
"Benar kita bisa adopsi anak?" Monika senang mendengarnya.
"Benar. Tapi jangan sekarang ya sayang. Aku masih butuh kamu. Aku butuh seluruh perhatianmu. Kita nikmati dulu berdua ya. Nanti kalau kita sudah rindu punya anak kita akan adopsi." Sehun mencium Monika mesra. Dia memang egois saat ini, tidak mau membagi Monika pada siapa pun. Monika bisa menangkap keinginan Sehun. Maka dia pasrah ketika Sehun bertindak lebih jauh. Monika sudah mempersiapkan dirinya untuk Sehun. Kapan pun Sehun membutuhkan dia selalu siap. Sehun pun sibuk mencurahkan cinta dan sayangnya pada Monika, tidak perduli berkas yang menumpuk di mejanya.
Kevin terus menatap Khanza. Gadis itu tampak cantik hari ini. Baju yang Khanza kenakan sepertinya Kevin baru melihatnya.
"Bapak kenapa sih dari tadi liatin saya terus?" Khanza protes.
"Habisnya kamu cantik hari ini." Kevin memuji terus terang. Khanza tersipu.
"Pak Kevin tadi pagi salah makan ya?" tanya Khanza lagi. Dia sudah risih di tatap bosnya terus.
"Kamu tuh bukan cuma saya yang liatin terus. Tadi Renal juga begitu tapi kamu tidak protes sama dia." Kevin kesal teringat pertemuan dengan rekannya tadi Renal juga terus menatap Khanza kagum. Renal juga memberi isyarat pada Kevin apakah bisa mendekati Khanza. Tentu saja Kevin menolak. Khanza kan sudah jadi incarannya.
"Kalau pak Renal saya tidak berani protes." kata Khanza jujur. Itu kan rekanan bosnya, mana berani dia tegur.
"Kalau sama saya kamu berani ya?" Kevin menatap lekat Khanza. Gadis itu menunduk. Bingung mau jawab apa. Kalau jawab iya nanti bosnya marah. Jawab tidak bosnya akan semakin menjadi. Tapi memang Khanza merasa belakangan ini Kevin perhatian padanya, lembut kadang mesra. Khanza kadang berdebar menerima perlakuan Kevin yang tidak biasa. Seperti di depan Renal tadi Kevin menggandeng Khanza. Dia tidak menolak karena tidak mau membuat bosnya malu. Tapi jujur dia berdebar ketika di gandeng tadi.
"Khanza cantik, kamu mikirin apa sih?" tanya Kevin.
"Bukan apa-apa." Khanza menggelengkan kepalanya.
"Kamu suka tidak kerja sama saya?" Kevin mulai merayu.
__ADS_1
"Suka pak." Khanza menjawab singkat. Dia tidak tau maksud bosnya bertanya begitu. Mendengar jawaban Khanza Kevin berbunga-bunga, suka katanya.
"Kalau sama saya kamu suka?" tanya Kevin penuh misteri. Khanza bingung menatap Kevin.
"Maksud bapak apa sih?" Khanza bingung menjawabnya.
"Kan ada karyawan yang sebal sama bosnya karena galak atau sombong." Kevin mencoba lagi usahanya.
"Saya suka ko sama bapak." jawab Khanza cepat. Dia sudah mengerti maksud Kevin, padahal bosnya itu sedang menjebaknya.
"Saya juga suka sama kamu." Kevin tersenyum senang. Kevin mengantar Khanza pulang.
"Kamu istirahat, nanti malam saya jemput. Harus tampil cantik. Ada kejutan buat kamu." kata Kevin di depan apartemen Khanza. Meski bingung Khanza menurut saja. Dia masuk sambil bertanya-tanya di dalam hati kejutan apa yang akan dia dapat nanti malam. Seperti janji Kevin Khanza kembali di jemput dan di bawa pergi. Kevin suka sekali melihat dandanan Khanza malam ini. Cantik namun natural. Khanza memang pintar memantapkan diri. Mereka datang pada sebuah rumah megah.
"Rumah keluarga saya, kita masuk dulu ya sebentar." Kevin menggandeng Khanza ke dalam rumah. Khanza menurut saja, karena dia tidak tau apa rencana Kevin malam ini. Khanza di perkenalkan pada orangtua Kevin.
