Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
127. Keinginan Avery


__ADS_3

"Aku mau yang di Indonesia. Rasanya lebih pas." Avery menolak.


"Ya nanti di Jakarta kita akan makan nasi goreng." Armando berjanji. Sebentar saja si tampan sudah menghabiskan susunya.


"Sini biar aku yang gendong." Avery bangkit dan mengambil Alrest. Dia membantu bayi itu agar bersendawa. Ada lagi yang mengetuk pintu. Armando membukakan pintu. Tampak Rion dan Trisia, keduanya tersenyum pada Armando.


"Kami akan membawa anak-anak jalan-jalan ke taman." kata Rion. Armando membiarkan mereka masuk.


"Kalian berdua saja membawa mereka?" tanya Armando, dia melihat perut Trisia yang sudah mulai membesar.


"Papa dan mama juga akan ikut." jelas Rion. Armando mengerti. Tidak mungkin mereka berdiam diri di hotel saja. Tentu Nikolas dan Sofi ingin ke luar.


"Jangan lupa nanti siang kita makan bersama." Armando mengingatkan. Dia mengambil Alrest dari Avery yang segera masuk ke kamar. Avery memutuskan untuk mandi. Armando menghampiri Rion dan menyerahkan Alrest. Trisia tampak tertarik dengan roti isi milik Armando.


"Sepertinya enak." kata Trisia menunjuk roti isi di meja.


"Sayang tadi kan kita sudah sarapan." kata Rion pada Trisia. Rion malu pada Armando.


"Makanlah, memang enak." Armando justru membiarkan Trisia menikmati sarapan miliknya. Trisia duduk dan mulai makan roti itu.


"Itu bayinya yang mau." bisik Armando pada Rion. Mendengar itu Rion pun mengalah. Demi anaknya, pikir Rion.

__ADS_1


"Sekarang kau mulai enak makan ya." Armando duduk di hadapan Trisia. Dia tau awal kehamilan Trisia mantannya itu sulit makan. Trisia hanya mengangguk dan tersenyum.


"Dia mulai menebus waktu makannya yang sulit." kata Rion yang menjelaskan istrinya yang sekarang suka makan.


"Itu bagus. Pikirkan bayinya jangan egois." Armando menyodorkan kentang goreng pada Trisia, tapi Trisia menolak.


"Sekarang aku bisa makan apa saja yang kumau." kata Trisia dengan lega.


"Itulah ajaibnya wanita hamil, bisa menyukai makanan yang semula tidak di sukainya." Armando sudah pernah mengalami Melani hamil.


"Kamu juga dulu bikin repot ketika masih di perut." kata Rion pada Alrest. Rion mencubit hidung Alrest hingga bayi itu tertawa lucu.


"Bukan papanya yang repot?" tanya Armando heran.


"Mintalah apa pun yang kau mau padanya." kata Armando pada Trisia. Tangannya menunjuk pada Rion. Trisia mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.


"Aku akan memberikan apa pun untuknya." kata Rion menunjukkan cintanya pada Trisia.


"Ayo sayang, papa dan mama pasti sudah menunggu kita." Rion melihat Trisia sudah selesai makan. Trisia pun bangkit.


"Tunggu." seru Avery dari dalam kamar. Dia keluar dan menghampiri Trisia. Di usapnya perut Trisia lembut.

__ADS_1


"Kamu mau seperti itu? Mudah ko buatnya." kata Armando menggoda istrinya. Avery merasa malu dan lari masuk ke dalam kamar. Mereka tertawa melihat ulah Avery. Rion dan Trisia pun segera membawa anak-anak pergi. Armando mencari Avery ke kamar. Istrinya tengah menyembunyikan wajahnya di bantal. Armando duduk di sebelah Avery.


"Mau buat sekarang?" tanya Armando mesra, tangannya mengusap rambut Avery. Istrinya wangi setelah mandi. Avery segera mencubit Armando.


"Mereka sudah pergi? sepi dong." kata Avery sambil menatap Armando menanti jawaban.


