Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
28. Rahasia Rika


__ADS_3

"Kenapa Leta bisa begitu lekat pada Restandi. Padahal Leta tidak mencintainya". tanya Kevin tidak mengerti pada Rangga.


"Restandi memperlakukannya bagai Ratu. Pada saat Arleta terluka dia selalu memperhatikannya". Rangga mengutarakan analisanya.


"Dia menurut sekali pada Restandi". Kevin masih bingung atas Arleta.


"Leta juga nurut sama Abang. Dia memang gadis penurut". perkataan Rangga mematahkan kebingungan Kevin. Gadis penuturnya akan segera jadi milik orang lain.


Arleta datang ke rumah sakit untuk makan siang dengan Restandi. Namun rupanya dokter itu tengah rapat untuk penanganan seorang pasien yang akan menghadapi operasi besar. Karena sudah terlanjur datang Arleta memutuskan menunggu Restandi. Tidak sengaja Arleta bertemu Rika. Dokter Rika langsung tersenyum melihat Arleta.


"Kau menunggu Restandi ya. Aku dengar dia sedang rapat". tanya Rika ramah.


"Iya betul". jawab Arleta singkat. Dia merasa Rika ramah karena peristiwa di cafe yang lalu.


"Mau ke kantin bersamaku? Kita minum kopi, ada yang ingin kubicarakan denganmu". tanya Rika berharap. Arleta sedikit terkejut.


"Ok". jawab Arleta karena ingin tau apa yang akan di bicarakan Rika padanya. Mereka pun berlalu ke arah kantin rumah sakit. Monika yang melihat mereka hanya menatap dengan heran. Mereka menempati kursi di ujung ruangan. Rika memesan kopi untuknya dan teh untuk Arleta yang menikmati kue tradisional yang ada di kantin itu.


"Maaf aku mengganggu waktumu. Aku mau mengembalikan saputanganmu. Aku menunggumu datang ke sini. aTerima kasih untuk perhatianmu". Kata Rika membuka percakapan. Arleta tersenyum menerima saputangannya.


"Tidak apa kalau kau datang ke tempatku untuk bertemu". Arleta lega setelah tau maksud Rika ingin bertemu dengannya.


"Aku merasa sungkan saja. Aku tidak punya teman Arleta. Aku ingin jujur padamu karena ku lihat kau tulus padaku". Rika memuji Arleta. Selama ini dia berpikir Arleta pasti gadis yang angkuh karena statusnya. Apalagi dia bertunangan dengan Restandi.


"Aku melakukan apa yang sudah seharusnya". kata Arleta merendah.


"Arleta aku bukan wanita sepertimu. Terus terang aku yatim piatu. Ada keluarga berada yang mengadopsi aku karena mereka belum memiliki anak". Rika bercerita dengan jujur. Arleta terkejut.

__ADS_1


"Tapi kau senang kan, mereka menyayangimu dan menyekolahkanmu hingga menjadi dokter".


"Awalnya begitu, tapi ketika mereka memiliki anak sendiri aku tidak di perdulikan. Aku berusaha menarik kasih sayang mereka lagi dengan belajar keras dan berupaya menjadi pintar. Tapi sia-sia. Adik Perempuanku gadis manja yang selalu iri akan prestasiku di sekolah. Dia selalu mencari cara agar orangtuaku marah padaku". wajah Rika berubah sedih.


"Astaga, pasti hari-harimu tidak menyenangkan". kata Arleta prihatin.


"Tepat sekali. Aku tidak punya teman karena sibuk belajar. Hingga aku dapat beasiswa kuliah di luar negeri itu aku ambil karena tidak tahan di rumah. Lalu aku bertemu Restandi. Aku langsung jatuh cinta padanya. Tapi dia juga tampaknya sibuk mencurahkan perhatiannya pada kuliahnya. Melihat Restandi menjadikan hariku lebih berwarna, walau dia tidak pernah meliriku. Tapi dia tidak pernah kasar. Itu sebabnya aku terus mengikutinya". Rika tersenyum malu menceritakan rasa sukanya pada Arleta.


"Betulkah dia tidak memperdulikanmu?". tanya Arleta penasaran.


"Bukan hanya aku. Setiap gadis yang suka padanya". jawaban Rika melegakan hati Arleta. Jadi Restandi tidak berbohong jika dia tidak dekat dengan Rika.


