
"Jangan jajan sembarangan ya. Eva, kalau tidak bersih jangan ya." kata Restandi pada keduanya.
"Iya dok, saya lihat ko buatnya. Di jamin bersih." kata Eva meyakinkan. Restandi pun masuk ke kamar mandi. Sore itu beberapa dokter mampir menengok Nikolas sebelum mereka pulang. Jono sudah datang membawa pesanan Arleta. Eva membawakan selimut baru jika ada yang membutuhkan. Untuk makan malam mereka berkumpul di ruang Nikolas.
"Ibu makan saja ke sebelah, biar baby sama saya. Nanti kalau dia mau susu saya antar ke sebelah." kata Eva pada Arleta.
"Titip ya Eva." kata Arleta, lalu melangkah akan ke luar.
"Makan malam kamu akan di antar Jono Eva. Di tunggu sebentar ya."kata Restandi pada Eva. Tangannya menahan pintu agar Arleta dapat lewat.
"Baik dok." kata Eva sambil duduk menyalakan tv. Karena tidak tau mau melakukan apa. Baby Alrest masih tidur. Restandi dan Arleta masuk ke ruang sebelah, Rion sudah mempersiapkan. makan malam untuk Nikolas, ayahnya ingin makan sendiri. Sofi sedang menyantap makan malamnya dengan tenang. Karena sudah ada Rion yang mengurus suaminya. Nikolas tampak menatap makan malamnya dengan sedih.
"Kenapa pa?" tanya Rion heran. Ayahnya tidak mau makan.
"Sudah terbiasa makanan rumah." kata Nikolas.
"Papa mau tukar sama aku punya?" tanya Rion menyodorkan makan malamnya.
"Kamu mau tukaran?" Nikolas tampak senang.
"Ok kita tukaran." Rion pun memindahkan makanan Nikolas dari rumah sakit. Di taruhnya jatah makan malamnya sebagai ganti. Nikolas pun mulai makan dengan lahap. Restandi melihat Rion meladeni ayahnya dengan tersenyum. Sudah waktunya anak itu berubah, pikirnya. Arleta sendiri sudah menolak di antarkan makanan dari rumah sakit. Dia lebih suka masakan mbok Jumi di rumah.
"Kalau papa mau nanti di bawakan makanan saja dari rumah." usul Rion.
"Iya papa mau dari rumah saja. Papa pingin pulang." kata Nikolas.
"Tidak boleh pulang dulu." kata Restandi cepat.
__ADS_1
"Iya, istirahat dulu di sini, kalau di rumah nanti tidak istirahat. Di bilangin susah."kata Sofi setuju dengan Restandi.
"Papa janji deh, tidak memaksakan diri lagi. Mungkin sudah waktunya papa istirahat ya. Rest kamu mungkin sudah bisa gantikan papa. Rion, kamu bisa bantu kan di rumah sakit." Nikolas berkata tentang pemikirannya.
"Rion baru di beri modal oleh kakak membuka rumah produksi pa. Maaf belum bisa." Rion memang tidak berminat pada rumah sakit.
"Papa masih tetap praktek. Urusan rumah sakit biar aku yang urus." Restandi mengalah. Dia sudah tau satu saat ini harus terjadi. Itu sebabnya dia menyerahkan pengawasan rumah sakit baru pada Sehun. Arleta terdiam, dia tau Restandi akan semakin sibuk. Dia sendiri sedang bingung dengan pekerjaannya. Lalu baby Alrest.
"Pa, praktek saja seperti dokter Lukman, lalu sore pulang bantu aku urus cucu di rumah."kata Sofi menyadarkan suaminya. Kalau mereka sudah punya cucu. Mendengar itu Nikolas bersemangat.
"Setuju ma, sekarang kan kita punya cucu ya. Rumah tidak sepi lagi."kata Nikolas sambil tertawa.
"Wah aku nanti tidak kebagian gendong deh." Rion tau dia tidak punya harapan.
"Kamu bikin sendiri sana. Sudah mahir kan bikinnya?"kata Nikolas tajam. Dia sekaligus menyindir putranya atas kelakuan bebasnya. Rion terdiam tidak berani bersuara. Tapi Restandi melihat ayahnya sudah bisa menerima semua itu. Mungkin mereka harus sering berkumpul begini agar ayahnya tidak banyak pikiran. Arleta segera kembali ke ruangannya. Dia kasihan pada Eva. Sudah waktunya Eva pulang.
