
Selepas makan malam Lionel belum ingin berpisah dengan Larasati. Rasanya satu hari bersama gadis itu masih belum cukup. Lionel membawa Larasati ke apartemennya. Larasati bingung ketika di bawa Lionel ke sana.
"Lara ini tempat tinggalmu." kata Lionel ketika mereka sudah berada di dalam. Dia ingin Larasati lebih dekat dengannya.
"Boleh aku melihat-lihat?" tanya Larasati ingin tau. Sudah samai di sini dia menggunakan kesempatan yang ada.
"Tentu saja boleh." jawab Lionel. Tinggal di sini juga boleh, pikirnya dalam hati. Larasati pun melihat-lihat. Apartemen Lionel sangat mewah. Dapurnya lumayan besar. Interiornya juga bagus. Dominan abu-abu dan putih. Larasati ingin melihat kamar pria itu, tapi rasanya tidak sopan.
"Kau mau lihat kamarku?" tanya Lionel seolah tau pemikiran Larasati.
"Tidak apa-apa kalau aku lihat?" Larasati ragu. Karena itu kan pribadi sekali. Lionel menuntun Larasati ke kamarnya. Jangankan melihat kamarnya, menginap pun akan Lionel ijinkan. Entah mengapa dia merasa nyaman dengan gadis ini. Belum pernah dia membawa gadis manapun ke tempat tinggalnya. Kamar Lionel luas, sangat rapih. Larasati sempat melihat kamar bajunya yang banyak isinya. Ya dia tokoh penting di perusahaan, tentu saja harus terlihat baik penampilannya.
"Kau suka?" tanya Lionel penuh arti. Larasati hanya mengangguk. Dia bingung mengapa Lionel bertanya seperti itu. Bukankah itu terlalu cepat. Melihat reaksi Larasati, hati Lionel semakin penuh dengan harapan. Lionel menggandeng Larasati keluar dan duduk di ruang santainya.
"Aku buatkan minuman hangat untukmu ya." Lionel tau Larasati tidak suka minum alkohol, karena tadi di restauran Larasati menolak. Lionel membuat minuman diiringi tatapan Larasati. Tampaknya pria ini memang terbiasa hidup sendiri. Menurut Larasati Lionel tidak bisa memasak. Karena dapurnya begitu rapih dan tanpa banyak peralatan. Untuk makan pun sepertinya di luar.
"Ini minummu" Lionel menyerahkan segelas coklat hangat ke tangannya.
"Terima kasih." Larasati menerimanya dan mencobanya.
__ADS_1
"Apakah enak?" tanya Lionel lembut. Dia duduk dekat dengan Larasati. Tatapannya tidak lepas dari gadis itu. Di tatap lekat seperti itu membuat Larasati salah tingkah.
"Enak ko." jawab Larasati singkat. Dia menikmati minumannya untuk menghindari tatapan Lionel. Ingin rasanya Lionel menahan gadis itu malam ini. Tapi pasti Armando akan marah. Lagi pula bukan hanya malam ini, untuk selanjutnya juga dia tidak akan bisa melepas Larasati.
"Apartemenmu menyenangkan." kata Larasati memecah kesunyian.
"Aku senang mendengarnya." Lionel mengira Larasati akan suka tinggal di sini nanti. Lionel meraih tangan Larasati. Di genggamnya lembut. Tangan yang tadi terus di gandengnya. Diremasnya tangan itu, Larasati tersipu. Duduk berdua begini dalam kesunyian juga menyenangkan. Perlahan Lionel mencium tangan Larasati. Dada Larasati berdebar.
"Minumanku sudah habis." kata Larasati mengalihkan perhatian. Dia takut alurnya akan semakin jauh.
"Ayo aku antar pulang." kata Lionel dengan berat hati. Sebenarnya dia juga takut tidak dapat menahan diri. Mereka bangkit dan berjalan keluar apartemen dengan pikiran mading-masing. Dalam perjalanan pun Lionel masih berpikir bagaimana dia dan Larasati bisa lebih dekat lagi. Larasati sendiri sedang menimbang hatinya, untuk bersama Lionel apakah dia sanggup. Mereka tiba di kediaman Cody tanpa kendala. Lionel dan Larasati turun. Mereka masuk ke dalam rumah.
