
Armando berhasil membawa Trisia untuk bicara berdua saja.
"Trisia mamaku ingin kita menikah. Tapi kau tau kan itu tidak mungkin." kata Armando tegas. Dia ingin menuntaskan segalanya hari ini.
"Mengapa tidak mungkin, mungkin saja." kata Trisia menantang Armando. Dia sudah tau Armando akan membicarakan ini. Armando tidak menyangka Trisia akan berkata seperti itu. Dia menatap tajam pada Trisia.
"Kau tau aku pria beristri." tadinya Armando akan membawa Trisia bertemu Mauren dan mengatakan pada Mauren jika mereka akan berpisah. Tapi sepertinya itu sulit.
"Aku tidak masalah. Belum tentu mama menerima pernikahanmu dengan Melani." Trisia awalnya takut dengan tatapan mata Armando. Tapi dia merasa ini kesempatannya yang terakhir.
"Aku tidak akan pernah menceraikan Melani." kata Armando yakin.
"Aku juga tidak memintamu untuk menceraikan dia." kata Trisia membela diri. Armando betul-betul tidak mengerti dengan jalan pikiran Trisia. Di tatapnya gadis ini dengan seksama. Cantik, bertalenta. Sempurna. Mauren sudah terpikat pada kesempurnaan Trisia, sehingga ingin gadis itu jadi menantunya. Trisia tau Armando menatapnya. Dia tidak berani menatap Armando dan mengalihkan matanya.
"Ke sini." Tiba-tiba Armando berkata. Trisia menoleh. Dia melihat Armando memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya. Trisia pun mematuhi Armando, duduk di sebelahnya. Armando ingin menguji hatinya sendiri. Duduk dekat dengan Trisia tidak ada debaran jantung, tidak ada rasa ketertarikan dan tidak ada keinginan memeluknya. Bisa di pastikan Armando tidak punya perasaan apa pun pada gadis cantik ini. Tiba-tiba Trisia memeluknya dan menangis.
__ADS_1
"Armando, aku mencintaimu. Ijinkan aku jadi istrimu walau sebentar. Aku tau kau mencintai Melani dan menikahinya. Aku berjanji jika dia kembali kau boleh menceraikan aku. Selama ini aku tidak pernah macam-macam kan." kata Trisia dengan sedih. Trisia memang tidak pernah macam-macam. Jika dia begitu Armando sudah menyingkirkannya sejak dulu. Trisia masih terus menangis di dada Armando. Dia tidak mau balas memeluk Trisia, khawatir gadis itu salah paham. Sekarang Armando tau, ada satu rasa yang dia miliki untuk Trisia. Kasihan. Apakah sehebat itu dirinya hingga Trisia tidak mau melepaskannya. Armando tetap tidak mengatakan apa-apa. Dia bangkit berdiri perlahan dan meninggalkan Trisia. Kemejanya sudah basah dengan air mata Trisia. Sedangkan Trisia melanjutkan tangisnya, berharap upaya terakhirnya tidak sia-sia. Armando bicara pada Melani. Walau bagaimana istrinya harus tau keadaan dirinya di sini. Tanggapan Melani justru membuat Armando tercengang. Melani mengijinkan jika Armando menikahi Trisia. Dia sudah lelah dengan aksi Mauren yang terus memaksa Armando. Melani ingin Mauren membuktikan sendiri kegagalannya dalam menjodohkan putranya. Pada saat Armando dan Trisia bercerai Mauren tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Melani percaya dan yakin Armando akan setia padanya. Armando akan bisa mematahkan ambisi Mauren.
"Kalau aku jatuh cinta pada Trisia bagaimana Mel?" tanya Armando ingin tau.
"Berarti pilihan mamamu tepat." jawab Melani tanpa ragu. Armando melihat Melani berubah sekarang. Melani juga merasa demikian. Dulu dia hanya bisa menangis dan diam. Tapi sekarang dia bisa menantang Mauren. Ya Armando tau yang di lawan Melani bukan Trisia , tapi Mauren. Kepala Armando serasa mau pecah. Dia merasa jadi permainan tiga wanita dalam hidupnya. Masing-masing punya ambisi sendiri. Beberapa hari Armando memikirkannya. Akhirnya demi perdamaian dunia Armando mengikuti perkataan Melani. Mematahkan ambisi Mauren. Selama ini Mauren merasa Trisia pendamping yang cocok untuk Armando. Dia akan buktikan bahwa mamanya salah besar. Trisia terkejut, beberapa hari Armando tidak ada kabarnya ternyata menerima permintaannya.
