Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
129. Kehebatan Marionata


__ADS_3

Ternyata Rion sudah menghasilkan film layar lebar.


"Kami pasti akan menontonnya." kata Avery yakin. Rion senang mendengarnya.


"Restandi pasti senang melihat ini." kata Armando, pandangannya memuji pada Rion.


"Ada tanggung jawab pada kakak di dalam pekerjaanku ini." sebagai penyandang dana tentu Restandi mengharapkan keuntungan. Walaupun Restandi membebaskan Rion dalam berkarya.


"Kau pasti bisa." Armando yakin Rion akan berhasil. Otaknya cerdas, instingnya juga bagus.


"Aku juga harus membuktikan pada istriku, kalau aku bisa membahagiakannya dan anak kami nanti." kata Rion sambil merangkul Trisia.


"Kau masih syuting?" tanya Avery pada Trisia. Mengingat Trisia sedang hamil.


"Aku sudah berhenti syuting. Rion cemburu jika aku beradegan dengan pria lain." Trisia cemberut. Dia harus mengakhiri karirnya sebagai artis papan atas.


"Wah sayang sekali. Kalian aktor dan aktris yang bagus." Avery tau karir mereka berdua bukan main-main.


"Biar Trisia fokus dulu pada kehamilannya. Lihat saja nanti situasinya." keputusan Rion masih bisa berubah. Tergantung nanti kesiapan Trisia setelah anak mereka lahir. Dalam hatinya Rion sudah bertekad akan menseleksi peran Trisia jika ingin syuting nanti. Kecemburuan Rion beralasan, dia kan dulu merebut Trisia dari pria di depannya ini. Jadi Rion khawatir Trisia menyukai lawan mainnya. Walaupun istrinya itu sudah menunjukan cintanya pada Rion. Tapi Rion masih merasa belum yakin.


"Kita lihat saja filmmu nanti." kata Armando, dia jadi penasaran.


"Kalau filmnya gagal, dia masih bisa bersih-bersih di rumah sakit." Restandi tiba-tiba menyela. Dia senang bisa meledek adiknya.


"Lebih baik aku buka jasa pengantaran wanita yang akan melahirkan ke rumah sakit." Rion menyindir Restandi. Siapa coba yang antar Arleta ke rumah sakit untuk melahirkan. Mereka tertawa. Arleta yang memperhatikan itu tersenyum. Marionata Gutama, seorang Don Juan buluk yang sadar dan membuat filmnya sendiri dan menjaga istri cantiknya. Dan jangan lupa, pemuja kakak ipar. Karena banyak jasanya pada Arleta, Restandi jadi sayang pada adiknya. Malam itu berakhir dengan menyenangkan. Besoknya semua pulang ke rumah di Indonesia. Kembali pada rutinitas semula. Armando meminta Avery memilih. Akan tinggal di apartemen atau mereka mencari rumah. Melihat betapa sayangnya Frans pada Melody, Avery memutuskan untuk tinggal sementara di rumah besar Kamajaya. Sambil mereka mencari rumah. Maka mereka pun pulang ke rumah Kamajaya. Armando membuatkan Avery kamar kerja sendiri untuk dia bekerja. Arleta membantu mencarikan pengasuh, walau mengurus Melody tetap di bawah kendali Avery. Frans dan Mauren tentu saja senang rumah mereka tidak sepi. Restandi sudah masuk kerja lagi di rumah sakit. Siang ini Arleta akan datang membawa Alrest. Arleta akan memeriksa kehamilannya. Sehun datang menemui Restandi. Di tangannya ada sebuah map berisikan data-data pengalihan sebuah mal. Ada sebuah mal yang sudah bangkrut. Sehun rencana untuk mengambilnya. Restandi menggelengkan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan ambisi sahabatnya ini.

__ADS_1


"Kau gila ya, rumah sakit baru saja berjalan. Hotel belum lama pulih. Uangnya dari mana?" Restandi menatap Sehun yang senyum-senyum padanya.


"Di hitung saja dulu." kata Sehun tidak menyerah.


"Begini saja, kau buat dulu perencanaan yang kau mau dan konsep yang seperti apa, baru akan ku hitung." Restandi tau, Sehun tidak dapat di hentikan.


"Sudah kubuat." Sehun menyerahkan map baru. Astaga, Restandi sampai tidak bisa berkata apa pun.


