Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
91. Baby Alrest


__ADS_3

Sehun mendapat kabar dari ayahnya ketika di sedang memacu gairahnya. Dia berharap agar segera menyusul Restandi, punya bayi. Bunga dan tanda ucapan berdatangan. Rion pun ikut bahagia menatap keponakannya yang tampan. Armando ketika di beri kabar tengah di Amerika, menengok Melody. Dia pun segera pulang. Melihat perjuangan istrinya melahirkan Restandi jadi pelit. Dia membatasi waktu berkunjung bagi Arleta. Hanya keluarga dan teman dekat yang dapat bertemu Arleta. Termasuk Revita dan Arlan.


"Bayimu tampan Leta." puji Revita, dia menatap bayi laki-laki itu dengan gemas.


"Kapan kalian menyusul?" tanya Arleta.


"Kami belum berani punya bayi." kata Arlan jujur.


"Loh kenapa?" tanya Arleta heran.


"Masih banyak pengeluaran, belum sanggup kalau punya anak." jawab Revita. Mereka benar-benar hidup sederhana, tidak mengandalkan keluarga Revita yang kaya. Arleta maklum mendengar alasan itu. Restandi datang membawa makanan.


"Buat Arleta makan?" tanya Revita.


"Bukan, buat kalian. Belum makan kan, pulang kerja." kata Restandi sambil menyodorkan makanan itu pada Revita. Kedua temannya itu jadi terharu.


"Kamu sendiri mana?" tanya Arlan pada Restandi.


"Sebentar di bawakan dari rumah." jawab Restandi cepat. Tidak lama Rion datang.


"Kak, ini makan malammu. Mama baru pulang, jadi agak malam baru ke sini." Rion berkata pada Restandi sambil menyerahkan box makan milik Restandi. Rion lalu menghampiri box bayi.


"Hai baby, uncle ganteng datang nih. Kamu musti sayang ya sama uncle. Gini-gini uncle yang nganter kamu di periksa loh. Kemaren kamu yang mau keluar uncle yang sibuk." kata Rion sambil menggendong keponakannya dengan sayang.


"Sibuk marahin Jono biar mobilnya terbang kan." kata Arleta mengingat peristiwa di bawanya dia ke rumah sakit.

__ADS_1


"Jono lelet sih bawa mobilnya. Masak ikutin ibu-ibu yang bawa motor. Kasih seninya ke kiri beloknya ke kanan. Atau kasih sen tapi tidak belok-belok." kata Rion. Arleta tersenyum mendengar cerita Jono tentang ulah Rion di depan ruang bersalin. Restandi tersenyum saja melihat ulah adiknya. Dia sibuk dengan makan malamnya. Makan malam untuk Arleta pun datang. Restandi meladeni Arleta makan.


"Kamu cuti Rest?" tanya Arlan ingin tau.


"Selama Arleta di rumah sakit belum. Aku bisa sambil jaga Arleta." jawab Restandi. Dia bisa membawa pekerjaannya di ruang rawat Arleta. Agak malam Sofi dan Nikolas datang, begitu juga orangtua Arleta. Arlan dan Revita pun undur diri.


"Sayang, mama senang kamu bisa melahirkan dengan lancar." kata Sofi sambil memeluk Arleta.


"Kami bangga melihat perjuanganmu untuk melahirkan secara normal." Nikolas mencium kepala Arleta. Mauren melihat itu dengan penuh haru. Putrinya di sayang mertuanya. Tidak salah dia menerima keinginan Sofi untuk menjodohkan Arleta dan Restandi.


"Armando ke mana ya?" tanya Mauren heran. Restandi dan Arleta berpandangan. Restandi sebenarnya sudah melihat kebenaran kata-kata Arleta. Sejak pertemuan terakhir bersama Trisia pada acara makan malam keluarga, Armando tidak pernah muncul lagi di rumah. Dia menghindari Mauren. Frans Kamajaya ayahnya masih suka bertemu Armando karena urusan pekerjaan.


"Kakak pasti sibuk ma." kata Arleta membela Armando.