"Aku setuju karena Melani yang ingin ini terjadi. Bukan karena aku yang ingin menikahimu." kata Armando menegaskan jika Melani tidak mengijinkan Armando juga tidak mau melakukannya. Trisia bingung mengapa Melani begitu bodoh. Tapi dia bersyukur Melani memberi ijin. Melani kan jauh di sana. Armando akan lebih banyak bersama dia di sini. Trisia berharap bisa mengalihkan Armando dari Melani. Yang sial Rion. Dia sudah menyiapkan dadanya untuk Trisia, ternyata kabar yang di terimanya berbeda. Rion jadi marah-marah pada Arleta. Sedangkan Arleta sendiri lebih terkejut lagi. Sudah gila ya Armando. Arleta pun pergi menemui Armando. Kakaknya tidak bicara banyak. Hanya mengatakan itu keinginan Mauren. Melani sudah tau dan memberi ijin, itu saja. Armando sengaja tidak mengatakan semuanya khawatir Arleta salah bicara pada Mauren. Karena kesal Arleta pun pulang dan marah-marah pada Restandi.
"Kamu jangan begitu ya Rest." kata Arleta kesal.
"Apa?" Arleta bertanya marah.
"Aku sudah menikahi wanita yang di jodohkan mamamu. Apa aku harus menceraikannya?" tanya Restandi menggoda.
"Oh jangan, kamu harus memanjakannya." kata Arleta manis, hilang marah-marahnya. Dia tau Restandi mempermainkannya.
__ADS_1
"Andai aku dulu menyukai Rika." kata Restandi menyesal.
"Kalau kamu suka, kamu akan menikahinya?" tanya Arleta terpancing.
"Sepertinya tidak bisa. Sebab istri yang di jodohkan mamaku itu galak." jawab Restandi santai. Cih galak. Padahal dia lebih galak, kata Arleta dalam hati.
"Hai istri galak, ke sini." panggil Restandi pada Arleta dengan tegas. Arleta mengikuti perintah Restandi. Dia di dudukan di pangkuan Restandi.
"Kalau tidak mau di bilang istri galak, cium pipiku." Restandi menunjuk pipinya. Ini hukuman karena sudah marah-marah padanya tadi. Arleta pun menuruti.
"Hidup Armando biar saja dia yang mengaturnya. Armando pasti punya alasan sendiri berbuat itu. Sudah jangan pikirkan yang lain. Pikirkan saja anakku ini." Restandi mengusap perut Arleta. Walaupun diam tapi dari wajahnya Restandi tau Arleta menurutinya.
"Aku mau inden buat anak dulu." kata Restandi sambil membopong Arleta.
"Tapi kamu sudah inden sepuluh anak Rest." Arleta protes.
__ADS_1
"Aku mau inden seratus anak." Dokter Restandi mungkin shock di marahin istrinya, jadi begitu. Pernikahan Armando dan Trisia di lakukan secara sederhana. Trisia sadar diri, dia adalah istri kedua Armando. Ada rasa pedih di dalam hatinya. Tapi ini adalah keinginannya. Armando membeli sebuah rumah untuk dirinya dan Trisia tinggal. Armando tidak mau kehidupan rumah tangganya di campuri Mauren. Trisia berpikir setelah menikah Armando akan banyak menghabiskan waktu bersamanya. Ternyata dugaannya salah. Armando pulang jika dia ingin saja. Dia merasa harus menengok istri ke duanya, walau istri hanya di atas kertas saja. Armando lebih banyak di apartemen, apa lagi jika dia rindu pada Melani. Di apartemen masih ada barang-barang Melani. Armando juga berencana untuk tinggal di sana jika Melani kembali. Mereka tinggal di apartemen bersama buah hati mereka. Mengingat bayinya Armando sudah tidak sabar ingin melihat buah hati mereka.