
"Nanti saya bilang Norman ya, jangan lama-lama biar cepat di lamar." Diana mendengar itu mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.
"Apa perlu nih saya bagikan voucher diskon
untuk para dokter dan perawat di rumah sakit biar klinik ramai?" Restandi ingin menyemangati Arleta.
"Boleh tuh dok, nanti saya buat proposalnya. Mudah-mudahan Arleta setuju." Diana bersemangat mendengarnya. Selama Arleta cuti Diana yang menjalankan klinik. Restandi masuk menyusul Arleta yang lebih dulu masuk.
"Sayang aku berangkat ya ke rumah sakit. Kamu nanti makan siang sama mama kan." Restandi mencium kening Arleta.
"Mungkin nanti aku pulang sama mama ya Rest." Arleta bermaksud hanya sampai siang di klinik.
"Ok, nikmati makan siangmu nanti. Aku tidak bisa ikut, ada janji sama Sehun dan Avery meninjau lokasi mal." kata Restandi yang harus meninggalkan Arleta.
"Hati-hati ya." Arleta mengantar suaminya pergi. Setelah itu dia sibuk dengan Diana tentang perkembangan klinik. Armando sempat melewati klinik Arleta ketika akan bertemu koleganya. Dia melihat mobil Restandi di sana. Pasti ada Arleta, pikirnya. Tidak mungkin Restandi datang ke klinik jika Arleta tidak ada. Armando memutuskan untuk mampir. Armando tiba di klinik ketika mulai banyak pengunjung. Armando langsung menuju ruang Arleta.
"Leta kamu apa kabarnya?" tanya Armando pada adiknya. Arleta berdiri karena terkejut akan kedatangan Armando.
"Kakak tumben datang ke sini. Aku baik-baik saja." jujur Arleta senang melihat Armando.
"Katanya kamu hamil, berapa bulan? papa dan mama sudah tau?"Armando melihat pada perut Arleta.
"Betul ka, ternyata aku hamil. Sekarang masuk empat bulan. Aku belum memberi tau papa dan mama, nanti mungkin kami mampir." jawab Arleta.
"Baik kalau begitu, kami menunggumu di rumah. Leta klinikmu semakin ramai, kamu tidak mau memperbesarnya?" Armando penasaran. Membuat konsumen menanti itu tidak bagus.
__ADS_1
"Memperbesar sih rasanya tidak mungkin, karena lahan terbatas. Tapi kalau buka cabang baru rasanya bagus juga." Armando setuju dengan pikiran Arleta.
"Lalu kapan kau akan melakukannya?" Menurut Armando, Arleta telah lama menundanya.
"Entahlah kak, aku baru enak keluar hari ini. Mungkin karena awal kehamilan." Arleta berkata jujur. Hari ini saja dia hanya sampai siang.
"Mau kakak bantu? Mungkin mencari lokasi yang tepat." Armando ingin membantu adiknya.
"Boleh, kalau kakak bisa Carikan lokasi yang tepat." Arleta setuju.
"Ya sudah, kakak pergi dulu ya. Mau menjemput Avery. Nanti ke rumah ya makan malam." Armando mencium kepala adiknya, lalu beranjak keluar. Melihat adiknya baik-baik saja dia sudah puas. Siang itu Restandi, Sehun, Avery dan Armando mengunjungi mal yang akan mereka garap.
"Bagaimana Avery, kau suka?" tanya Sehun. Mereka berdiri di tengah mal. Beberapa toko telah menarik barangnya karena mal itu tutup. Tapi ada beberapa toko yang telah mendengar mal itu jatuh pada Sehun Aria memilih bertahan. Mereka sudah mendengar tentang Sehun Aria yang membangun hotel dan rumah sakit. Dan sekarang merambah ke mal. Mereka tidak perlu membangun mal tersebut. Tapi hanya melakukan peremajaan dan renovasi. Tapi tetap saja biayanya besar. Karena pengambilalihan mal itu sendiri juga besar.
"Aku suka." jawab Avery. Dari wajahnya sudah terlihat rasa senangnya.
