
Armando membalas ciuman Avery lembut. Avery dapat merasakan Armando lebih pandai di banding dirinya. Sebentar saja Armando yang sudah menguasainya.
"Avery, kamu mau aku melakukannya sekarang. Saat malam pengantin kita atau nanti jika kamu sudah siap?" tanya Armando lembut.
"Nanti saja kalau aku sudah siap. Aku masih takut." jawab Avery malu.
"Kenapa? apa ada sesuatu yang buruk pernah terjadi padamu?" Armando menatap curiga.
"Bukan itu. Karena ini pertama kalinya bagiku, lagi pula Melani bilang kamu buas di tempat tidur." wajah Avery memerah membicarakannya. Armando tertawa. Di peluknya Avery dengan hangat.
"Aku janji tidak akan menyakitimu dan tidak akan kasar padamu." Armando suka istri ke tiganya ini. Hanya pada Avery hatinya merasa tenang di banding bersama wanita lain. Buktinya Armando bisa menikahinya. Armando suka Avery menyentuhnya. Dengan Trisia dulu Armando tidak bisa menerima sentuhannya, tubuhnya menolak. Walau dia tau Trisia tulus mencintainya. Mungkin dia sudah menganggap Trisia seperti adiknya sendiri. Bertahun-tahun Trisia ada di sampingnya hati Armando tidak berubah. Belakangan Armando memang peduli pada Trisia tapi bukan sebagai pria pada wanita. Lebih tepatnya sebagai kakak pada adiknya. Armando merasa bersalah sudah mendukung keinginan gadis itu padahal dia tidak bisa mewujudkannya. Dengan Avery Armando merasa berbeda. Mungkin karena sudah terbiasa bersama dalam mengurus Melody. Atau ada hubungannya dengan Melani. Entahlah. Yang jelas Avery sekarang adalah istrinya. Tugasnya membuat Avery bahagia. Armando mencium pipi Avery dengan sayang.
"Istirahatlah, nanti malam pasti lelah." Armando menurunkan Avery dari pangkuannya. Avery tersenyum manis. Armando kadang galak tapi hari ini bersikap manis padanya. Ketika Armando merebahkan diri di tempat tidur Avery justru sibuk menenteng sepatu dengan haknya yang tinggi.
"Jangan terlalu tinggi, nanti kakimu sakit." protes Armando. Dia mengawasi tingkah istrinya.
"Tapi sepatu ini cantik." bantah Avery sambil menatap sepatu itu.
"Avery para undangan tidak akan melihat kakimu." Armando bangkit lalu menghampiri Avery. Diambilnya sepatu itu, di masukkan ya kedalam dus. Di simpannya ke dalam laci.
__ADS_1
"Kalau berani mengeluarkannya lagi, aku akan betul-betul membuangnya." kata Armando mengancam. Avery cemberut, tapi lalu dia mengambil sepatu lain yang haknya lebih rendah. Armando pun menghampiri meja rias Avery. Di lihatnya perhiasan-perhiasan yang tadi Avery perhatikan. Satu-satu Armando menutup kotaknya, toh Avery akan mengenakan perhiasan darinya. Tapi ada satu perhiasan yang membuat Armando terpaku. Kalung dengan model klasik, walau tidak banyak berlian yang menghiasinya tapi kalung itu terlihat cantik. Armando ingat Avery mengenakan kalung itu ketika pengucapan janji tadi.
"Avery, dari mana kau dapat kalung ini?" tanya Armando penasaran. Avery menghampiri Armando dan melihat kalung yang di maksud.
"Itu milik mama. Papa memberikannya pada saat melamar mama." jawab Avery dengan wajah penuh haru.
"Kau tidak ingin mengenakannya nanti malam?" Armando tau arti kalung itu.
"Tidak aku ingin mengenakan perhiasan darimu." Avery merangkul Armando dan mencium pipinya. Ungkapan terima kasihnya atas hadiah yang Armando berikan.