"Besok bubur ayamnya jadi Bu?" tanya Eva memastikan pada Arleta.
"Ya Eva, lima ya. Kamu bisa bawanya? buat kamu juga sekalian." jawab Arleta cepat. Dia pesan bubur ayam untuk sarapan besok pagi. Arleta sudah ketagihan bubur ayam yang Eva beli.
"Bisa bu, nanti saya makan di sana saja. Terima kasih bu, saya pulang ya." Eva melangkah pergi. Di tangannya membawa jinjingan. Sekarang teman-teman di mess menantikan Eva pulang. Karena selalu bawa makanan. Restandi masuk ke ruangan. Dia melihat Eva sudah pulang. Di tengoknya Alrest lalu menghampiri Arleta.
"Aku ke ruang kerjaku ya. Kerja sebentar." kata Restandi sambil mencium bibir Arleta.
"Kerja di sini saja." kata Arleta manja.
"Ah nanti aku tidak kerja, malah sibuk pelukin kamu." kata Restandi sambil tertawa.
__ADS_1
"Jangan lama-lama ya, aku tidur duluan. Alrest bangunnya pagi sekali." kata Arleta yang sudah menguap.
"Tidurlah nanti aku kembali." Segera setelah Restandi menghilang Arleta memejamkan matanya, dan terlelap. Armando datang kembali. Dia tau Arleta belum pulang ke rumah. Tapi dia baru tau kalau Nikolas di rawat di sebelah. Armando melihat Arleta tertidur. Dia mandi karena baru kembali dari kantornya. Malam ini dia akan menjaga adiknya. Armando menggendong Alrest, dia sebenarnya rindu pada Melody. Tapi dia belum bisa membawa putrinya pulang. Armando pun meletakan Alrest kembali. Tiba-tiba Rion masuk. Dia terkejut melihat Armando. Pria yang dihindarinya. Armando menatap tajam pada Rion.
"Duduklah, kita harus bicara." kata Armando pada Rion sambil menunjuk pada sofa. Rion pun menurutinya, apa boleh buat. Sudah kepalang tanggung.
"Kapan pernikahanmu?" tanya Armando tanpa basa-basi.
"Mungkin setelah papa sehat. Maaf, tapi aku mencintai Trisia." kata Rion sambil berupaya membaca pikiran Armando.
"Aku tau, itu sebabnya aku melepaskannya untukmu." perkataan Armando membuat Rion terkejut.
"Maksudmu jika aku tidak mencintainya kau tidak akan melepaskannya?" Rion penasaran.
"Betul, sebenarnya Trisia wanita yang baik. Walau caramu salah tapi kau sudah berhasil mendapatkannya. Tolong jaga dia, karena dia bukan tanggung jawabku lagi." perkataan Armando membuat Rion mengerti, Armando peduli pada Trisia. Hanya tidak bisa mencintainya.
"Aku akan menjaganya dengan baik. Karena dia hidupku sekarang." janji Rion.
"Bagus, buktikan pada keluargamu pilihanmu tidak salah. Dan satu lagi yang kau harus tau, Arleta tidak suka pada Trisia. Aku tidak mau ada ketidaknyamanan pada adikku. Jika aku harus memilih antara Arleta dan Trisia, aku pilih adikku." kata Armando tajam, dia dulu pernah memilih Melani dari pada Arleta. Melihat bagaimana adiknya mengalah padanya membuat Armando ingin melindungi adiknya lagi.
"Aku kira Arleta tidak menyukai apa yang aku dan Trisia lakukan." kata Rion menyanggah.
"Tapi Trisia melakukannya dengan sadar. Dia dengan sadar berjalan kearahmu. Berbeda jika dia terpaksa." Armando menandaskan apa yang Arleta pahami. Rion baru sadar sekarang, ternyata ada hal yang dia tidak tau.
"Aku akan meluruskannya." kata Rion kemudian.
"Aku tunggu hasilnya." kata Armando. Restandi masuk. Dia terkejut melihat Armando dan Rion bersama.
__ADS_1