Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
110. Menghabiskan Waktu Bersama


__ADS_3

Avery menyiapkan air panas agar di bawa untuk membuat susu Melody. Armando memperhatikannya diam-diam. Nanny kualitas terbaik, pikir Armando.


"Ok aku sudah siap." kata Avery sambil menenteng tas kecil keperluan Melody. Armando bangkit menggendong Melody. Di ambilnya tas Melody dari Avery lalu melangkah ke luar. Armando membiarkan Avery yang mengunci apartemen. Mereka pun berangkat ke kantor Armando. Tiba di sana Armando dengan tenang menggendong putrinya memasuki kantornya, diiringi Avery yang dengan anggun mengikuti Armando. Para staf yang melihat itu bertanya-tanya, siapa yang di bawa Armando. Di ruangannya Arsen sudah menanti Armando dengan berkas-berkas di meja kerja pria itu. Avery pun mengambil alih Melody. Memangku putri kecil itu duduk di sofa di ruang kerja Armando. Arsen tersenyum pada Avery dengan sopa. Avery pun membalasnya. Avery pun mengamati Arsen yang membantu Armando dengan pekerjaannya. Pria bertubuh kecil itu sangat gesit bekerja dan sangat cerdas. Dia sangat membantu Armando dalam pekerjaannya. Avery terkesan pada asisten Armando itu yang juga setia pada atasannya. Avery jadi bertanya-tanya, wanita seperti apa yang bisa menarik hati Arsen. Melody kemudian meminta perhatian. Dia bosan terus di pangku dan ingin turun bermain. Avery pun menurunkan Melody. Gadis kecil itu berjalan tertatih-tatih, Avery mengiringinya perlahan. Melody sudah belajar berjalan walau belum terlalu lancar. Ternyata dia mendekati Armando. Daddy-nya melihat padanya sambil tersenyum dan meraih gadis kecil itu mendudukkannya di pangkuannya. Melody tertawa senang. Armando melanjutkan pekerjaannya. Avery kembali duduk di sofa, dia melihat ponselnya dan sibuk dengan itu. Arsen memperhatikan Melody sambil tersenyum. Dia mengagumi kecantikan putri Armando. Tanpa sadar tangannya terangkat menawarkan pada Melody untuk menggendongnya. Tapi Melody menolak, dia masih malu pada Arsen.


"Sepertinya saya akan menunggu putri anda dewasa pak." kata Arsen pada Armando.


"Jangan berharap, kau akan terlalu tua untuknya." jawab Armando menolak. Arsen tersenyum. Armando pun menyelesaikan pekerjaannya. Arsen membereskan berkas-berkas yang sudah di tanda tangani. Armando memperhatikan Melody yang sedang senang karena di perhatikan lagi.


"Avery kau mau kita berangkat sekarang?" tanya Armando pada Avery. Gadis itu masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Terserah padamu." jawab Avery sambil menghentikan kegiatannya. Dia menyimpan ponselnya.


"Ayo gadis kecil hari ini kita main ya." Armando mencium dan mengangkat Melody tinggi. Arsen tersenyum yang melihat Melody yang tertawa riang. Armando bangkit dan menggendong putrinya.


"Kami pergi ya Arsen." kata Armando sambil melangkah. Avery berdiri dan mengikuti Armando. Dia tersenyum pada Arsen.


"Selamat menjalani kegiatan anda pak." kata Arsen tersenyum sopan. Mereka pun keluar dari ruang kerja Armando. Dan seperti tadi mereka jadi pusat perhatian para staf. Mereka memperhatikan Avery yang cantik dan anggun tampak serasi bersama Armando. Mereka pun menduga-duga siapa gerangan Avery. Ada yang berani bertanya pada Arsen tapi pria itu tutup mulut. Armando dan Avery tiba di mal. Mereka melihat-lihat toko mainan karena belum waktunya makan siang. Melody sangat senang melihat banyak boneka dan permainan di hadapannya. Gadis kecil itu tertawa di gendongan Armando. Kadang Avery memperlihatkan permainan yang lucu membuat Melody tertarik. Tapi Armando tidak memanjakan gadis kecil itu dengan membelikannya banyak mainan. Armando hanya ingin membuat putrinya tertawa. Mereka pun pindah ke toko lainnya. Melody menarik perhatian sebagian besar para wanita, karena kecantikan dan kelucuannya. Apa lagi para wanita muda juga melirik daddy-nya. Avery sebal jadinya. Entah mengapa dia rasanya kesal. Mereka pun makan siang. Melody di dudukan pada kursi bayi sehingga Armando dan Avery bisa makan dengan leluasa. Melody di beri biskuit bayi sehingga sibuk dengan itu. Pada saat mereka makan ada sepasang mata menatap mereka lekat. Setelah selesai makan Armando kembali menggendong Melody, Avery pun berdiri bersiap untuk pergi.


