Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
126. Kamu Ratunya


__ADS_3

Armando tidak lapar tapi dia menemani Avery dengan mencoba beberapa hidangan. Ada pelayan yang membantu mereka mengambilkan hidangan. Sesekali keluarga atau teman datang memberi salam pada mereka. Setelah puas Avery memberi isyarat pada Armando, dia sudah siap untuk berdiri lagi. Armando pun membawanya ke tengah pesta. Tapi tamu malam itu memang banyak. Segera Avery merasa lelah lagi.


"Apakah masih lama Ar?" tanya Avery lesu.


"Avery, kau ratunya. Kita bisa pergi dari sini jika kau mau. Besok mereka masih bisa melihatmu di surat kabar atau infotainment." jawab Armando lembut. Tawaran yang menggiurkan. Mereka pun segera meminta pembawa acara untuk melakukan acara lempar bunga. Karena pengantin akan meninggalkan ruang pesta. Ada banyak yang mengharapkan bunga tangan Avery. Para gadis ingin bernasib baik seperti Avery. Bunga tangan jatuh pada salah satu sepupu Avery. Gadis itu sangat bahagia. Armando pun menggendong Avery meninggalkan ruangan. Avery senang Armando melakukannya. Kakinya sudah sangat lelah.


"Ingatkan aku untuk menikah satu kali saja." kata Avery lemah sambil bersandar di bahu Armando.


"Akan aku ingatkan jika kau sedang marah." jawab Armando yang masih menggendong Avery. Ada pengurus acara yang membantu Armando membukakan pintu kamar mereka. Armando segera membawa Avery dan mendudukinya di tepi tempat tidur. Di bantunya Avery membuka sepatunya.


"Ada baiknya berendam sebentar di air hangat." Armando masuk ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk Avery. Dengan kakinya yang bebas Avery melangkah ke meja rias lalu mencopot hiasan rambut dan perhiasannya. Avery lalu membersihkan wajahnya.


"Airmu sudah siap." Armando keluar dari kamar mandi. Avery tersenyum, dia masuk ke kamar mandi. Armando membuka tuxedonya, lalu duduk dan melepas sepatunya. Dia juga lelah tapi tidak selelah Avery. Berendam di air hangat membuat tubuh Avery terasa lebih baik. Tidak lama Avery pun keluar dari kamar mandi. Armando menghampirinya dengan segelas teh hangat.


"Minumlah, biar ku bantu mengeringkan rambutmu." Armando menggandeng Avery ke depan meja rias. Avery pun duduk sambil menikmati tehnya. Armando mengeringkan rambut Avery, dia sudah berjanji tidak akan menyentuh istrinya malam ini. Sebentar saja rambut Avery sudah kering, tehnya juga sudah habis.

__ADS_1


"Tidurlah, kau sangat lelah." Armando membukakan selimut agar Avery masuk ke dalamnya dan tidur. Gadis itu menurut. Sebentar saja dia sudah terlelap. Armando tersenyum, dia membuka kemejanya dan masuk ke kamar mandi. Dia juga ingin mandi. Setelah mandi Armando bergabung bersama Avery. Merajut mimpi hingga esok pagi. Setelah cukup amunisi Armando bangun keesokan harinya. Avery masih terlelap di pelukannya. Armando bangun perlahan. Dia memutuskan untuk mandi. Setelah merasa segar dengan mandinya Armando menghampiri Avery. Dia menempelkan wajah dinginnya pada pipi Avery.


"Avery kau ingin sarapan di kamar atau turun ke bawah?" Armando sambil mencium pipi Avery agar istrinya bangun. Avery mengerjakan matanya, dia merasa pipinya dingin.


"Aku ingin sarapan di kamar saja." jawabnya pelan. Matanya terpejam lagi. Armando pun memesan sarapan ke kamarnya. Sambil menunggu Armando berpakaian. Dia memilih setelan santai. Armando rindu pada putrinya. Dia keluar hendak menjemput Melody. Ketika menuju kamar Frans dan Mauren, keriuhan di kamar Arleta menarik perhatian Armando. Dia pun menghampiri pintu kamar Arleta yang sedikit terbuka dan mengintip ke dalamnya. Tampak Melody sedang bermain di sana. Armando pun masuk. Restandi terkejut melihat Armando yang datang. Tampaknya baru saja sarapan mereka datang. Arleta sedang duduk di sofa dengan wajahnya yang pucat.