"Buat anak memang harus sepi." Armando kembali menggoda Avery. Istrinya cemberut karena kesal, suaminya tidak putus menggodanya. Armando yang gemas segera mencium Avery. Mereka pun terlarut dalam ciuman panas. Tapi Armando segera mengakhirinya. Dia tidak mau bibir Avery bengkak karena ulahnya. Nanti siang mereka akan makan siang bersama. Dia tidak mau istrinya merasa malu.


"Kau mau tetap di kamar?" tanya Armando lembut. Avery segera menyembunyikan wajahnya di dada Armando. Dia masih malu pada suaminya.


"Nanti siang saja keluarnya. Aku akan ikut ke mana pun kau pergi." jawab Avery, dia merasa nyaman di dada Armando. Rencananya nanti siang Armando akan pergi ke makam Melani. Dia senang jika Avery akan ikut. Di kamar Arleta Restandi tengah memeriksanya.


"Sepertinya memang ada anakku di sini." Restandi mengusap perut Arleta lembut.


"Nanti di Jakarta kita akan periksa lebih lanjut." Restandi memeluk Arleta hangat. Dia bahagia istrinya memberikannya anak lagi.


"Istirahat sebentar ya sayang." Restandi membantu Arleta untuk berbaring. Arleta setuju saja. Mumpung tidak ada anak-anak dia bisa menggunakan waktunya dengan leluasa. Kepalanya juga sedikit pusing. Sebentar saja Arleta sudah terlelap. Restandi meninggalkan Arleta, membuka laptopnya dan bekerja. Pekerjaannya sangat banyak. Demi Armando, Restandi meninggalkan pekerjaannya. Lalu sekarang bergantung Arleta, kapan mereka akan pulang. Restandi tersenyum mengingat istrinya tengah mengandung anaknya lagi. Mudah-mudahan anaknya kali ini perempuan, seperti ke inginkannya. Agar Arleta tidak perlu hamil lagi. Siang itu mereka makan siang bersama di hotel. Atas permintaan Avery mereka semua akan pindah siang itu juga ke rumah keluarga Cody. Avery masih ingin berkumpul di rumahnya karena sebentar lagi rumah itu akan sepi. Maka Keluarga Kamajaya dan keluarga Gutama bersiap untuk pindah ke kediaman Cody.


"Kamu siang ini akan ke mana Ar?" tanya Mauren yang melihat penampilan Armando yang rapih.


"Mau ke makam Melani ma." jawab Armando singkat.

__ADS_1


"Boleh mama ikut Ar?" tanya Mauren hati-hati. Armando mengangguk. Mauren lalu memberi tau Frans kalau mereka akan ikut Armando ke makam Melani. Ternyata Restandi dan Arleta pun ingin ikut. Ini kesempatan yang langka. Rion dan Trisia memilih menjaga anak-anak, dan mereka berangkat ke kediaman Cody. Armando dan rombongan berangkat ke makam Melani. Armando membawa banyak bunga untuk Melani. Di makam Armando diam dan berdiri cukup lama. Tidak ada yang mengganggunya. Mauren yang melihat itu menjadi sedih. Putranya sangat mencintai Melani. Andai dia dulu merestui mereka. Hati Mauren penuh dengan penyesalan. Avery yang tau apa yang di rasakan Armando memeluk pria itu dari belakang. Dia tau selamanya cinta Armando pada Melani tidak akan pernah hilang. Apa lagi dengan perpisahan mereka yang seperti itu. Berbeda jika Melani selingkuh, Armando akan segera melupakan Melani. Tapi Avery tidak cemburu atau marah, karena dia juga menyayangi Melani. Avery lebih dulu mencintai Armando, walau hati pria itu penuh akan cintanya pada Melani. Tapi Armando sudah menempatkan dia pada tempat yang terbaik dalam hidup pria itu. Dan berusaha membuatnya nyaman. Tangan Armando menggenggam tangan Avery yang memeluknya. Menurut Armando tindakan istrinya sangat manis. Armando tidak tau kapan dia dapat datang lagi menengok Melani. Itu sebabnya hatinya sedih. Rodrigo datang dengan membawa mawar putih. Dia memang menanti Armando, dan dia yakin Armando akan datang.


__ADS_2