Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
94. Makan Malam Aneh


__ADS_3

"Dia cekatan ya." Armando menilai Eva.


"Rajin dan tidak kurang ajar." balas Restandi.


"Aku mandi dulu ah. Selesai makan aku minta Arsen jemput untuk ke kantor." kata Armando sambil berdiri.


"Ya kalau malas ketemu mama, lebih baik kabur ke kantor." perkataan Restandi menyadarkan Armando. Bisa saja Mauren datang ke rumah sakit. Dia pun segera mandi. Selesai menghabiskan buburnya Arsen datang menjemput.


"Kakak pergi dulu ya Leta." Armando mencium kening Arleta. Eva yang melihat itu diam-diam kagum pada Armando. Sudah tampan, kaya tapi tidak sombong dan sayang pada adiknya. Eva tidak tau sejak mengenal Melani Armando banyak berubah. Arleta tersenyum melihat kepergian kakaknya. Sebenarnya dia masih ingin berbincang dengan Armando, tapi dia tau kakaknya menghindari Mauren. Di rumah Rion tengah bicara pada mbok Jumi makan malam apa yang akan di hidangkan. Karena nanti malam Rion akan mengajak Trisia untuk makan malam di rumah dan memperkenalkannya secara resmi pada orang tuanya. Mbok Jumi menurut saja apa yang di inginkan Rion. Pemuda itu begitu semangat. Mbok Jumi ikut senang Rion akan mengenalkan calonnya, tanpa mbok Jumi tau permasalahannya. Sofi yang tau rencana Rion buru-buru ke rumah sakit bertemu menantunya. Dia enggan memasak untuk nanti malam. Bagi Nikolas menengok Arleta mudah karena dia bekerja di rumah sakit. Nikolas senang Sofi datang menemaninya bekerja. Dia tidak menyadari apa yang membuat Sofi demikian. Apalagi jika bertemu Mauren, Sofi jadi tidak enak. Tapi sebisa mungkin Sofi menutup rapat mulutnya.


"Ma, mama mau bawa kue buat di rumah?" tanya Arleta pada Sofi.


"Boleh deh, mama jadi tidak perlu beli kue." jawab Sofi. Arleta tidak tau akan rencana Rion malam ini. Sofi tidak memberi tau. Rion juga tidak mengatakan pada Arleta. Dia sengaja menggunakan kesempatan ini agar Trisia tidak merasa malu atau sungkan karena ada Arleta di rumah. Arleta pun memilih sendiri kue yang terbaik untuk Sofi bawa pulang. Sofi terharu. Arleta tidak tau kalau kue itu akan Sofi suguhkan pada Trisia. Padahal walau pun tau Arleta tetap akan memberikan yang terbaik untuk mertuanya itu. Karena sudah sore Sofi pun pulang. Dia pulang bersama Nikolas. Karena Sofi seharian di rumah sakit dan mbok Jumi sibuk dengan urusan Rion, maka Restandi terlantar.

__ADS_1


"Eva, kamu belikan bubur ayam seperti yang tadi pagi." kata Restandi pada Eva.


"Kamu tadi pagi beli bubur ayam Rest. Ko aku tidak di belikan?" tanya Arleta menatap Restandi.


"Jatah kamu di makan Armando." kata Restandi agar Arleta tidak marah.


"Dokter nakal ya." bisik Eva ada Restandi. Dia tau Restandi memang tidak membelikan bubur buat istrinya. Restandi melototkan matanya mengancam Eva.


"kamu lebih baik makan makanan rumah sakit saja atau dari rumah. Lebih sehat. Kan kamu sedang menyusui." jawab Restandi lembut. Arleta tidak bisa marah. Dia sadar suaminya dokter.


"Tapi kali ini saja boleh ya aku makan bubur ayam. Aku bosan." kata Arleta memelas. Restandi mengalah, dia mengangguk.


"Eva, beli bubur ayam. Kamu juga sekalian trus nanti makan di sini bertiga ya." kata Arleta pada Eva.

__ADS_1


"Siap Bu." Eva semangat.