"Kau buat anak di sini?" tanya Armando curiga menunjuk pada Arleta. Restandi tertawa.


"Buatnya sudah dari rumah. Mungkin jadinya di sini." Restandi menghampiri Arleta. Dia juga khawatir melihat istrinya yang pucat.


"Baru menikah langsung punya anak dua ya." goda Restandi.


"Tiga sama mamanya." jawab Armando cepat. Di kamarnya masih ada bayi besar sedang tidur. Restandi tertawa, dia membukakan pintu bagi Armando.


"Nanti biar pengasuhnya ke kamarmu membawa sarapan mereka." kata Restandi pada Armando. Pria itu hanya mengangguk sambil membawa anak-anak pergi. Armando kembali ke kamarnya bertepatan dengan sarapannya yang datang. Armando membawa masuk semuanya. Melody langsung berlari menuju kamar. Dia naik ke tempat tidur dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Avery yang merasa terganggu membuka matanya. Dia terkejut dan senang mengetahui Melody yang sedang bersembunyi di depannya. Avery menoleh pada Armando yang tengah menghampirinya sambil menggendong Alrest. Tangan Avery langsung terulur pada bayi tampan itu. Alrest pun menyambutnya. Dia juga ingin bermain di tempat tidur dengan Melody. Armando tersenyum jail. Alrest ini mengikuti keramahan Arleta atau kecentilan Restandi, tau ada wanita cantik ingin menggendongnya.

__ADS_1


"Sarapan dulu ya, nanti kalau mau tidur lagi tidak apa." Armando menawarkan pada Avery sambil mengusap kepala istrinya. Armando beranjak pergi ketika mendengar ada yang mengetuk pintu. Tampak pengasuh Alrest datang.


"Waktunya sarapan untuk anak-anak pak." kata Rina sopan. Dia pengasuh Alrest yang sudah di pilih Arleta. Rina sudah terbiasa mengurus ke dua anak itu.


"Masuklah, kau urus Melody saja. Biar Alrest saya yang tangani." Armando memberi jalan pada Rina untuk masuk. Rina pun memberikan botol susu Alrest pada Armando.


"Avery, Melody harus makan." seru Armando pada istrinya. Avery bangun dan membujuk Melody untuk bangun dan keluar. Sambil menggendong Alrest Avery menggandeng Melody dan menyerahkan pada Rina. Melody memang lapar, dia menurut ketika di suapi oleh Rina. Armando mengambil Alrest dari gendongan Avery. Bayi itu segera menerima botol susu yang di sodorkan Armando. Sambil duduk Armando memangku Alrest yang menikmati susunya. Matanya menatap Armando. Tingkahnya yang menggemaskan membuat Armando tersenyum. Bayi ini jika sudah besar pasti banyak yang suka.


"Nanti jika sudah besar minum susunya kembali ke asal ya." kata Armando pada Alrest. Avery yang mendengar itu langsung melorotkan matanya.


"Masih kecil, jangan di ajarkan yang tidak-tidak." tegur Avery pada suaminya. Armando hanya tertawa. Dia mencium kepala Alrest sayang. Avery membungkuskan roti lapis pada tisyu, lalu memberikan pada Armando. Dengan begitu Armando juga bisa sarapan. Avery duduk di seberang Armando menikmati salad dengan wajah malasnya. Armando menatapnya. Dia suka melihat Avery dengan wajah malas seperti itu. Karena biasanya Avery selalu tampil cantik.


"Aku jadi rindu nasi goreng." kata Avery kemudian.


"Mau ku pesankan?" tanya Armando lembut. Dia tidak tau apa yang di inginkan Avery untuk sarapan pagi ini, jadi dia memesan beberapa macam menu.

__ADS_1


__ADS_2