Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
80. Yang Awal Dan Akhir


__ADS_3

Katanya cinta bisa membuat kita ikut merasakan kesedihan orang yang kita cintai. Ingin Trisia melakukan segalanya agar kesedihan Armando hilang, tapi apalah arti dirinya. Apalagi dengan hubungannya bersama Rion. Trisia semakin merasa dirinya tidak berarti bagi Armando.


"Aku sudah selesai, cepatlah istirahat." kata Armando yang bangkit dan menyentuh kepala Trisia. Armando lalu masuk ke kamarnya untuk bekerja lagi. Trisia yang tersadar dari lamunannya segera membereskan meja makan dan masuk ke kamarnya. Dia menyiapkan baju yang akan di bawanya besok. Mereka berangkat ke bandara di antar Arsen. Di pesawat mereka duduk berdampingan.


"Kamu tidur saja, perjalanan kita masih lama." kata Armando. Dia membaca beberapa berkas yang di bawanya. Dari pada bosan Trisia pun menonton. Kadang dia tertawa karena lucu. Armando ikut menonton jika bosan. Trisia melihat beberapa pramugari melirik Armando dengan penuh minat. Trisia jadi kesal. Aku saja istrinya telanjang juga tidak di lirik mbak, apa lagi situ. kata Trisia dalam hati. Karena kesal Trisia pun berulah.


"Sayang coba ini, enak loh." Trisia menyodorkan sendoknya pada Armando. Melihat ulah Trisia Armando bingung tapi dia mengikuti permintaan Trisia.


"Kamu kenapa sih?" tanya Armando pada Trisia. Sudah lama Trisia tidak memanggilnya sayang dan tingkahnya semanis madu.

__ADS_1


"Aku kesal pramugari itu liatin kamu terus." Trisia berbisik. Armando tersenyum. Ternyata....Wanita kadang seperti anak kecil. Setelah makan Trisia mengantuk dan jatuh tertidur. Armando menarik kepala Trisia agar bersandar pada bahunya. Dia merapikan anak rambut Trisia yang berantakan. Tindakannya ini membuat pramugari tadi kesal. Armando menatap wajah Trisia. Cantik, pikirnya. Istri sempurna pilihan mamanya. Tapi dia tidak bisa mencintainya, maka dia harus melepaskannya. Agar gadis itu bahagia. Armando mencium kepala Trisia dengan sayang. Mungkin ini perjalanan mereka keluar negeri yang pertama dan terakhir sebagai sepasang suami istri. Mereka telah tiba di Amerika dan menuju ke sebuah hotel mewah. Armando tidak mau membawa Trisia menginap di rumah keluarga Cody. Karena status Trisia adalah istri ke duanya. Armando khawatir Trisia akan menderita bertemu Avery. Arsen telah memesan dua kamar untuk mereka. Armando bertanya apakah Trisia ingin makan malam di kamar atau ingin keluar. Trisia memilih ke luar. Mereka istirahat sebentar di hotel, setelah itu Armando membawa Trisia makan di luar. Restauran yang di tuju tidak jauh dari hotel, mereka cukup jalan kaki. Trisia menggandeng Armando, seperti dulu saat Armando belum mengenal Melani. Armando membiarkan tingkah Trisia, sekali lagi karena Trisia istrinya. Wajah Armando tampak murung. Karena ternyata hotel yang mereka tempati adalah hotel di mana dulu Armando menginap ketika mencari Melani. Begitu juga dengan Restauran yang mereka datangi, tempat di mana Armando dan Arsen makan. Armando tau Melani waktu itu berada di kediaman Cody. Tapi Avery menghalanginya untuk bertemu Melani. Kevinlah yang mempertemukannya dengan Melani. Melihat kemurungan Armando, walau Trisia tidak tau tapi dia yakin pasti Armando teringat Melani. Kembali ke hotel Trisia menggandeng Armando lagi. Mereka berjalan santai karena habis makan. Karena di sibukkan syuting bersantai di luar negeri seperti ini terasa menyenangkan untuk Trisia. Dia menikmati saat-saat ini dengan baik. Karena di masa di masa depan tidak mungkin terjadi lagi. Setibanya di hotel Trisia merasa sendirian, karena setelah masuk ke dalam kamarnya Armando tidak akan muncul lagi. Hingga esok pagi. Seperti tujuan mereka ke Amerika, yaitu makam Melani. Saat ini Trisia berada di depan makam itu. Trisia mengeluarkan sepucuk surat, di bakarnya di depan makam. Surat yang Trisia buat untuk Melani. Armando melihat itu diam saja, karena dia sudah tau isi surat itu. Malam sebelum mereka berangkat Armando keluar dari kamarnya karena lelah bekerja dan akan mengambil air minum. Dia melihat kamar Trisia yang masih menyala lampunya. Perlahan Armando membuka pintunya ingin tau apakah Trisia sudah tidur. Ternyata Trisia tertidur setelah menulis surat itu. Armando membacanya.


