Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
104. Serahkan Khanza Padaku


__ADS_3

Kevin sudah lelah bekerja di kamarnya dia ingin makan siang di luar. Kevin pun turun menuju lobby, dan di sana dia melihat Khanza. Gadis itu baru akan bertanya tentang Kevin ketika di lihatnya orang yang di carinya sudah di depan mata. Khanza menghampiri Kevin. Belum sempat berkata apa-apa seorang pemuda menghampiri mereka.


"Maaf, ini milikmu kan?" pemuda itu menyodorkan dompet pada Khanza. Memang itu miliknya.


"Iya ini dompetku, aku tidak tau kalau ini hilang."kata Khanza terkejut.


"Dompetmu jatuh di club' semalam. Aku menyusulmu tapi kau sudah ke kamarmu." kata pemuda itu. Pemuda yang tadi malam menatapnya dan tersenyum.


"Terima kasih." kata Khanza manis. Dilihatnya isi dompetnya masih utuh. Ternyata pemuda itu baik.


"Sama-sama, hati-hati lain kali." pemuda itu pergi. Ketika Khanza menatap Kevin, tatapan pria itu bagaikan singa.


"Kau pergi ke club' tadi malam?" tanya Kevin tajam.


"Iya tapi aku tidak minum." jawab Khanza tanpa merasa bersalah.

__ADS_1


"Ikut aku makan siang." kata Kevin tanpa ingin di bantah. Khanza pun mengikuti Kevin dengan bingung. Kevin naik darah sebenarnya. Bagaimana jika Revan tau adiknya ke club' malam seorang diri. Kalau dia tau Revita melakukan itu sudah di tariknya adiknya untuk di bawa pulang dan mengurungnya di rumah. Atau mungkin Khanza sudah terbiasa dengan kehidupan yang seperti itu. Kevin akan melepas Khanza pergi, tapi jika tidak Kevin sudah memutuskan untuk mengawal gadis itu pulang. Kevin membawa Khanza ke sebuah restauran. Mereka makan siang terlebih dahulu, sebelum Kevin menanyai gadis itu. Tadinya Khanza senang, Kevin masih ada di hotel dan dia di traktir makan siang. Tapi melihat suasana jadi tegang seperti ini Khanza takut juga. Aura Kevin sangat gelap.


"Khanza, kau tau apa yang kau lakukan? Apakah kau memang sering main ke club'?" tanya Kevin menatap Khanza dengan tajam.


"Aku ke club' jika ada yang mengundangku ulang tahun di sana." jawab Khanza jujur.


"Lalu apa yang membawamu ke club' seorang diri tadi malam?" Kevin melipat tangannya di dada. Sungguh, pria ini sebenarnya tampan, pikir Khanza. Tapi kalau marah tetap saja tidak enak di lihat.


"Aku hanya ingin suasana ramai." jawab Khanza singkat.


"Pria tadi mengikutimu hingga ke hotel. Dia sebenarnya bisa saja mencegatmu di jalan, atau menyusulmu ke kamar hotelmu. Kau bisa bayangkan sendiri apa yang terjadi." Kevin ingin Khanza berpikir, bahaya apa yang yang bisa di dapatnya.


"Bagaimana jika Revan tau tentang hal ini?" tanya Kevin ingin tau.


"Kak Revan tidak boleh tau, dia pasti marah. Sekarang saja dia sudah menghentikan uang sakuolikku." Khanza panik. Kevin jadi tau kelemahan gadis itu. Uang sakunya.