"Keira." Armando terkejut melihat wanita itu. Tiba-tiba ponsel Armando berbunyi.

__ADS_1


"Sayang , kamu sama mommy dulu ya. Daddy angkat telpon sebentar." Armando berkata sambil menyerahkan Melody pada Avery. Tumben, pikir Avery. Armando tidak menyebutnya nanny. Avery pun meraih Melody lalu duduk dan memangkunya. Dia membersihkan tangan Melody yang tadi memegang biskuit. Wanita itu hanya menatap Avery, tidak ingin menyapa. Avery pun malas bicara, walau hatinya bertanya-tanya siapa wanita itu. Sepertinya wanita itu terkejut, melihat kenyataan Armando sudah berkeluarga. Tidak lama Armando kembali.


"Maaf kami harus pergi." Armando mengambil Melody lalu menggandeng Avery pergi dari situ. Dia menutup akses wanita itu untuk bicara. Keira Riani, wanita dari masa lalu Armando. Untuk pertama kalinya tampil lagi di hadapan pria itu. Roman muka Armando berubah. Avery melihatnya. Sepertinya Armando tidak suka bertemu wanita itu. Tapi Avery tidak mau menyinggung Armando dulu tentang wanita itu. Mereka menghabiskan waktu ke tempat lain, lalu pulang karena Melody butuh istirahat. Avery menidurkan Melody di kamarnya, lalu dia mandi karena merasa gerah. Udara Indonesia tidak sama dengan Amerika. Setelah mandi Avery memutuskan memasak untuk makan malam. Armando sibuk dengan pekerjaannya di kamar. Dia sudah memberi tau Arsen jika dia sudah ada di apartemennya. Arsen akan datang mengantar pekerjaan untuk Armando. Ketika Avery selesai memasak ada bunyi bell apartemen. Avery pun membukakan pintu. Ternyata Arsen yang datang dengan pekerjaan untuk Armando. Bisa di pastikan Armando tidak akan keluar lagi hingga besok pagi. Avery menawarkan makan malam pada Arsen, tapi pria itu menolak. Dia tidak mau mengganggu majikannya lebih lama lagi. Arsen pun pamit pulang. Armando dan Avery menikmati makan malam berdua selagi Melody tertidur. Armando menilai Avery lebih pandai memasak di banding Melani.


"Avery, kulihat kamu tidak dekat dengan ibumu." kata Armando sambil menatap Avery yang sedang makan.


"Sejujurnya itu benar. Sebenarnya ibu kandung kami sudah meninggal dunia. Ayah menikah lagi dengan wanita yang dulu pernah dekat dengannya. Awalnya kami tidak menyukainya tapi ayah memaksa." Armando terkejut dengan penjelasan Avery.


"Mengapa kalian tidak menyukainya?" rasa ingin tau membuat Armando bertanya.

__ADS_1


"Ketika datang dia sangat sombong, merasa ayah lebih membelanya di banding kami putri-putrinya. Dia tidak perduli pada kami dengan tulus. Apalagi ketika kami tau dia berambisi untuk memberikan ayahku seorang putra pewaris. Dia sempat mengandung namun akhirnya keguguran dan dinyatakan tidak dapat hamil lagi. Melani sangat membencinya. Itu sebabnya dia lari dari rumah. Ayahku marah ketika tau ternyata istri barunya tidak mengurus putri-putrinya dengan benar dan menyalahkan ibu sambungku karena Melani yang lari dari rumah."


__ADS_2