Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
164. Upaya Restandi


__ADS_3

Restandi hampir menangis melihat bayinya yang di bawa perawat untuk di bersihkan.


"Bagus Arleta. Masih boleh lima lagi." Lukman Aria menggoda pasangan itu. Restandi tidak bisa marah, dia sangat senang mendapat anak perempuan seperti yang di harapkannya. Arleta pun di pindah ke ruang rawat. Dia tertidur karena lelah. Restandi menggendong bayinya dengan puas dan bahagia. Rion masuk untuk melihat Arleta.


"Kakak, harusnya kalau mau menggendong bayi perempuan kau gendong saja anakku. Kasihan kan Arleta kesakitan." Rion berkata dengan kesal. Dia saja tidak mengijinkan Trisia hamil lagi.


"Kamu lihat dong, putri cantik begini siapa yang menolak?" jawab Restandi gemas. Arleta sendiri tidak keberatan hamil lagi.


"Iya dia cantik. Dia akan jadi saingan putriku nanti." Rion mengakui bayi Restandi cantik.


"Siapa namanya kak?" tanya Rion ingin tau.


"Alrista Mahira Gutama." jawab Restandi.


"Sekarang anakmu sudah lengkap laki-laki dan perempuan. Biar Arleta istirahat tidak perlu hamil lagi." kata Rion menggurui.


"Kamu itu adikku atau adiknya Arleta sih?" tanya Restandi kesal. Rion cuma tertawa. Dia meninggalkan Restandi Kartika dilihatnya Nikolas dan Sofi datang. Dia harus mengawasi anak-anak di rumah.


Karena mendengar Arleta melahirkan Armando memutuskan untuk pulang dulu bersama Avery dan Melody. Zakhary juga sudah sehat, tapi dia belum pergi bekerja. Hanya ada beberapa laporan yang di bawa pulang untuk di periksa olehnya. Tapi Zakhary yakin Lionel mampu menggantikan memimpin usahanya. Walaupun dia berharap Armando mau membantunya. Armando bertanya pada Larasati, apakah mau ikut pulang bersama mereka. Larasati tidak punya alasan untuk tetap tinggal. Hubungannya dengan Lionel akan dia pikirkan dulu. Berbeda dengan Lionel yang merasa sedih di tinggal Larasati.

__ADS_1


"Lara, tidak bisakah kau tetap tinggal di sini?" tanya Lionel sendu.


"Lio, aku tetap harus pulang dulu. Bukan berarti kita tidak bisa komunikasi kan ." Larasati bersikap positif.


"Tapi aku akan kehilanganmu. Janji padaku kau akan kembali lagi nanti." Lionel ingin rasanya mengikat Larasati. Tapi gadis itu belum membuat keputusan. Larasati juga sedih, dia sudah terbiasa bertemu Lionel dan menerima perlakuan manis pria itu. Tapi hatinya masih ragu. Larasati merasa dirinya tidak sepadan dengan Lionel. Maka tiba waktunya dia kembali. Bersama Armando dan Avery Larasati kembali ke Indonesia. Wajah cerah Lionel menghilang. Sherry bingung melihat atasannya muram. Tapi melihat Larasati tidak muncul lagi, Sherry membuat kesimpulan sendiri. Larasati menyibukan dirinya di rumah sakit. Restandi yang sedang bahagia mendapat putri cantik tidak lepas perhatiannya pada masalah Larasati. Restandi mengajak Larasati untuk bicara dari hati ke hati.


"Lara, jujur pada saya bagaimana pekerjaanmu di sana? Apa yang membuatmu murung?" tanya Restandi penuh perhatian.


"Pekerjaannya tidak masalah dok. Hanya saja ada beban yang saya bawa pulang." kata Larasati jujur.


"Apa itu karena seorang pria?" tanya Restandi menebak.


"Jadi menurutmu kau itu biasa. Menurut saya tidak begitu. Seorang pria luar biasa berminat padamu berarti kau tidak biasa. Tapi punya sesuatu yang dia butuhkan. Bayangkan pria luar biasa membutuhkan kamu." Restandi mengurai pendapatnya.


