Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
90. Rion Panik


__ADS_3

"Terima kasih, maaf saya tutup pintunya ya." kata Monika lalu menutup pintu perlahan. Hem, mau ketemu suami aku jangan harap pikir Monika kesal.


"Siapa sayang?" tanya Sehun melihat Monika menghampirinya dengan membawa bingkisan.


"Tadi katanya kamu nolongin dia di kolam renang, aku yang musti tanya sama kamu dia siapa." kata Monika kesal.


"Ya tadi ada yang tenggelam di kolam, aku tidak tau dia siapa. Untuk apa aku tanya-tanya. Baju aku mana?" Sehun langsung tau Monika cemburu, dia mencium pipi Monika. Lagi pula untuk apa wanita itu mencarinya.


"Dia bawa hadiah nih buat kamu, mana pake baju seksi lagi." Monika menyodorkan bingkisan yang di beri wanita itu.


"Buang saja sayang. Percaya deh kalau soal seksi, kamu yang paling seksi." Sehun langsung mencium leher Monika. Mumpung Monika belum mengenakan apa-apa di balik mantel handuknya. Kalau soal pembuktian Sehun sangat menyukainya.


"Aku ambil baju dulu." Monika menolak karena masih kesal. Bahaya nih, pikir Sehun. Merusak acara bulan madu saja. Seperti rencana Sehun mereka makan malam di luar. Sehun menggandeng Monika mesra. Monika yang masih kesal dengan peristiwa tadi diam saja. Suaminya sudah membuat dia lemas di kamar malah genit-genitan di kolam. Kalau orang cemburu kan pikirannya macam-macam. Sehun bisa merasakan, tapi nanti saja di kamar di rayu. Selesai makan malam mereka kembali ke kamar. Sehun ingin menyelesaikan cemburu Monika.

__ADS_1


"Sayang sini duduk di sebelah aku." kata Sehun membujuk Monika. Istrinya menurut duduk di sebelahnya.


"Kamu tau kan cinta aku cuma buat kamu." kata Sehun lembut. Monika mengangguk.


"Aku sudah mengacuhkan yang lain tapi ko masih di marahin juga." tanya Sehun menggoda Monika. Yang di tanya tersenyum. Benar sih yang salah bukan Sehun. Wanita itu yang berniat mendekati suaminya.


"Aku tidak marah sama kamu, aku cuma kesal saja." kata Monika akhirnya.


"Maaf ya sayang, aku jadi kesal. Harusnya itu tidak perlu ya." kata Monika menyesal. Sehun tersenyum.


"Kalau begitu kita bisa lanjut acara bulan madu kita kan." tanpa menunggu jawaban Monika Sehun pun mulai bekerja. Malam itu mereka berkasih mesra. Pagi-pagi Sehun sudah bangun, di lihatnya Monika masih tertidur. Sehun pun turun untuk berenang. Dia menggunakan waktu sambil menunggu Monika bangun pagi itu. Maka ketika Monika bangun dia tidak menemukan Suaminya. Monika berjalan ke balkon kamar. Di lihatnya di kolam renang suaminya tampak berenang di kelilingi para predator. Maksudnya para wanita yang tertarik pada Sehun. Monika pun mandi dan memutuskan untuk turun. Monika khawatir dia akan di anggap selingkuhan atau simpanan Sehun karena terus di sembunyikan di kamar. Sehun menyudahi renangnya dan meraih handuknya untuk kembali ke kamar, ketika di lihatnya Monika berjalan menghampirinya dengan menawan. Sehun tertegun melihatnya, Monika tampak cantik pagi ini. Dengan gaun selutut yang di belinya dan senyum manisnya. Sehun pun menghampiri Monika, tanpa malu dia mencium bibir Monika.


"Kamu sudah bangun?" tanya Sehun ketika sudah melepas ciumannya.

__ADS_1


"Aku mau sarapan bareng kamu." kata Monika dengan manja.