"Tinggalkan saja, aku tidak bisa melakukannya hari ini. Pekerjaanku banyak." Restandi menunjuk pekerjaannya yang menumpuk. Sehun mengerti. Restandi menyimpan map tersebut.


"Ku dengar film adikmu sukses. Aku sudah menontonnya. Filmnya memang bagus." kata Sehun mengalihkan percakapan.


"Apa? kau yakin?" Restandi masih belum percaya.


"Kau tidak dengar beritanya? Baru beberapa hari penayangan sudah melebihi target. Ini film pertamanya, dia sudah meraup keuntungan." Sehun berkata dengan yakin. Restandi merasa lega. Rumah produksi Rion termasuk dalam penghitungannya dalam hal biaya. Karena Rion tidak mau terlibat dengan rumah sakit, maka Restandi harus menyediakan biaya untuk usaha Rion. Restandi hanya ingin bersikap adil. Rion berhak atas harta keluarga Gutama. Walau adiknya tidak pernah menuntut.


"Aku tidak menyangka, si berandal itu hebat juga." Sehun memuji.


"Aku tidak sia-sia mendukungnya. Biar bagaimana dia adikku." Restandi berpikir Nikolas juga pasti kali ini bangga pada Rion. Bertahun-tahun Nikolas menutup mata pada karir Rion, karena tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi sekarang ayahnya sudah berubah. Ini pantas di syukuri.


"Lalu mengapa kau belum menonton filmnya?" Sehun merasa Restandi aneh.


"Belum sempat. Arleta sepertinya hamil, dia sering merasa pusing. Kami juga baru pulang." Restandi ingin istrinya lebih banyak beristirahat.


"Wah kau akan punya anak lagi." Sehun terpana. Dia pikir Restandi sudah cukup puas dengan putranya.

__ADS_1


"Aku memang ingin satu anak lagi dan perempuan. Aku juga tidak menyangka secepat ini." Restandi berseri-seri membagikan keberuntungannya.


"Bagaimana kau dan Monika?" tanya Restandi kemudian.


"Kami belum seberuntung itu. Tapi buatku sih tidak masalah. Kau lihat kan apa yang ku kejar." Sehun sepertinya egois. Tapi itu juga bukan kehendaknya.


"Ya kau pria mata duitan." Restandi mengejek temannya.


"Kau tau bukan itu yang ku maksud." Sehun kesal juga di katakan begitu.


"Dengar ya aku tidak bisa mengikutimu terus. Satu saat kau harus berjalan sendiri." Restandi sudah bisa membayangkan pekerjaannya yang semakin banyak.


"Aku belum berani. Justru pertimbanganmu itu yang menjadi andalanku." Sehun melihat penilaian Restandi jitu. Hal yang tidak di milikinya.


"Kau lihat adikku Rion. Dia jalan sendirian." Restandi mengejek lagi.


"Sekarang jadi membanggakan si berandal itu ya. Aku pergi saja. Kesal rasanya di sini." Sehun pun bangkit dan pergi. Restandi tertawa melihat ulahnya. Arleta datang bersama Alrest dan Trisia. Rion yang mengantar mereka. Trisia akan mengontrol kehamilannya. Sedang Arleta akan memeriksa kehamilannya yang kedua. Seperti yang Restandi katakan Arleta hamil lagi. Dokter Lukman Aria menjadi dokter andalan keluarga Gutama dalam hal kehamilan. Trisia dan Rion yang masuk lebih dulu.


"Bagaimana Trisia, makanmu sudah lebih baik?" tanya Lukman Aria membuka percakapan.


"Jangan tanya dok, dia sekarang suka makan." jawab Rion.


"Kenapa saya jadi rakus ya dok?" keluh Trisia. Dia kadang jadi malu dengan keinginan makannya.


"Bukan rakus, kamu hanya mengejar ketinggalanmu. Bayimu perlu asupan makanan. Sedangkan yang lalu kamu kesulitan melakukannya karena mual dan muntahmu. Sadari saja, kamu sekarang berdua jadi pasti butuh asupan makanan lebih." Lukman Aria sabar menerangkan.

__ADS_1


"Kandungannya sudah lebih kuat. Bayinya sehat. Bagus Trisia semoga bisa terus seperti ini."


__ADS_2