aku kira tidak ada orang." kata Rodrigo gugup. Armando tersenyum menatapnya. Berbeda dengan Avery yang tidak menghiraukan pemuda itu. Dia tau Rodrigo yang menabrak Melani.


"Kau ingin menaruh bunga itu kan? Taruh saja istriku akan senang menerimanya." kata Armando ramah pada Rodrigo. Pemuda itu merasa lega. Dia pun menaruh bunga itu dan berdoa sesaat.


"Jangan terpaku di sini, pulanglah. Jalani hidupmu dengan baik." kata Armando ketika Rodrigo sudah selesai.


"Aku sekarang tinggal dan bekerja di sini. Ayahku punya usaha yang bisa aku bantu." kata Rodrigo ramah. Dia menghampiri Armando. Rodrigo tau Avery tidak mau bicara padanya.


"Baguslah. Aku titip istriku kalau begitu. Kami akan pulang ke Indonesia." Armando maksud dia dan Melody.


"Tenang saja, akan aku lakukan. Putrimu sudah besar, boleh aku menggendongnya?" tanya Rodrigo menatap Melody.


"Jika dia mau." kata Armando. Rodrigo mengulurkan tangannya. Tapi Melody malu dan bersembunyi di bahu Armando.


"Dia cantik. Katakan padaku bila butuh sesuatu untuknya." Rodrigo merasa menyesal, Melody harus kehilangan ibunya.


"Aku terima tawaran baikmu. Terima kadih." Armando hanya bersikap sopan dan membuat Rodrigo merasa nyaman.

__ADS_1


__ADS_2