Melani, aku minta maaf atas semua kesalahanku. Aku sudah membuatmu susah dengan menjadi istri kedua. Tapi perlu kamu tau, dari sejak kamu belum hadir, kamu datang dan kamu pergi aku tetap kalah. Selamanya hati Armando tetap tidak ada padaku. Aku sudah berupaya sampai pada batasku, tapi aku gagal. Harusnya aku yang pergi bukan kamu. Andai ada yang bisa kulakukan untukmu, pasti akan aku lakukan. Sekali lagi maafkan aku.


Armando tersentuh membaca surat itu. Tapi dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun tentang surat itu. Dia pun meninggalkan kamar Trisia tanpa Trisia tau. Setelah membakar surat itu air mata Trisia mengalir.


"Aku tidak bisa menahannya." kata Trisia dengan sedih. Armando merangkulnya lembut. Lucu, pikir Trisia. Harusnya dia yang menghibur Armando, tapi ini malah Armando yang menghiburnya. Hati Armando begitu kuat. Trisia sendiri merasa tidak sanggup jika itu terjadi padanya. Setelah dari makam, Armando mengajak Trisia ke rumah besar Cody. Dia sudah memberi kabar pada Avery jika dia ingin menengok Melody. Avery sudah menantinya, tapi yang tidak di sangkanya Armando datang bersama Trisia.


"Itu putriku, Melody." kata Armando pada Trisia. Dia menunjuk pada bayi yang di gendong Avery. Trisia terpana. Dia kira bayi itu tidak selamat.

__ADS_1


"Boleh aku menggendongnya?" tanya Trisia pada Armando. Pria itu mengangguk. Avery menyerahkan Melody pada Trisia dengan muka masam. Trisia menggendong Melody dengan penuh hari.


"Cantik dan mungil. Apakah kita akan membawanya pulang?" tanya Trisia pada Armando penuh harap. Dia mau mengasuh bayi mungil itu. Tubuh Avery menegang. Dia akan protes jika Armando mengijinkan Trisia membawanya. Tapi Armando menggelengkan kepalanya. Trisia kecewa. Avery lega. Armando berpikir Trisia akan semakin betah di sampingnya jika dia membawa Melody pulang. Armando tidak mau itu terjadi.


"Berikan pada Avery. Kau akan merawat bayimu sendiri nanti." kata Armando lembut. Trisia menurut. Dia paham, Armando tidak mau membebaninya dengan merawat putrinya. Tapi Avery salah paham. Dia melihat Armando sedang menguatkan hubungannya dengan istri keduanya. Setelah adiknya meninggal. Dan Armando akan punya anak dengan Trisia.


"Ayo kita kembali." kata Armando pada Trisia. Sikap Armando yang lembut pada Trisia membuat Avery kesal. "Avery, terima kasih waktumu. Kami pergi." kata Armando pada Avery. Dia pun melangkah pergi.


"Terima kasih." kata Trisia pada Avery, lalu menyusul Armando. Trisia menggandeng tangan Armando. Hal ini di lakukannya karena rasa simpatinya pada Armando. Pria itu harus berpisah dengan putrinya. Tapi sekali lagi Avery salah paham. Dia melihat hubungan Armando dan Trisia membaik.

__ADS_1


__ADS_2