Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
161. Powerman


__ADS_3

Lalu apakah Larasati bisa menyentuh Lionel? Larasati jadi penasaran. Larasati tidak sadar, dia bukan hanya sudah menyentuh Lionel. Tapi sudah memikat pria itu. Ketertarikan Lionel padanya semakin lama semakin besar. Pantas saja tadi mereka jadi pusat perhatian. Ternyata selama ini Lionel tidak pernah terlihat berdua dengan wanita selain dengan Sherry. Itu pun karena pekerjaan. Mengetahui itu Larasati jadi panas dingin. Artikel itu tidak panjang. Larasati segera beralih pada artikel lain, walau pikirannya masih terpaku pada itu. Lionel pun kembali dari rapat.


"Lara kita makan yuk, kau sudah lapar?" tanya Lionel yang menghampirinya. Larasati melihat jam di tangannya. Sudah waktu makan siang. Meski dia belum lapar tapi Lionel harus makan.


"Ayo kita makan." Larasati bangkit berdiri. Lionel menggandengnya keluar.


"Kau ingin makan apa?" tanya Lionel perhatian.


"Apa saja." jawab Larasati cepat. Dia jadi merasa kecil di sebelah Lionel.


"Loh ko apa saja. Kamu bintangnya hari ini. Boleh minta apa saja." Lionel tersenyum sambil menatapnya. Mereka melewati cafetaria yang cukup besar di kantor itu.


"Ini tempat makan yang di sediakan untuk karyawan." kata Lionel menjelaskan.


"Kita makan di sini saja." kata Larasati. Tempat ini sangat bagus untuk tempat makan para karyawan. Mungkin karena perusahaan besar, tempat makan karyawannya juga mewah.


"Kau mau pesan apa?" tanya Lionel. Mereka sudah duduk manis.


"Sama denganmu." jawab Larasati, dia masih mengamati tempat itu. Para staf yang ada di sana memperhatikan mereka.


"Kenapa aku jadi merasa di istimewa kan ya." kata Lionel sambil tersenyum.


"Khusus hari ini saja." Larasati berdalih. Dia berusaha untuk tidak merasa kecil di samping Lionel.


"Wah ini kesempatan yang tidak boleh di lewatkan."Lionel jadi semangat. Dia memesan makanan untuk mereka berdua. Tidak lama Armando dan Avery datang menghampiri.


"Tadinya kami akan makan di luar. Tapi melihat kalian di sini kami mau ikut bergabung." Armando berkata sambil tersenyum. Dia tau Lionel ingin berdua saja. Tapi dia ingin mengganggu pria itu. Lionel tidak punya pilihan lain. Armando dan Avery memesan makanan. Sedangkan makanan untuk Lionel dan Larasati sudah datang.

__ADS_1


"Menu kalian sama. Apa dia memaksamu?" tanya Armando pada Larasati.


"Ini kan hanya bagian kecil dari penyesuaian. Lain kali baju kami yang sama." Lionel yang menjawab Armando. Sudah mengganggu suasana, komentar lagi. Armando mengulum senyum. Sudah pusing dengan pekerjaan, ada yang bisa jadi hiburan. Larasati melihat dengan kedatangan Armando dan Avery mereka semakin menjadi pusat perhatian.


"Kau harus terbiasa dengan keadaan temanmu ini." kata Armando pada Larasati bersimpati. Dia tau apa yang Larasati pikirkan.


"Sepertinya memang harus begitu." jawab Larasati pasrah. Dia baru tau Lionel pusat perhatian hari ini. Untung saja dia datang ke kantor Lionel. Makanan Armando dan Avery datang. Mereka mulai makan. Larasati berusaha menikmati makan siangnya tanpa perduli keadaan sekitar. Armando memberikan daging di piringnya pada Avery.


"Tolong sampaikan pada anakku di dalam sana, dari Daddynya tersayang." kata Armando pada Avery lembut.


"Baik Daddy, terima kasih titipannya enak loh." jawab Avery sambil tersenyum geli. Larasati saja merasa lucu.


"Unclenya boleh tidak titip juga?" tanya Lionel menggoda.


"Tidak boleh." Armando menjawab tegas. Wajahnya tampak galak.


