Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
20. Kevin


__ADS_3

"Kau jijik padaku?". tanya Kevin lagi. Arleta menggeleng. Kevin juga tidak melihat rasa jijik pada mata Arleta. Hanya kesedihan.


"Aku bukan milikmu lagi. Kau tidak berhak memintanya". Arleta berkata dengan keteguhan hatinya.


"Leta". Kevin ingin melunakan hati Arleta tapi ada yang mengetuk pintunya.


"Kevin, buka pintunya". suara Riana dengan panik tangannya terus mengetuk pintu. Hal itu menyadarkan mereka berdua yang segera bangkit berdiri. Arleta segera merapikan baju dan rambutnya. Kevin hanya diam dan menatap Arleta sedih. Hatinya hancur mendengar perkataan Arleta tadi. Dia tidak berhak lagi atas Arleta. Gadis itu tidak mau dia menyentuhnya. Arleta segera membuka kunci dan pintu kamar Kevin. Di depan pintu tampak Riana menatapnya dengan cemas.


"Kamu ga apa sayang?". tanya Riana melihat Arleta habis menangis.


"Aku ga apa ma". jawab Arleta pelan. Dia tidak mau membuat Riana marah atau khawatir.


"Restandi sudah datang di depan". kata Riana lagi.


"Leta pulang dulu ya ma". Arleta memeluk Riana sebentar lalu lari keluar mencari Restandi. Riana menatap Kevin yang masih diam sambil menatap kepergian Arleta.


"Apa yang kamu lakukan Kevin?". tanya Riana marah. Kevin mengira tindakannya membawa Arleta ke kamarnya tidak ada yang melihat. Namun ternyata dia salah. Ada yang melihatnya dan melaporkannya pada Riana. Jelas wanita itu panik dan segera ke kamar Kevin. Tapi pintunya di kunci.

__ADS_1


"Aku hanya berusaha mendapatkan Leta kembali. Tapi sia-sia". Kevin tidak perduli jika Riana bertambah marah. Hatinya sangat berantakan sekarang. Riana melihat tatapan putranya yang terluka jadi merasa kasihan. Dihampirinya Kevin dan di peluknya hangat. "Kamu harus bisa menerima ini. Apa yang kita lakukan harus kita rasakan akibatnya di kemudian hari. Terkadang sesuatu yang berharga dalam hidup kita baru kita sadari setelah kita kehilangan. Sabar ya nak, kamu istirahat saja". Riana meninggalkan Kevin di kamar. Kevin memang tidak keluar lagi dari kamarnya malam itu.


Restandi sudah turun dari mobilnya dan hendak masuk ke dalam ketika Arleta berlari keluar. Arleta langsung masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun. Restandi pun dalam diam masuk kembali ke dalam mobil dan menjalankannya perlahan meninggalkan rumah keluarga Monta. Restandi tau Arleta habis menangis, ada sisa airmata di wajah gafis itu. Restandi ingin Arleta tenang dulu walau dia sangat ingin tau apa yang terjadi dengan Arleta. Hanya ada satu nama yang ada dalam hatinya. Kevin. Restandi sebetulnya sangat marah mengingat nama itu yang hanya bisa membuat Arleta sedih. Tapi dia menahan diri, khawatir Arleta tidak mau bercerita nantinya.


"Arleta kamu kenapa? Sahabatmu tunangan ko malah sedih". tanya Restandi lembut. Arleta jadi tersadar dari lamunannya. Arleta belum bisa tenang karena semua yang di lakukan Kevin. Dia tidak menyangka Kevin akan berbuat seperti itu. Untung Riana mengetuk pintu. Arleta tidak dapat membayangkan jika Kevin nekat dengan rencananya. Bagaimana dia bisa menghadapi Restandi? Sekarang saja dia bingung harus jawab apa. Restandi menghentikan mobilnya.


"Arleta, kalau kau tetap diam seperti itu aku jadi berpikir yang macam-macam". Restandi menegur Arleta. Suaranya menunjukan dia mulai marah. Arleta memeluk Restandi. Lebih tepatnya mencari perlindungan pada Restandi.


