Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
142. Penyelesaian


__ADS_3

"Yang sabar ya dia akan sehat kembali." kata Lukman Aria sambil merangkul bahu Rion untuk membesarkan hatinya. Rion pun lega. Dokter Lukman juga mengatakan bayinya perempuan. Rion mengucap syukur di dalam hatinya, masih di beri kesempatan untuk menjadi suami dan ayah.


"Oya satu lagi. Bila semua sudah memungkinkan tolong ibu dan bayinya di pindah ke rumah sakit Sentosa. Saya sudah tua, repot harus mundar mandir." kata Lukman Aria lagi. Kali ini di tujukan pada Sehun. Setelah itu dia pun berjalan pergi, dia harus kembali ke rumah sakit Sentosa, pasiennya menunggu.


"Aku sudah jadi direktur rumah sakit tapi masih di suruh-suruh." keluhnya pada Restandi.


"Sabar, biar bagaimana itu ayahmu." Restandi tersenyum.


"Dokter Lukman Aria itu dokter yang kompeten. Sampai sekarang saja pasiennya tetap banyak, tapi tidak mau praktek di rumah sakit anaknya. Aku ko merasa tidak di dukung ayahku ya." Sehun mengeluarkan kekesalannya.


"Kadang orang tua tidak mau keluar dari zona nyamannya. Seperti papaku. Aku yakin ayahmu bukan tidak mendukungmu, buktinya dia tidak pernah melarangmu untuk meraih ambisimu. Mungkin dia percaya padamu. Kau akan bisa meraih apa yang kau mau tanpa harus dia dampingi. Coba ngobrol dengan ayahmu. Aku juga baru paham tentang papaku belakangan ini. Tadinya kami seperti panas dan hujan." Restandi menghibur Sehun. Ternyata Sehun Aria bisa galau juga. Trisia di pindahkan ke ruang perawatan. Dia belum sadar. Lukman Aria memang ingin Trisia istirahat untuk memulihkan tubuhnya. Rion menatap bayi dalam inkubator. Putrinya. Cantik, seperti yang Lukman Aria katakan. Semua mengucapkan selamat pada Rion, yang kini menjadi ayah. Kabar itu baru di sampaikan oleh Jono pada Nikolas dan Sofi. Jono akan mengantar mereka ke rumah sakit.


"Siapa nama putrimu?" tanya Restandi pada adiknya.


" Matriska Putri Gutama." jawab Rion singkat.


"Apa dia nanti jadi aktris juga?" tanya Arleta jail.


"Jangan, dia bisnis saja seperti tantenya. Aku tidak mau putriku nanti di sentuh pria." jawab Rion dengan wajah khawatir.

__ADS_1


"Dia cantik, nanti di rayu aktor tampan loh." pendapat Arleta tentang keponakannya.


"Bukan di rayu saja, bisa-bisa nanti di hamili juga." Restandi menambahkan.


"Kalian kenapa sih? kalian kan tau dulu aku begitu karena ingin memiliki Trisia." Rion sadar di sindir.


"Sampai tidak memandang aku." tiba-tiba Armando menambahkan.


"Maaf." kata Rion pada Armando. Dia tetap tidak enak pada pria itu.


"Untung kamu cinta berat pada Trisia, jadi aku maafkan " kata Armando mengerti. Ulah Rion juga yang membuat dia bisa lepas dari Trisia.


"Avery ada di kamar Trisia." jawab Armando. Mereka tengah di depan sebuah ruangan, di dalam bayi Rion tampak tertidur di dalam inkubator. Hanya Rion yang bisa masuk ke dalam ruang itu. Untuk menengok putrinya. Mereka pun pindah ke kamar rawat Trisia. Sehun menyiapkan kamar VIP untuk Trisia, sehingga memudahkan keluarga yang menengok. Trisia sudah sadar. Dia tampak lega bayinya baik-baik saja. Kabar tentang Trisia melahirkan segera tersebar. Bunga pun berdatangan. Sehun harus mengadakan penjagaan agar wartawan atau fans Trisia tidak mengganggu operasional rumah sakit. Sehun dan Monika datang menengok. Hal itu membuat Armando dan Avery pamit, khawatir kamar Trisia terlalu ramai, walau kamarnya luas.