"Kamu tau pa Armando sibuk apa?" tanya Mauren masih penasaran.


"Arleta sayang, nama anakmu siapa?" tanya Frans sambil menatap bayi mungil yang sedang tidur.


"Restandi yang memberi nama." jawab Arleta, dia merasa miris melihat orang tuanya bahagia mendapat cucu. Padahal ini cucu kedua mereka.


"Alrest Putra Gutama." kata Restandi dengan senyum.


"Wah kamu tidak repot-repot mencari nama ya nak." kata Sofi pada Restandi.


"Wajar dong, ini kan buah cinta mereka. Kalau mama boleh tau, kalian ingin punya anak berapa?" tanya Mauren. Arleta langsung pucat.

__ADS_1


"Belum kami pikirkan ma. Biar Arleta sehat dulu." Restandi teringat bagaimana istrinya kesakitan. Jawaban Restandi membuat Mauren senang. Menantunya sayang dan perhatian pada istrinya. Mereka pun tidak lama mengganggu Arleta. Frans dan Mauren pamit pulang. Nikolas dan Sofi juga meninggalkan Arleta. Mereka baru pulang dari luar kota. Restandi mengantar mereka keluar.


"Kak, aku mau pulang dulu. Besok kakak mau di bawakan apa?" tanya Rion yang menghampiri Restandi. Dia belum pulang, tapi sungkan menunggu di dalam karena keberadaan orang tua Arleta. Tentu saja itu karena Trisia. Restandi berpikir dengan pertanyaan Rion tadi. Bajunya sudah di bawakan Jono tadi. Restandi tidak akan pulang.


"Bawa kue kesukaan Arleta saja, biar dia senang. Arleta tidak begitu suka makanan rumah sakit." kata Restandi kemudian.


"Aku bawakan makanan dari rumah ya, sekalian buat kakak." kata Rion memberi usul.


"Kamu tidak syuting?" tanya Restandi heran.


"Itu sih gampang. Yang penting keponakan aku sehat." kata Rion santai.


"Yang kamu bawakan makanan ibunya bukan anaknya." Restandi menyanggah Rion.


"Kalau ibunya sehat, anaknya juga sehat. Sudah aku pulang." Rion melangkah pergi. Seharian ini dia di rumah sakit. Padahal kehadirannya di rumah sakit menarik perhatian staf maupun pengunjung rumah sakit. Tadi Rion sengaja pulang dulu sebentar untuk mandi, ganti baju dan membawakan bekal untuk Restandi. Melihat Rion yang melangkah pergi Restandi tersenyum kecil. Adiknya ada gunanya juga bagi keluarga. Restandi kembali ke ruangan Arleta. Istrinya tampak lelah dan mengantuk. Restandi menghampirinya.


"Terima kasih ya sayang, anak kita sehat dan tampan. Kamu istirahat ya, biar aku yang jaga kalian." Restandi berkata lembut. Di ciumnya pipi Arleta penuh cinta.


"Kamu tidak pulang?" tanya Arleta, suaminya juga pasti lelah.


"Untuk apa di rumah sendirian?" kata Restandi. Dia membereskan bingkisan dan makanan yang di bawa untuk Arleta. Begitu banyak parcel buah dan juga bunga memenuhi ruangan. Sampai malam masih ada saja suster yang mengantarkan parcel atau bunga ke ruangan Arleta. Restandi merasa itu mengganggu istrinya. Dia ingat suster Eva yang tinggal di mess di belakang rumah sakit. Restabdi pun memanggil Eva.


"Kamu mau bantu saya menjaga Arleta selama di rumah sakit?" tanya Restandi di ruang kerjanya.


"Mau dok, mulai kapan?" tanya Eva semangat. Dia suka pada istri bosnya itu, tidak sombong.

__ADS_1


"Hari ini bisa? saya tidak mau ada perawat yang mondar-mandir ke ruangan istri saya. Kasihan dia tidak bisa istirahat." kata Restandi menjelaskan mengapa dia butuh Eva.


"Baik dok. sekarang saya lakukan."


__ADS_2