"Ok baby." Sehun pun menggandeng Monika untuk kembali ke kamar. Entah acara sarapan atau yang lainnya. Para predator memperhatikan itu dengan kecewa. Monika sudah merusak pagi mereka. Siang harinya Sehun memutuskan untuk pindah dan menyewa vila. Di mana dia bisa bebas bersama Monika. Bali mencetak kenangan bulan madu mereka.


Arleta gelisah di kamarnya. Perutnya terasa sakit. Belum waktunya dia melahirkan, tapi perutnya mulas. Arleta pun keluar dari kamar perlahan-lahan. Rion tengah menuruni tangga dari kamarnya ketika di lihatnya Arleta membungkuk menahan sakit.


"Arleta kamu kenapa?" tanya Rion menghampiri Arleta.


"Perutku sakit." jawab Arleta sambil meringis. Rion pun membopong Arleta ke lantai satu. Di dudukan di sebuah kursi, lalu memanggil Jono untuk menyiapkan mobil. Dia tidak tau ada apa dengan Arleta tapi yang pasti harus di bawa ke rumah sakit. Rion pun menelpon Restandi, menceritakan apa yang terjadi pada Arleta. Restandi pun menyuruhnya membawa Arleta ke rumah sakit. Restandi menghubungi dokter Lukman Aria, agar bersiap menerima kedatangan Arleta. Restandi sangat cemas. Dia sudah tidak konsen dengan pekerjaannya. Bolak-balik Restandi melihat pada jam tangannya. Restandi meminta Aira untuk menangani pasiennya hari itu. Aira yang melihat kegelisahan mentornya pun tidak menolak. Ketika Rion datang bersama Arleta, Aira baru tau apa yang terjadi. Rion saja saat itu jadi seperti suami Arleta. Dia yang panik, menyuruh Jono menjalankan mobil dengan cepat. Lalu di rumah sakit dengan pucat membawa Arleta masuk dan terus mengikuti Arleta ke ruang persalinan. Dokter Lukman sudah menanti Arleta di sana begitu pun Restandi. Walau tidak mengatakan apa-apa tapi terlihat Restandi tegang. Hasilnya Arleta memang akan segera melahirkan. Lebih cepat dari waktunya. Mereka pun mempersiapkan kelahiran bayi pertama dokter Restandi. Rion yang menanti di luar ruangan tampak mondar-mandir dengan gelisah. Sudah seperti suami yang menanti istrinya melahirkan.


"Apa semuanya baik-baik saja dok?" tanya Restandi pada dokter Lukman.


"Tergantung istrimu apakah bisa melahirkan dengan normal. Tapi jika harus operasi semua sudah siap, tenang saja." kata dokter Lukman menenangkan. Sekarang bergantung Arleta untuk melahirkan bayinya. Dia tengah mengumpulkan kekuatan karena baru pembukaan awal. Tapi yang jelas rasa sakitnya semakin lama semakin bertambah. Arleta mengerti sekarang, mengapa beberapa wanita memilih untuk operasi. Restandi yang mendampingi Arleta bisa melihat, walau istrinya tidak mengatakan apa pun tapi dia kesakitan. Dia jadi kasihan pada istrinya, padahal dia sudah inden seratus anak. Rion di luar tengah berdoa agar persalinan kakak iparnya lancar, agar dosa-dosanya di ampuni karena sering membuat kakak iparnya pusing dengan ulahnya. Dia juga meminta agar keponakannya lahir sehat dan tidak kurang suatu apa. Dia juga berjanji akan membantu mengasuh keponakannya. Bahkan Jono yang belakangan datang menyusul di mintanya untuk berdoa juga. Jono menatap Rion dengan terpesona. Juragannya insaf rupanya, sering bikin nyonya kesal. Akhirnya perjuangan Arleta berhasil. Dia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat. Arleta di pindah ke ruang VIP. Para staf rumah sakit memberikan selamat pada Restandi. Rion memberi tau Sofi dan Nikolas yang berada di luar kota hari itu. Sehun memberi selamat.

__ADS_1


__ADS_2