Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
143. Memenuhi Tuntutan.


__ADS_3

"Setelah proses syuting selesai, tidak ada perpanjangan kontrak atau kontrak baru lagi antara saudari Sheni dengan rumah produksi saya. Dalam arti saudari Sheni tidak akan di terima lagi dalam rumah produksi saya. Saya harap tuntutan saya di laksanakan atau jika tidak saya akan mengajukan tuntutan pada jalur hukum atas apa yang sudah saudari Sheni lakukan pada istri saya." Rion mengakhiri perkataan tegasnya. Sheni menangis. Dia patah hati dan kecewa.


"Boleh kami bicara dulu?" tanya pengacara Sheni. Dia ingin tau pendapat Sheni tentang keputusan Rion.


"Boleh, silahkan. Tapi saya ingin keputusan saat ini juga. Karena masalah ini sudah menyita waktu saya." Rion tidak ingin membuang waktu. Mereka pun keluar untuk berunding.


"Jadi kamu yakin tidak akan menuntut dia ke pengadilan?" tanya Restandi.


"Aku rasa buang waktu dan tenaga. Harus kumpulkan bukti, lalu jika dinyatakan ketidaksengajaan kan aku yang rugi." Rion lebih suka fokus pada pekerjaannya di banding mengurusi persidangan. Restandi paham.


"Aku rasa dengan adanya kasus ini berimbas buruk untuk karirnya." komentar Restandi.


"Aku tidak perduli kak, belakangan ini dia sudah mengganggu waktuku dengan terus mendekatiku. Harusnya dia lebih fokus pada karirnya dan menggunakan kesempatan yang dia dapat dengan baik." Rion mengungkap kekesalannya. Sheni harus merasakan buah dari perbuatannya. Tidak lama kemudian Sheni dan pendukungnya masuk kembali. Pengacaranya menyampaikan, Sheni setuju dengan tuntutan Rion. Dia akan menyelesaikan syutingnya karena ini menyangkut karirnya juga. Sheni akan meminta maaf pada Trisia lalu dari pihaknya juga akan mengadakan jumpa pers untuk memulihkan namanya. Sheni akan mengatakan bahwa somasi Rion sudah di selesaikan secara kekeluargaan. Walau Sheni berupaya demikian dia juga tidak tau apakah karirnya masih bisa bertahan. Rion tidak masalah, karena somasi itu tujuannya untuk filmnya saja. Dia juga tidak perduli akan karir Sheni. Yang penting saat ini filmnya selesai karena itu menyangkut kerja keras semua yang terlibat. Restandi dan Rion menganggap masalahnya telah selesai, hanya menunggu Sheni melaksanakan kesediaannya. Sheni pun melakukan jumpa pers seperti yang di katakan pengacaranya, untuk menyelamatkan karirnya. Dia juga menyelesaikan kontrak syutingnya dengan serius. Seperti yang Rion katakan, tidak ada kontrak baru dan Sheni tidak akan terlibat lagi dalam produksi film Rion yang manapun. Lalu seperti perkiraan Rion, filmnya meledak di pasaran. Karena ada kasus di baliknya. Orang-orang jadi ingin tau dan menilai siapa Sheni dari film tersebut. Karena Sheni sendiri menutup diri sejak peristiwa tersebut. Ada juga yang mengambil kesempatan menawarkan Sheni pekerjaan atau talk show karena kasus dan filmnya yang masih hangat di dunia hiburan. Tapi Sheni tutup mulut. Sheni bersyukur masih bisa berkarir, walaupun dia kehilangan sosok yang di cintainya. Dan dia tidak bersemangat seperti dulu. Ada juga yang melecehkannya karena kasus tersebut. Menganggapnya wanita murahan. Sheni belajar dari apa yang di lakukannya.


Restandi tengah berdiskusi tentang tawaran kerjasama Weny Arista.


"Bagaimana Norman?" tanya Restandi pada bawahannya itu.