"Lara, aku titip kamu dulu deh walau anaknya belum kita buat." kata Lionel sambil memberikan daging ke piring Larasati. Hal itu membuat Larasati terkikik geli. Larasati tidak bisa marah pada Lionel. Pria itu bicaranya sangat serius tadi. Armando dan Avery jadi tersenyum. Avery baru melihat sisi kakak sepupunya yang seperti ini. Sepertinya Lionel memang serius pada Larasati. Tidak pernah dia bersikap manis pada wanita seperti kali ini.


"Tapi kau kan dulu buat duluan, hasilnya secantik Melody." balas Lionel telak. Armando dulu menghamili Melani sebelum menikahinya.


"Iya Melani itu terbuai sama rayuannya Armando makanya gendut duluan." kata Avery membantu Lionel.


"Tapi sayang, kamu kan juga gendut karena aku?" kata Armando pada Avery. Yang berarti Avery juga terhanyut pada Armando. Avery langsung cemberut. Wajahnya memerah. Armando hanya senyum-senyum menatap istrinya.


"Kalian ini bikin aku jadi ingin cepay-cepat menikah." Lionel mengeluh tapi matanya menatap Larasati penuh arti. Larasati langsung menunduk.


"Ayo sayang, kita kembali. Biar dia berusaha sendiri." kata Armando pada Avery. Berusaha mendapat istri maksudnya. Avery menurut, dia bangkit dan pergi bersama Armando. Lionel senang di tinggal berdua saja dengan Larasati.

__ADS_1


"Lara, kau mau es krim atau buah?" tanya Lionel lembut.


"Tidak mau. kita juga harus kembali kan?" Larasati tau Lionel masih punya tugas di ruang kerjanya.


"Sungguh kau tidak mau apa-apa lagi?" tanya Lionel belum yakin.


"Sungguh." Larasati bangkit agar Lionel percaya. Maka Lionel pun bangkit dan menggandeng Larasati untuk kembali ke ruangannya.


"Lio kau tidak risih para karyawan memperhatikan kita?" tanya Larasati.


"Justru aku sedang memamerkanmu. Ada gadis yang mau denganku." kata Lionel bangga. Larasati terdiam.


"Mau ku gandeng maksudnya." Lionel menambahkan, khawatir Larasati marah.


"Asal jangan di cium di depan mereka saja." Larasati bergurau.


"Kalau aku cium terus kita pacaran aku mau lakukan itu." Lionel nekat. Larasati langsung mencubit Lionel. Pria itu hanya tertawa. Kembali ke ruangannya Lionel memeriksa betkas-berkas di mejanya, apakah ada yang mendesak. Sherry datang masuk membawa berkas kontrak.


"Tuan ini kontrak dari perusahaan Dov." Sherry menyerahkan berkas itu.


"Berikan berkas itu pada tuan Armando, biar dia yang putuskan. Sekarang itu wewenangnya." kata Lionel pada Sherry.


"Baik tuan akan saya serahkan." Sherry keluar menuju ruang Armando.


"Lara, kau ingin ke mana siang ini?" tanya Lionel pada Larasati.


"Tidak Lio, kau bereskan saja pekerjaanmu. Aku akan menunggumu di sini." Larasati sekarang tau, tanggung jawab besar. Dia merasa tidak pantas meminta Lionel mengantarnya ke tempat yang dia inginkan.

__ADS_1


"Ternyata benar ya aku di istimewa kan." Lionel senang. Larasati tersenyum.


"Aku kerja sebentar ya, nanti kalau kau bosan bilang padaku." Lionel melihat Larasati mulai membuka majalah bisnis yang ada. Dia pun segera tenggelam pada pekerjaannya. Tapi Lionel kadang melirik pada Larasati. Lionel melihat Larasati seperti istri yang menunggu suaminya bekerja. Khayalan Lionel melambung. Larasati sendiri tenggelam dalam artikel kesehatan yang ada di majalah. Dia memang penggila hal-hal berbau bidang medis. Setelah selesai dengan artikelnya Larasati melirik Lionel. Ternyata Lionel fokus pada pekerjaannya hingga sudah menyelesaikan sebagian dari pekerjaan itu.


__ADS_2