"Kau mabuk ya." kata Restandi. Sudah repot dia menghitung, lalu sekarang dia harus menghitung lagi.
"Ya kau pasti mabuk. Tapi aku suka." Avery memihak pada Sehun.
"Sorry Rest, aku tidak punya hak suara." kata Armando pada Restandi. Otomatis Restandi kalah karena dia sendiri. Sehun memang tidak tanggung-tanggung bekerja.
"Tapi kita pasti butuh dana lagi." kata Avery yang di benarkan yang lain. Restandi menatap Sehun. Pria itu yang harus bertanggung jawab.
"Baik, aku coba mengundang seseorang. Mungkin dia berminat." kata Sehun penuh misteri. Tidak lama datang Ardiansyah Aria, yang memang sudah diundang Sehun.
__ADS_1
"Kenalkan ini kakak sepupuku Ardiansyah Aria, panggil dia Ardi. Biar dia melihat perencanaan yang kubuat, lalu memutuskan apakah akan bergabung dengan kita." Sehun menyerahkan berkasnya pada Ardi. Dia mempelajarinya dengan cermat dan tercengang. Tapi belum berkata apa pun. Ardi melihat dan memikirkannya, sampai akhirnya dia meletakan berkas itu.
"Baiklah, berapa dana yang kalian butuhkan?" tanya Ardi, sekarang yang lain yang tercengang.
"Kalau itu kau bicara dengan Restandi." jawab Sehun. Restandi hanya menghela napas kesal. Tampaknya yang lain sudah sepakat.
"Dan kau Avery bisa bekerja bersama kak Ardi. Dia terbiasa menangani perusahaan yang berantakan." kata Sehun pada Avery. Tentu saja yang di maksud Sehun perusahaan keluarga Aria. Mendengar Avery dan Ardi akan bekerja bersama , Armando jadi panas dingin. Mengapa semakin menyiksa? Tiba di rumah wajah Avery masih bersemangat Armando tau dia tidak bisa membuat Avery kecewa dengan tidak menyetujuinya. Tapi yang jadi pikiran Armando Ardi itu masih bujangan. Lalu waktu yang Avery gunakan untuk bekerja pasti menyita waktu mereka sebagai satu keluarga.
"Avery, bisa kita bicara sebentar?" tanya Armando ketika mereka tengah bersantai. Avery menghampiri Armando.
"Ada apa Ar, kau tampak serius sekali." tanya Avery curiga.
"Duduklah, aku ingin bicara tentang pekerjaanmu. Kau tau pekerjaan yang akan kau lakukan akan menyita waktumu? Aku tidak melarangmu melakukannya. Hanya aku ingin kita berkomitmen." kata Armando lembut. Avery langsung menyadari dia seorang istri kini. Bisa saja Armando melarangnya bekerja, walau Armando tidak begitu.
"Aku tau Ar, aku punya kewajiban lain sekarang. Dan aku sangat terbantu oleh orangtuamu. Tapi aku tidak akan lupa akan janjiku, mengurus dan mencintai Melody." Avery merasa tidak salah dia memutuskan tinggal di rumah itu.
"Jadi cuma ada Melody saja di agendamu. Coba katakan sekarang, bilang siapa saja yang harus diurus." Armando gemas dan menarik Avery ke pangkuannya. Avery tertawa.
"Ya aku juga harus mengurus suami tampanku ini. Aku juga harus memperhatikan orangtuamu, walau mereka yang lebih sering memperhatikanku. Tapi aku janji tidak akan membuatmu kesal." Avery harus membaiki Armando agar ijin kerja tidak di cabut.
"Lalu kapan kau akan memberiku anak?" Armando mulai merayu.
"Nanti kalau kau sudah cinta sama aku." jawab Avery asal. Dia sedang semangat-semangatnya bekerja.
"Bisa saja setelah memberiku anak aku mencintaimu." Armando berdalih.
__ADS_1
"Itu kan belum pasti, nanti aku sudah sibuk-sibuk hamil sembilan bulan yang di sayang bayinya." Avery juga bisa berkelit seperti Armando.