__ADS_1


"Bagus sih dok. Konsepnya bagus. Sepertinya dia pintar, bukan cuma gelar abal-abal." Norman sudah melaksanakan perintah Restandi. Bukan tanpa alasan Restandi menanyakannya pada Norman. Weny terus mencoba menghubunginya untuk mencari tau proposalnya. Ini kerjasama pertamanya setelah pulang dan menjabat sebagai pimpinan di perusahaan ayahnya. Dia percaya Restandi orang yang tepat untuk di gandengnya dalam misinya.


"Keuntungan yang kita dapat bagaimana?" tanya Restandi lagi.


"Justru karena keuntungannya itu saya jadi optimis. Tapi keputusan di tangan dokter." Norman tidak mau melampaui wewenang.


"Ok, kita atur untuk bertemu." Restandi telah memutuskan.


"Akan saya lakukan dok." Norman keluar dari ruangan Restandi. Norman pun mengatur pertemuan dengan Weny di sebuah cafe. Restandi dan Norman datang berdua. Weny datang dengan sekretarisnya.


"Selamat pagi bapak Restandi dan pak Norman. Senang mengetahui penawaran saya di perhatikan." Weny membuka percakapan. Dia bahagia hari ini bisa menatap pria yang menarik hatinya, Restandi.


"Jangan panggil ibu dong, panggil nama saja. Boleh tidak saya panggil mas?" tanya Weny merayu. Kedua pria itu menatap Weny dengan tajam.


"Maksudnya supaya lebih akrab." kata Weny cepat. Baru kali ini sikap manisnya mendapat reaksi demikian.


"Yang biasa saja, jangan berlebihan dan nantinya anda akan berurusan dengan dokter Norman. Karena dia yang akan menangani kerjasama ini." Restandi menolak untuk menjadi lebih akrab. Weny tampak kecewa dengan penuturan Restandi.

__ADS_1


"Mengapa bukan dokter Restandi sendiri yang menanganinya?" satu lagi yang di luar harapannya.


"Dokter Restandi sudah sangat sibuk. Yang penting kan kerjasamanya berjalan." Norman memberi alasan yang tepat. Dia ingin kerjasama ini berjalan di zona yang aman. Ada sedikit kecurigaan di hatinya. Dia laki-laki, dia bisa menangkap gaya Weny yang berusaha menarik perhatian Restandi.


"Baiklah kalau begitu." Weny terpaksa menerimanya, daripada penawarannya di tolak. Dia ingin membuat papanya bangga, bisa bekerjasama dengan dokter Restandi Gutama.


"Ada beberapa dari penawaran anda yang ingin saya rubah, bagaimana?" tanya Restandi.


"Saya ingin tau apa yang dokter Restandi maksudkan " Weny mengalah. Rasanya penawarannya sudah sangat bagus. Restandi menuliskan apa saja yang dia inginkan. Weny membacanya, dia setuju.


"Baiklah saya akan buatkan kontrak perjanjiannya." kata Weny kemudian.


"Hubungi dokter Norman jika sudah siap. Kami permisi dulu." Restandi bangkit berdiri di ikuti Norman. Mereka pun berlalu. Lagi-lagi dokter Norman, pikir Weny. Susah sekali sih mau dekat dengan Restandi. Sepertinya dia bukan orang yang sombong. Tentu saja Weny di puji papanya, bisa menjalin kerjasama dengan bisnis keluarga Gutama. Hal itu membuat Weny bersemangat untuk mendekati Restandi. Jika kerjasama saja membuat papanya bangga, apa lagi jadi menantunya. Weny tidak perduli Restandi sudah punya istri dan anak. Beberapa kali Weny mengirimkan sesuatu pada Restandi, juga datang untuk bertemu. Namun belum berhasil. Maharani Pranata menjadi garda depan Restandi. Mencegah orang-orang yang tidak berkepentingan masuk ke ruangan Restandi. Seperti hari ini.


"Maaf anda ada keperluan apa?" tanya Rani pada Weny yang akan menuju ruangan Restandi.


"Saya Weny, direktur PT JM mau bertemu dengan dokter Restandi." kata Weny, dengan menyebut perusahaannya pasti dia di ijinkan masuk.

__ADS_1


"Maaf Bu, tapi ibu harus menunggu di ruang tunggu. Dokter Restandi tidak bisa di ganggu." jawab Rani tegas. Tidak membiarkan melewati dirinya.


__ADS_2