"Ibunya nanti bisa pindah ke rumah sakit Sentosa. Anaknya tetap di sini. Nanti kami yang bawa pulang." Sehun menggoda Rion.


"Ko saya yang usaha situ yang dapat hasilnya?" tanya Rion kesal. Mereka tertawa semua. Dulu Sehun sempat khawatir Rion mengejar Monika. Tapi ternyata yang di kejar artis papan atas. Sehun tidak lama di sana. Dia segera menarik Monika pergi. Dia tidak mau Monika merasa sedih, karena mereka belum mendapat momongan.


"Sayang kita pulang yuk. Papa sama Mama sebentar lagi datang. Kasihan Alrest nanti sendiri." Restandi berkata pada Arleta. Istrinya pun setuju, mereka pulang.

__ADS_1


"Trisia sayang, aku mau mengurus urusan kita dengan perempuan itu. Kamu maunya bagaimana?" tanya Rion pada Trisia tentang Sheni.


"Aku terserah kamu saja." jawab Trisia malas.


"Kamu tidak marah?" Rion bingung melihat reaksi Trisia.


"Sudah terjadi juga untuk apa marah, yang penting anak kita selamat. Terserah kamu mau bagaimana." Trisia ingat dulu dia juga pernah mencelakakan Melani. Lalu Melani memaafkannya dengan mudah. Trisia hanya ingin fokus pada kesehatannya dan bayinya saja. Mereka masih butuh banyak doa.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengurusnya." kata Rion akhirnya. Sejak peristiwa itu Sheni di rumahkan, menanti keputusan Rion. Syuting tetap berjalan , hanya adegan Sheni yang belum di lakukan. Karena Rion sudah berpesan pada Romy, ingin filmnya segera selesai. Rion pun mensomasi Sheni. Hanya somasi. Sheni sudah takut luar biasa. Dunia hiburan ramai. Sang penulis marah besar pada Sheni, dia betul-betul menyesal memenuhi keinginan Sheni. Para wartawan mulai mencari Rion dan Sheni. Mereka mengunjungi lokasi syuting. Rion menghindari lokasi syuting, karena dia juga sibuk mengurus Trisia. Rion membuat dirinya sulit di temui, kecuali keluarganya.


"Rion kamu betul mau menjebloskan gadis itu ke penjara?" tanya Restandi ingin tau. Sheni menyewa pengacara untuk berdamai dengan Rion. Sheni dan keluarganya takut jika Rion benar-benar menuntutnya.


"Tidak. Aku hanya mensomasi saja. Aku hanya ingin menaikan pamor filmku saja ko." jawab Rion santai. Restandi memuji adiknya di dalam hati. Saat ini masih menggunakan kesempatan untuk promosi filmnya.


"Benar kamu tidak marah pada gadis itu?" tanya Restandi heran.


"Marahlah. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan." kata Rion tegas. Restandi tidak khawatir lagi. Dia tau adiknya dapat mengambil keputusan yang benar. Trisia pun pulang, tidak lama bayinya juga boleh pulang. Maka Rion pun membereskan masalahnya. Rion memanggil Sheni untuk datang ke kantornya. Sheni pun datang di Sergai manager dan pengacaranya. Gadis itu sangat takut. Mereka sudah masuk di ruang kerja Rion. Restandi mendampingi Rion, dia ingin tau keputusan apa yang akan di ambil adiknya.


"Selamat pagi semua, saya Marionata Gutama sangat kecewa dan marah atas apa yang di lakukan saudari Sheni. Hal itu merugikan keluarga saya. Juga menyangkut nyawa istri dan putri saya. Selain itu dari segi produksi film juga merugi, karena proses syuting tertunda. Saya menuntut saudari Sheni untuk menyelesaikan kontraknya dalam film saya dengan serius dan tanpa berulah. Karena mengingat proses film yang sudah berjalan dan hampir selesai. Jika tidak bersedia maka saya akan menuntut saudari Sheni untuk mengganti biaya produksi film yang sudah berjalan." kata Rion dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2