"Dokter ini membuat saya besar kepala. Saya tidak percaya saya sehebat itu." Larasati keras kepala. Walau begitu perkataan Restandi tersimpan di kepalanya. Apa lagi dengan usaha Lionel yang terus menghubunginya. Meskipun hanya untuk bertanya tentang kabarnya dan mendengar suaranya. Restandi melihat upaya mereka memperkenalkan Lionel dan Larasati sudah baik. Hanya kepercayaan diri Larasati yang tidak baik. Restandi harus mencari cara lain untuk membantu Larasati. Dia kembali harus berpikir. Restandi bicara pada Arleta.


"Sayang, aku akan pergi beberapa hari mengantar Larasati ke Amerika." kata Restandi pada istrinya sambil menggendong putri mungilnya.


"Ke Amerika? Memangnya apa yang akan kau lakukan di sana?" Arleta heran. Dia tau Restandi dan Armando tengah membantu Lionel mendapatkan Larasati.

__ADS_1


"Aku mengadakan study banding dan membawa Larasati ke rumah sakit besar di sana. Rumah sakit ini bekerja sama dengan perusahaan Lionel." Restandi tersenyum misterius. Arleta mengerti sekarang.


"Kami tidak kangen pada putrimu?" tanya Arleta menggoda Restandi.


"Kangen dong, kalau bisa si kecil ini akan ku bawa." Restandi menciumi putrinya.


"Sudah-sudah nanti dia menangis." protes Arleta.


"Kau tidak lihat dia tertawa." Restandi menghampiri Arleta. Di ciumnya pipi istrinya mesra.


"Dia tertawa terus, itu tandanya dia bahagia ketika di perut ibunya. Aku kan sering membuatmu melayang bahagia ketika kau mengandung Alrista." Restandi mengedipkan matanya penuh makna. Arleta jadi kesal. Teori apa itu.


"Sudah sana pergi, dengan siapa saja kau pergi?" tanya Arleta. Apa mungkin suaminya mau pergi berdua saja dengan Larasati.


"Aku pergi bertiga dengan Dio. Nanti aku pulang, kalau kau sudah siap kubuat melayang lagi." Restandi tersenyum mesra. Sudah rindu dia dengan istrinya.


"Dasar suami mau enaknya saja." Gerutu Arleta. Hal itu tidak membuat Restandi menyurutkan keinginannya menciumi istrinya. Waktu keberangkatan pun tiba. Dengan alasan study banding Restandi membawa Larasati kembali ke Amerika.


"Dokter yakin saya yang di bawa untuk study banding?" tanya Larasati ragu. Padahal mereka tengah berada di pesawat.

__ADS_1


"Ya kamu dan Dio yang akan melakukannya. Ini juga untuk masa depanmu Lara. Saya minta kamu lakukan yang terbaik. Buktikan dirimu bisa." perkataan Restandi bermakna ganda. Masa depan Larasati bersama Lionel. Karena tidak percaya diri, Larasati harus berupaya membuktikan dirinya hebat. Larasati menatap mentornya penuh haru. Harusnya Restandi saat ini tengah bahagia menimang putrinya. Tapi rela mengantarkannya menuju masa depannya. Larasati juga teringat bahwa dia akan bertemu lagi dengan Lionel. Pria itu pasti akan meminta jawaban atas permintaannya. Ketika dia akan pulang Lionel tampak begitu berat melepasnya. Benar kata mentornya, dia harus membuktikan dengan upayanya sendiri kalau dia dokter yang patut di perhitungkan. Larasati lebih tenang sekarang. Dia punya tujuan pasti. Lionel yang mendengar Larasati akan datang kembali tidak sabar melihat gadis itu. Dia tau kedatangan Larasati kali ini kembali atas upaya Restandi. Pria itu betul-betul membantunya. Lionel akan lebih keras menangkap gadis itu dalam pelukannya kali ini. Restandi, Claudio dan Larasati tiba di New York. Hotel yang di pilih Restandi tidak jauh dari rumah sakit. Ini memudahkan kedua asistennya untuk datang ke rumah sakit. Untuk beberapa waktu mereka akan jadi dokter pengamat di rumah sakit. Walaupun ilmu mereka tidak kalah dengan para dokter di rumah sakit tersebut. Ini kesempatan baik .


__ADS_2