"Eva, sambalnya jangan banyak-banyak." kata Restandi mengingatkan. Arleta suka makan pedas.


"Ok pak bos." Eva segera melesat pergi. Dia juga sudah lapar. Sebenarnya dia membelikan bubur untuk Restandi di restauran. Eva sudah tau bubur di sana tidak banyak MSG dan kaya bumbu maka lebih mahal tapi enak. Untuk dia sendiri tidak sanggup dengan harga bubur itu. Dia cuma sanggup beli bubur abang-abang biasa. Tapi tidak mungkin dokter Restandi dan pak Armando dia belikan bubur murah itu. Sekarang dia dapat kesempatan makan bubur mahal untuk makan malam tidak keberatan lah. Eva segera kembali. Semua bubur tidak pakai sambal, dia minta sambal di pisah. Jadi jika Bu Arleta ingin makan sambal banyak pasti di cut tuh sama pak dokter. Buat Eva tidak pakai sambal tidak masalah, asal buburnya hangat. Apa lagi ternyata sambalnya di buang oleh Restandi sambil tersenyum manis. Arleta tidak marah. Karena dia ada maunya.


"Rest besok pagi aku boleh makan bubur lagi?" tanya Arleta manis.


"Ibu minta sarapan bubur ayam saja besok pagi." kata Eva mengusulkan.


"Buburnya beda." kata Arleta pura-pura sedih.


"Minta mbok Jumi buatkan bubur ayam saja ya, Jono yang antar pagi-pagi ke sini." kata Restandi sambil mengusap kepala Arleta sayang. Arleta menyerah. Restandi keluar untuk memeriksa pasiennya. Di rumah tengah berlangsung makan malam. Rion memperkenalkan Trisia, calon istrinya. Suasana sangat canggung. Nikolas tidak banyak bicara, Sofi sering di beri isyarat oleh Rion untuk bertanya. Tapi memang Sofi tidak dapat menipu hatinya. Selesai makan malam mereka pun membicarakan tentang lamaran dan acara pernikahan. Mereka sepakat untuk di laksanakan secara sederhana dan tertutup. Pernikahan akan di adakan di kediaman Gutama. Ketika di perlihatkan bangunan di mana Rion dan Trisia akan tinggal, Trisia langsung tau. Bahwa dia menantu yang tidak di harapkan. Tidak seperti Arleta yang berdiam di rumah utama. Tapi mau bagaimana lagi. Jika sikap orang tua Rion secanggung itu mungkin lebih baik jika Rion dan Trisia tinggal di tempat terpisah. Rumah itu boleh di isi dengan perabot sesuai selera mereka. Rion sih tidak masalah, yang penting hubungannya dengan Trisia di restui. Trisia jadi melihat hanya Rion sekarang yang dia andalkan. Dulu menikah dengan Armando, dia di perlakukan baik oleh mertuanya. Walau tidak di cintai suami. Saat ini Rion cinta padanya tapi sikap mertuanya sangat dingin. Tapi jalan ini yang sudah di pilihnya. Setelah selesai Rion pun mengantar Trisia pulang. Pagi hari seperti biasa Restandi menjalani rutinitasnya seperti biasa. Tiba-tiba dia di kejutkan dengan kabar ayahnya jatuh pingsan di ruang kerjanya. Restandi pun segera mencari ayahnya. Nikolas di bawa ke U.G.D untuk di periksa. Hasilnya ternyata dia kelelahan dan mungkin ada beban pikiran. Dokter Satya di UGD menyarankan Nikolas di rawat agar bisa benar-benar beristirahat. Restandi pun menanti Nikolas siuman. Dia bertanya-tanya ada apa gerangan yang membuat ayahnya menjadi seperti itu. Restandi mengabarkan pada Sofi dan ketika Sofi datang dia bertanya ada apa dengan Nikolas. Menurut Sofi Nikolas belakangan mengeluh jika dia cepat lelah dan pekerjaannya di rumah sakit rasanya mulai tidak sanggup lag untuki dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2