"Sebaiknya kau naik ke tempat tidur dan baringkan tubuhmu." kata Armando tegas pada Avery. Awalnya Avery tidak suka dengan ide itu, tapi ternyata belum lama dia membaringkan tubuhnya dia sudah terlelap. Armando tersenyum melihatnya. Armando pun segera membereskan semua perhiasan itu. Di masukkannya ke dalam satu box besi yang kokoh. Asisten Avery akan membawa pulang barang- barang yang tidak di gunakan. Armando tidak suka kamarnya penuh dengan barang-barang. Sebenarnya jika Avery tidak mau melakukan malam pertamanya, Armando ingin pulang saja. Tapi dia khawatir keluarga gadis itu akan menganggapnya mengabaikan Avery. Armando tengah di balkon menatap pemandangan di sekitar hotel ketika ada yang mengetuk pintu. Tampak seorang gadis di depan pintu ketika Armando membukanya.
"Tidak, kau datang tepat waktu. Masuklah." kata Armando ramah. Mona pun masuk.
"Aku ingin kau segera membawa barang-barang yang tidak di butuhkan agar kamarku lebih lega. Tapi tolong jangan berisik karena Avery sedang istirahat." Armando mengajak Mona ke kamar dan menunjuk ke pembaringan di mana Avery tengah pulas tertidur.
"Baik tuan." Mona tersenyum. Dia tau pernikahan ini bukan karena cinta. Tapi perlakuan Armando pada Avery di anggap Mona sangat baik. Armando mengambil sepatu Avery tadi dari dalam laci.
"Ini harus di singkirkan." kata Armando sambil menyerahkan dua sepatu itu pada Mona. Karena penasaran Mona mengintip isi dus itu. Setelah melihat Mona mengerti, hak sepatu itu terlalu tinggi.
__ADS_1
"Mona tolong pesankan makanan kecil untuk kami. Aku tinggal dulu sebentar. Aku titip istriku." Armando berkata pada Mona dan meninggalkannya ketika Mona mengangguk. Armando keluar dari kamarnya. Dia akan mencari Melody. Keluarganya juga menginap di hotel itu. Kamar Frans tidak jauh dari kamar Armando. Sebentar saja Armando sudah membawa Melody ke kamarnya. Melody sangat senang di lepas di kamar Armando. Dia berlari dan mengganggu Mona bekerja. Tapi Mona menanggapi Melody. Mona suka pada Melody. Armando memanggilnya, tidak mau Melody mengganggu Mona bekerja. Kudapan pun datang. Armando memangku Melody dan memutar kartun di Tv. Di berinya kentang goreng pada putrinya, Melody pun sibuk dengan kartun dan kentang goreng di tangannya. Melody tertawa senang ketika sang tokoh berulah. Armando pun tersenyum melihat tingkah kartun itu. Mona, dia tersenyum melihat tingkah Melody. Mona pun selesai dengan tugasnya. Dia memanggil dua orang untuk membantunya.
"Saya sudah selesai tuan." Mona pamit pada Armando.
"Terima kasih Mona." Armando menjawab sambil tersenyum pada Mona. Armando pun kembali memperhatikan Melody. Avery terbangun, melihat Melody hatinya senang.
"Sedang apa cantik?" Avery menyapa Melody yang langsung merentangkan tangannya minta di gendong oleh Avery. Tentu saja Avery segera menggendongnya. Armando bangkit dari duduknya, membiarkan Avery yang duduk dan memangku Melody. Karena terdengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ketika dia membuka pintu tampak Mauren dan Frans di depan pintu.
"Ar, Melody bersamamu?" tanya Mauren. Armando mempersilahkan orangtuanya masuk. Tampaklah Melody yang di pangku Avery. Melihat kentang goreng di tangan Melody Mauren langsung protes.
"Avery kau membuat Melody tidak bisa makan nanti." Mauren menegur sayang pada menantunya.
"Aku tidak tau, dia sudah pegang ini ketika aku melihatnya." Avery tersenyum melihat Melody yang tampak menyukai kentang gorengnya.
"Sepertinya dia lapar mam." seru Armando melihat putrinya asik memakan kentang goreng.
"Baiklah, mam akan meminta makanan Melody agar di siapkan." Mauren segera menelpon seseorang.
"Sini sama opa yuk." Frans membujuk Melody.
__ADS_1