"Aku sedih, bingung, kaget. Tapi aku belum bisa cerita pafamu saat ini". Arleta berkata pelan. Restandi balas memeluk Arleta. Kemarahannya langsung surut melihat Arleta seperti itu.


"Baiklah, aku akan menunggumu siap untuk bicara". Restandi tetap ingin Arleta mengatakan apa yang sudah terjadi. Kapan pun itu. Restandi mencium kepala Arleta yang masih bersandar di dadanya. Tangan Restandi mengusap lembut punggung Arleta berusaha menenangkan gadis itu. Setelah merasa tenang Arleta duduk kembali pada posisinya. Restandi menjalankan mobilnya. Dia berhenti di sebuah cafe.


"Minum ini". Restandi menyodorkan coklat hangat pada Atleta. Dilihatnya Restandi hanya membeli satu. Hanya untuknya. Arleta pun mengambil cup minuman tersebut dan meminumnya.


"Merasa lebih baik?". tanya Restandi lembut dan masih terus menatapnya. Arleta mengangguk. Restandi pun tersenyum dan menjalankan mobilnya kembali mengantar Arleta pulang. Di perjalanan mereka tidak bicara, Restandi membiarkan Arleta menikmati minumannya dan menata hati dan pikirannya. Di pasangnya musik ringan agar Arleta merasa lebih nyaman. Malam itu Arleta tidak dapat memejamkan matanya. Dia masih teringat pada apa yang dia alami. Sekarang Arleta tau bahwa dia tidak bisa menerima Kevin lagi. Hatinya menolak bila Kevin menyentuhnya. Arleta juga merasa bersalah pada Restandi. Tadi pria itu hanya mengantarnya pulang tanpa berkata apa-apa lagi. Arleta tidak mungkin menceritakannya pada Restandi. Tunangannya itu bisa marah besar. Arleta takut terjadi keributan antara Restandi dan Kevin. Tidak mengatakan juga salah. Restandi bisa salah paham jadinya. Arleta jadi gelisah. Sekarang pikiran Arleta jadi berbalik pada Restandi. Di cobanya mengontak Restandi. Pria itu tidak lama langsung menjawabnya.


'Arleta ada apa?". tanya Restandi lembut.

__ADS_1


"Aku ga bisa tidur". jawab Arleta. Restandi diam sejenak.


"Mau aku ke sana? Atau kamu mau aku jemput ke sini?". Restandi memberi pilihan.


"Tidak perlu. Aku mau dengar suara kamu saja". kata Arleta manja. Restandi tertawa pelan.


"Suara aku mahal loh". Restandi sok jual mahal. Padahal dia sebenarnya juga sedang memikirkan Arleta. Restandi sampai melewatkan makan malam karena rasa ingin taunya tentang apa yang terjadi pada Arleta.


"Nanti aku pinjam sama mama buat bayar kamu. Atau aku jual mobilku biar aku bisa alasan ke kamu untuk antar jemput aku". Arleta mengungkapkan idenya.


"Ga perlu di jual mobilnya. Aku mau ko antar jemput kamu. Asal bayarnya pake....". Restandi sengaja tidak langsung mengatakan.


"Sendal jepit. Di sini banyak ko". Jawab Arleta cepat.


"Kamu mau punya suami yang bisa di bayar pake sendal jepit?". Restandi berlagak terkejut.


"Khusus aku doang. Yang lain harus bayar pakai dolar. Dan dolarnya buat aku". Restandi tertawa mendengar aturan Arleta. Tapi dia tau calon istrinya bukan wanita yang cinta uang.

__ADS_1


"Arleta, jangan datang kerumah itu lagi. Aku tidak suka melihatmu sedih seperti itu". Restandi tiba-tiba berkata serius.


"Iya". Arleta menjawab patuh. Mereka masih berbincang sebentar sebelum akhirnya Arleta pamit karena dia mulai mengantuk. Hanya pada saat bicara debgan Arleta saja mata dan suara Restandi lembut. Ketika sudah memutus kontak wajah Restandi berubah keruh. Restandi yakin pasti yang terjadi serius hingga mengguncang hati Arleta. Seseorang harus menjelaskan.


__ADS_2