"Aku yang terima kasih, kau sudah menemaniku bekerja." Lionel tersenyum senang. Rasanya hanya dia yang mendekati seorang wanita dengan membawanya ke kantor dan menemaninya bekerja.
"Aku suka melakukannya. Aku masuk dulu." Larasati berjalan ke kamarnya sambil melihat Lionel yang berat berpisah dengannya. Setelah Larasati menghilang Lionel pun ke kamar Zakhary. Pamannya sedang duduk di tempat tidur.
"Selamat malam paman. Kau tampak lebih sehat." sapa Lionel pada Zakhary.
"Lionel kau malam-malam datang?" tanya Zakhary heran, tapi dia senang.
__ADS_1
"Aku baru saja mengantar Larasati pulang." Lionel menghampiri pamannya. Wajah Zakhary sudah lebih cerah.
"Gadis yang baik. Aku senang kau mengajaknya keluar. Menghadapi pria tua seperti aku pasti membosankan untuknya." Zakhary tersenyum kecil.
"Paman tidak membosankan. Aku menjauhkannya dari paman karena aku menyukainya. Jangan rebut Larasati dariku." Lionel bergurau. Dia senang melihat Zakhary tersenyum. Pamannya tertawa dengan gurauannya.
"Tentu saja kau yang menang. Hari ini saja dia sudah meninggalkanku. Aku berjanji tidak akan merebutnya darimu jika kau mengurus perusahaan dengan baik." Zakhary memberi janji juga ancaman. Lionel tersenyum, tampaknya pamannya sudah sehat.
"Baiklah akan kulakukan. Aku pulang dulu. Dokter cantikmu tidak akan muncul malam ini." Lionel mengusap bahu Zakhary lembut, lalu beranjak pergi. Zakhary menatapnya senang. Baru kali ini Lionel bicara tentang wanita. Tapi mengetahui wanita itu Larasati Zakhary setuju. Lionel pulang dengan galau. Setengah hati dia senang, pamannya sudah sehat. Tapi setengah hatinya cemas, itu berarti Larasati akan pulang kembali.
Arleta merasa mulas di rumah. Sekali lagi yang membawanya ke rumah sakit adalah Rion.
"Sabar Leta, kita akan segera sampai." kata Rio. yang tampak cemas. Jono yang membawa mobil itu hanya diam, karena fokus pada jalanan.
"Aku sarankan kau jangan hamil lagi. Lihat saja aku yang jadi andalanmu kan ke rumah sakit. Bagaimana sih suamimu itu." Rion berkata sambil cemberut. Jono menatap Rion sekilas. Dia merasa Rion ini aneh. Sudah sakit menahan kelahiran bayinya, Arleta masih diomelin. Arleta sendiri kesal pada adik iparnya ini. Seperti tidak rela mengantarnya ke rumah sakit. Awas saja nanti kalau bayinya sudah lahir, dia akan buat perhitungan. Restandi gelisah menanti Arleta di rumah sakit. Sejak Arleta mengalami kecelakaan, Restandi jadi merasa lebih khawatir pada kesehatan istrinya. Dia tidak menduga Arleta akan melahirkan hari ini. Tadi pagi Arleta masih biasa saja ketika dia berangkat bekerja. Bukan hanya Restandi yang menanti Arleta, Lukman Aria juga menantinya. Akhirnya Arleta tiba di rumah sakit. Dia segera di bawa ke ruang persalinan. Kali ini Jono melihat Rion dengan lucu. Tiap kali Arleta melahirkan Rion pun ikut cemas. Karena ini persalinan Arleta yang kedua dia cukup tenang. Merasakan sakit yang semakin lama semakin kuat Arleta sadar sebentar lagi itu akan berlalu. Dia hanya ingin melahirkan putrinya dan tetap sehat. Arleta mulai mengatur napasnya. Dia mendorong bayinya keluar. Restandi menatapnya dengan tidak tega. Dia mencium kepala Arleta dengan sayang.
"Kuat ya sayang. Aku percaya kamu bisa " Restandi berkata lembut. Dia berjanji ini yang terakhir Arleta melahirkan. Arleta tidak menanggapi karena fokus pada bayinya. Beberapa kali dia mendorong akhirnya bayinya keluar juga. Arleta pun terbaring lemas.
"Terima kadih sayang. Anak kita perempuan. Dia cantik sepertimu." kata Restandi.
__ADS_1