"Kita makan malam dulu ya nak. Setelah itu kalian bisa meneruskan acara kalian." kata Riana sambil menggandeng Khanza. Mereka pun makan malam bersama. Sungguh hal ini menyentuh hati Khanza. Dia sudah lama tidak makan bersama keluarganya. Orangtua Kevin bertanya pada Khanza, seperti tentang keluarganya, berapa lama bekerja pada Kevin lalu kesan Khanza tentang Kevin. Walaupun Kevin tidak mengatakan apa pun tapi orangtuanya tau. Tidak mungkin Kevin mengenalkan seseorang tanpa maksud tertentu. Mereka suka pada Khanza. Kevin bisa melihat itu. Tidak ingin Khanza di monopoli keluarganya, Kevin pun membawa Khanza pergi. Di bawanya Khanza ke sebuah cafe dengan suasana romantis. Kevin meminta Khanza duduk di sebelahnya. Malam ini Kevin tidak mau jauh-jauh dari Khanza.
"Terima kadih ya kamu mau makan malam dengan orangtua saya." kata Kevin tulus.
"Loh jadi yang tadi itu kejutannya?" tanya Khanza terkejut.
"Iya, saya mengenalkan kamu pada orangtua saya." Kevin menyenderkan tangannya di belakang Khanza.
__ADS_1
"Tapi pak kita kan atasan dan bawahan." maksud Khanza mereka tidak pacaran.
"Kan tadi kamu sendiri yang bilang kamu suka saya. Dan saya suka kamu. Orangtua saya juga suka sama kamu." Kevin mengurai jebakannya. Khanza bingung harus bilang apa. Kevin kan bukan anak kecil lagi.
"Harusnya bapak bilang dulu sama saya, kalau saya mau di kenalkan sama orangtua pak Kevin." jika begitu Khanza bisa menolak. Dan tidak salah paham begini.
"Kan sudah saya bilang, ini kejutan." jawab Kevin telak. Mana ada kejutan yang di katakan lebih dulu.
"Kamu tidak bisa menolak saya Khanza." mata Kevin lekat menatap Khanza, tangannya mengusap pipi Khanza lembut. Khanza jadi berdebar, di tatapnya Kevin untuk melihat kesungguhan pria itu. Untung saja bosnya hari ini lebih tampan dari biasanya. Kalau tidak Khanza sudah marah-marah. Tapi memang wajah Kevin penuh kesungguhan. Dia tidak main-main.
"Tapi bapak kan mencintai mbak Arleta " kata Khanza lirih.
"Khanza, saya tau saya masih cinta pada Arleta tapi saya tidak mau terus hidup begitu. Jujur saya tertarik pada kamu. Satu-satunya wanita yang bisa menarik hati saya yaitu kamu. Saya sayang sama kamu Khanza. Saya ingin hidup sama kamu dan membangun cinta yang baru. Saya tidak bilang sama kamu tentang malam ini karena saya tidak mau di tolak dan kehilangan kamu. Saya sudah terpikat sama kamu." tatapan Kevin semakin dalam. Membuat Khanza terdiam dan menimbang. Tiba-tiba Kevin bangkit berdiri dan menarik Khanza keluar dari cafe. Kevin menuntun Khanza memasuki mobil. Sambil menjalankan mobilnya Kevin tetap diam.
"Ko tiba-tiba ngajak pulang?" tanya Khanza penasaran.
"Saya ingin cium kamu." Sungguh melihat Khanza menatapnya tadi Kevin ingin menciumnya. Tapi tidak mungkin dia lakukan di cafe. Khanza tersenyum malu. Kevin jadi gemas melihatnya.
"Khanza jadilah bagian hidup saya, sungguh saya sayang kamu." Kevin meraih tangan Khanza, menggenggamnya lalu dia mencium tangan Khanza. Hal itu membuat Khanza berdenyar.
"Kalau di tolak saya di pecat ya?" Khanza berusaha meredakan debat jantungnya.
"Mana tega saya pecat kamu. Nanti kamu malah hilang dari hidup saya. Jujur saya membutuhkan kamu dalam hidup saya Khanza."
__ADS_1