"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?". Arleta penasaran akan kehidupan Rika.


"Aku pulang dengan nilai bagus, namun juga tidak di hargai. Karena terus di perlakukan dengan buruk aku memutuskan keluar dari rumah dan tinggal sendiri". Rika bicara sambil memainkan gelas kopinya.


"Aku mengejar Restandi hingga ke rumah sakit ini. Karena melihatnya membuat hatiku senang. Aku ingin sibuk dengan duniaku saja". Rika menatap Arleta ingin tau apakah Arleta marah dengan perkataannya. Namun Arleta tetap tenang.


"Lalu aku hadir di duniamu". Sahut Arleta. Rika tersenyum. Dia harus mengakui Arleta benar.


"Aku tidak menduga Restandi mau di jodohkan. Dan wanita pilihan orangtuanya sebaik dirimu. Aku iri pada dirimu Arleta. Aku jadi sadar siapa diriku". Rika berkata sedih. Arleta jadi merasa tidak enak.


"Lalu apa yang terjadi kemarin?". Arleta berusaha mengubah topik pembicaraan.


"Yang kemarin di cafe adalah mamaku. Seperti biasa walau aku sudah menghindari mereka ada saja yang di lakukan adikku agar orangtuaku marah". jelas Rika.


"Maksudmu?". Arleta tidak mengerti jika mengingat perlakuan wanita kemarin pada Rika.

__ADS_1


"Mamaku sudah menyuruhku pulang ke rumah karena adikku membuat ulah. Namun aku menolak. Untuk apa pulang hanya untuk mengalami hal yang tidak menyenangkan. Dulu aku selalu menuruti mereka, tapi sekarang aku sudah muak". Rika tersenyum sinis.


"Jadi itu sebabnya kau tidak ramah ya". Arleta berkesimpulan.


"Kasar maksudmu? ya aku menyimpan kemarahan atas hidupku maka aku jadi pemarah".Rika mengakui sikapnya selama ini.


"Tapi kau masih lebih beruntung Rika. Kau bisa mencapai cita-citamu menjadi dokter". Arleta mengingatkan Rika. Banyak orang yang tidak bisa kuliah dan mengejar cita-cita mereka.


"Itu sebabnya aku tidak membenci mereka Arleta. Aku hanya muak terus menerus di persalahkan atas kesalahan yang tidak kuperbuat". Arleta mengerti perasaan Rika. Dia sungguh tidak menyangka hidup gadis itu tidak seperti gosip yang di dengarnya.


"Arleta, apa yang kau lakukan di sini?". Tiba-tiba Restandi bertanya dan berdiri tidak jauh dari mereka. Tatapannya tajam menatap pada Rika. Arleta jadi tidak enak hati.


"Kami sedang mengobrol sambil menunggumu selesai rapat". jawab Arleta cepat-cepat, khawatir Restandi salah paham.


Pandangan Restandi melunak, kini tatapannya hanya tertuju pada Arleta.


"Nanti kita ngobrol lagi ya. Aku jalan dulu". Arleta pamit lalu bangkit berdiri.


"Ok, terima kasih untuk semuanya Arleta". Rika tersenyum tulus. Arleta pun menghampiri Restandi mereka pun pergi meninggalkan kantin. Rika memandang kepergian mereka dengan sedih. Matanya memang tidak pernah melihatku pikir Rika tentang Restandi.


"Kamu ngapain sama Rika?". tanya Restandi di mobil pada Arleta. Mereka memutuskan untuk makan diluar lalu Restandi akan mengantar Arleta ke klinik.


"Cuma ngobrol saja" jawab Arleta singkat. Dia memang belum cerita pada Restandi tentang Rika. Arleta sedang menimbang apakah perlu bercerita pada Restandi tentang kehidupan Rika.


"Aku tuh khawatir sama kamu. Dia ga ngomong yang macem-macem kan?". tanya Restandi dengan tatapan yang menuntut jawaban jujur.


"Tidak ko, kami sekarang berteman" jawab Arleta sambil tersenyum.

__ADS_1


"Aneh". komentar Restandi, tapi dia cukup puas dengan jawaban Arleta. Mereka pun makan siang dan seperti yang sudah di rencanakan Restandi mengantar Arleta kembali ke kliniknya. Walau dengan berat hati dia melakukannya.


__ADS_2