__ADS_1


"Baiklah kita akan pulang siang ini. Aku akan menandatangani kerjasama itu di depan Revan, lalu kau harus katakan pada Revan apa yang kau lakukan di sini. Aku tidak mau menjadi seorang pengadu." Kevin tidak mau meninggalkan Khanza sendirian. Gadis itu sangat berani. Khanza kesal dalam hatinya, tapi tidak berani di ungkapkan. Dia tidak suka pada Kevin yang di anggapnya suka seenaknya. Datang ke Australia hanya untuk kencan. Khanza tidak tau jika Kevin punya pertemuan lain. Untuk apa dia jauh-jauh menyusul jika perjanjian itu di tanda tangani di depan Revan juga. Tapi Khanza ingat ancaman Revan tadi pagi, maka dia mengatur strategi agar Kevin memberi tanda tangannya, Khanza tidak dapat lepas darinya. Mereka makan siang tanpa berbincang. Khanza malas menanggapi Kevin, dia lebih suka mengamati sekitarnya. Dia juga memberi pesan pada Revan, jika Siang ini dia akan pulang. Kevin sendiri lebih suka mengamati Khanza. Gadis cantik itu tetap tenang menikmati makan siangnya. Rupanya dia sudah terbiasa menghadapi Omelan kakaknya. Tapi selama Khanza tidak rewel dan keras kepala Kevin sudah senang mendampingi gadis itu. Setelah makan siang, mereka kembali ke hotel. Ternyata pemuda tadi pagi telah menunggu Khanza di lobby. Dia ingin mengenal Khanza lebih jauh dan mengajaknya jalan-jalan. Khanza menolak dengan alasan dia akan pulang. Kevin semakin merasa keputusannya membawa Khanza pulang sangat tepat.


"Maaf, jangan temui dia lagi. Dia kekasihku." kata Kevin pada pemuda itu. Sih, sih bapak ini pikir Khanza. Kalau kekasihnya dengar habislah dia. Khanza masih menyimpan kata-kata Kevin, jika kekasihnya marah karena kedatangan Khanza pada kencan mereka tadi malam. Pemuda itu percaya pada Kevin dan meninggalkan mereka. Kini Kevin tau mengapa pemuda itu tidak menitipkan saja dompet Khanza di lobby. Ternyata ingin mengenal Khanza. Kevin jadi membayangkan jika adiknya Revita yang mengalami ini. Untungnya Revita tidak seceroboh Khanza. Mereka masuk ke kamar masing-masing dan bersiap untuk pulang. Sebenarnya Khanza masih ingin menikmati keberadaannya di sini. Tapi tampaknya Kevin tidak dapat di bantah. Di perjalanan pulang Khanza sibuk dengan dunianya sendiri. Ada seorang anak kecil yang duduk di depannya. Gadis itu senang mengintip Khanza. Hal itu menjadi hiburan bagi Khanza. Dia menggoda gadis kecil itu hingga tertawa. Kevin melihat Khanza hidup dengan riang, tanpa punya beban. Yah dia kan selama ini di manjakan. Tapi apa yang di alami gadis itu sekarang tidak membuatnya merajuk, marah atau melakukan hal yang menjengkelkan. Dia masih mau mengikuti apa yang Revan inginkan. Khanza masih bisa di arahkan. Hanya Revan yang mungkin tidak punya banyak waktu untuk mengurus adiknya. Revan sudah menikah dan baru memiliki anak, belum lagi mengurus perusahaannya di tambah Khanza. Tepat seperti yang di rencanakan, perjanjian di tanda tangani di kantor Revan. Khanza yang merasa tugasnya sudah selesai langsung pamit. Dia tidak mau mendengar Revan marah-marah padanya. Revan pun membiarkannya pulang karena dia ingin bicara pada Kevin.


"Sorry adikku menyusahkanmu." kata Revan pada Kevin.


"Serahkan dia padaku." balas Kevin serius.


"Maksudmu?" tanya Revan bingung.


"Biar dia kerja padaku, di kantorku. Di sini dia hanya menyusahkanmu." kata Kevin menjelaskan. Menurut Revan Kevin benar. Khanza bekerja sesuka hati, sering terlambat dan tampaknya sudah terbiasa di omelin olehnya.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" tanya Revan penasaran.


"Aku akan membuatnya terbiasa untuk bekerja. Itu saja." jawab Kevin.

__ADS_1


"Ok, kau atur saja. Tapi jangan mengeluh nantinya. Kau sudah tau adikku seperti apa." kata Revan, dia dengan senang hati menyerahkan adiknya pada Kevin. Ini mengurangi pekerjaann


"kau tidak keberatan dengan yang ku lakukan pada adikmu?"


__ADS_2