Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
55. Saling Menggoda


__ADS_3

"Rest kamu mau ninggalin aku, kamu jahat." Arleta protes dengan manja. Dia tidak tau itu jam berapa tapi dia masih mengantuk.


"Kamu tidur nyenyak tidak mau bangun, jadi aku biarkan. Aku sudah suruh mbok Jumi bawa sarapan ke sini nanti kamu makan ya. Minum susunya jangan lupa." Restandi menunduk lalu menciumi wajah Arleta.


"Rest aku belum mandi." kata Arleta malu.


"Belum mandi juga tetap istriku kan. Boleh dong suami cium-cium istri." Restandi menghentikan ulahnya dan memperhatikan istrinya. Arleta yang malu menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


"Ayo kita main dokter-dokteran." kata Restandi nakal.


"Kalau main dokter-dokteran kamu di rumah dong." Arleta menampakkan wajahnya menatap Restandi.


"Tidak, kamu aku bawa ke rumah sakit. Kita terusin di sana." Restandi mulai mencium Arleta lagi.


"Aku baru lihat dokter yang membuli pasiennya. Jangan-jangan di rumah sakit kamu begini ya?" Arleta sengaja menuduh Restandi untuk membalas ulahnya.


"Tidak tuh, karena pasienku pria semua." jawab Restandi santai. Arleta terkejut.


"Loh pasien wanitanya mana?" tidak mungkin tidak ada pasien wanita pikir Arleta.

__ADS_1


"Aku serahin sama yang lain." jawab Restandi jujur. Arleta baru tau sebegitunya Restandi menjaga dirinya.


"Aku kerja dulu ya sayang. Kalau mau ke klinik nanti biar Jono yang antar kamu." Restandi berkata manis pada istri kesayangannya.


"Memangnya bawa sendiri tidak boleh?" tanya Arleta bingung.


"Jangan nanti kamu cape kasihan bayi kita." Restandi menjawab tegas. Arleta tidak membantah lagi. Restandi pun meninggalkan Arleta. Di tinggal sendirian Arleta sudah tidak ingin tidur lagi. Dia pun perlahan bangun dan minum susunya. Lalu mandi. Setelah rapih dia baru lihat ternyata mbok Jumi sudah mengantarkan sarapan ke kamarnya. Mbok Jumi membuat bubur ayam atau mungkin Sofi yang membuatnya. Arleta menikmati sarapannya selagi hangat. Setelah selesai sarapan Arleta keluar dari kamar. Saatnya balas dendam pikirnya. Arleta menaiki tangga menuju lantai tiga, ke kamar Rion. Gara-gara Don Juan kebablasan itu Arleta di marahin suaminya. Rion masih tertidur. Arleta dengan teganya membangunkan pria buluk itu. Rion pun terbangun.


"Tadi pagi kakak, sekarang kamu Arleta." kata Rion setelah melihat siapa yang membangunkannya. Rupanya tadi pagi Restandi sudah menemuinya.


"Kamu berhutang penjelasan padaku. Karena yang kamu hubungi itu aku." kata Arleta galak.


"Aku tau kamu pasti butuh penjelasan." Rion menyerah dia pun duduk dan menyenderkan tubuhnya pada kepala tempat tidur.


"Kamu main berapa ronde sampai Paula terkapar begitu?" tanya Arleta meledek Rion.


"Baru tiga ronde dia sudah k.o." kata Rion tidak malu-malu.


"Kamu yang bahagia aku yang menderita. Kamu tidak lihat Restandi tadi malam seperti apa." Arleta kesal.

__ADS_1


"Tadi pagi aku sudah liat ko. Kakak itu walau marahnya tidak teriak-teriak tapi tetap seram loh." kata Rion jujur mengingat wajah marah Restandi tadi pagi.


"Trus Restandi bilang apa?" Arleta penasaran.


"Kata kakak aku tidak boleh keluar hari ini. Sudah aku mau tidur lagi." Rion pun masuk kembali ke dalam selimutnya. Arleta yang sudah kesal akan meninggalkan adik iparnya yang Playboy itu, ketika di lihatnya bubur ayam untuk Rion di meja. Di ambilnya bubuk lada, lalu di taburnya pada bubur Rion. Arleta mengaduknya perlahan. Setelah itu dia kembali menghampiri Rion.


"Rion bangun. Makan buburmu nanti dingin." Arleta lalu melangkah keluar kamar ketika di lihatnya Rion tampak bangun. Dengan perlahan Arleta menuruni tangga, ketika tiba di anak tangga terakhir terdengar teriakan Rion menyebut namanya. Arleta tidak perduli tetap menuruni tangga ke lantai satu. Dia memasuki ruang makan, di sana ada Sofi. Melihat Arleta datang Sofi sangat senang.


"Arleta kamu mau ke klinik sayang. Mama bawakan bekal ya." Sofi menyiapkan makan siang untuk Arleta.


"Arleta mau ke klinik ma, tapi malas sendirian. Mama ikut ya, nanti mama perawatan saja di sana." Arleta merayu Sofi. Entah mengapa Arleta malas melakukan rutinitasnya sendirian. Sofi menatap Arleta sejenak.


"Baiklah, mama siap-siap sebentar ya." Sofi mengalah. Arleta pun melanjutkan menyiapkan bekal makan siang untuk mereka berdua. Sebenarnya dia lebih suka seperti ini. Dia suka masakan Sofi karena mertuanya pandai memasak. Arleta teringat pada Restandi. Dia pun menghubungi suaminya.


"Halo sayang, kamu jadi ke klinik?" tanya Restandi yang langsung menjawab panggilan Arleta.


"Jadi ini lagi di siapin bekal sama mama." jawab Arleta bangga.


"Ko kamu saja yang di bawakan bekal. Aku juga dong." Restandi protes. Dia malas keluar ruang kerjanya untuk makan siang.

__ADS_1


"Oh kamu juga mau. Baiklah sebentar lagi akan ada seorang wanita cantik kesayanganmu mengantar makan siang penuh cinta." kata Arleta sambil tersenyum geli.


"Ok sayang. Aku tunggu loh bekal sama pengantarnya." Restandi jadi semangat. Dia membayangkan Arleta akan datang membawa bekal untuknya. Hari ini sebenarnya dia sangat kesal. Restandi menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki siapa yang memberi obat pada Rion. Memikirkan ulah adiknya itu dia jadi kesal. Restandi juga ingin tau apa saja yang sudah di lakukan adiknya di luar sana. Laporan yang masuk ternyata Rion jarang pergi ke pub, bar atau night club'. Jika pergi itu pun karena undangan saja. Rion juga bukan tipe pria yang suka bermain dengan wanita sembarangan. Hanya saja kekasihnya sering berganti-ganti. Namun tidak semua kekasihnya itu di tidurinya. Mereka dari kalangan model dan artis. Dan merekalah yang mendekati Rion. Seperti Paula, dia tertarik dan mendekati Rion. Namun Rion tidak menanggapinya. Malam itu Paula juga yang menaruh obat pada minuman Rion. Ingin menjebak Rion.


__ADS_2