
"Rest kamu sudah sarapan nak?" tanya Sofi lembut.
"Sudah tadi di ruangan ku. Rani bawakan bubur ayam." jawab Restandi, matanya lekat menatap Arleta. Di hampirinya tempat tidur Arleta. Restandi duduk dan meraih tangan Arleta lembut.
"Bangun dong sayang, anak kita ingin di tengok papanya tuh." kata Restandi sambil mencium tangan Arleta. Cih bujukan apa itu? mesum, pikir Rion yang mendengar perkataan kakaknya. Tujuan Restandi mengatakan itu agar Arleta marah dan bangun. Tapi ternyata Arleta tetap diam. Restandi pun mencium kening Arleta dengan lembut. Dia hanya bisa bersabar. Kevin datang bersama Khanza. Dia cemas dengan keadaan Arleta. Jujur saja Arleta masih menempati tempat istimewa di hatinya. Tapi Kevin berusaha bersikap tenang. Untuk menjaga hati orang-orang yang bersangkutan. Tepat hari ketiga Arleta membuka matanya. Keadaan rumah sakit sudah sepi. Restandi sendiri menunggu Arleta. Niatnya hanya ingin memberi ciuman selamat tidur pada istrinya, ternyata jari tangan Arleta bergerak. Dengan berdebar Restandi menatap Arleta. Menunggu perkembangan selanjutnya. Ternyata perlahan mata Arleta terbuka.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Mata Restandi melihat pada mata Arleta yang mengerjab karena silau. Restandi segera menekan tombol memanggil perawat. Segera perawat datang.
"Tolong laporkan nyonya Arleta Gutama telah sadar pukul sepuluh malam." kata Restandi pada perawat itu. Sang perawat segera berlari memanggil dokter. Hanya dokter jaga., karena sudah malam. Mata Arleta terbuka sempurna.
"Arleta sayang." Restandi memanggil ingin tau respon istrinya. Arleta menatapnya tapi masih diam. Dokter pun datang.
"Boleh saya periksa dok?" tanya sang dokter.
"Silahkan, sesuai prosedur saja." jawab Restandi. Sang dokter pun mulai memeriksa Arleta.
"Apa yang nyonya rasakan?" tanya sang dokter.
"Sedikit pusing, lemas dan tubuh saya rasanya tidak nyaman." jawab Arleta. Wajahnya masih pucat.
"Apa ada yang terasa sakit?" tanya sang dokter lagi. Arleta menggeleng.
"Baik untuk sementara ini hasilnya bagus." kata sang dokter, besok pagi Arleta akan di periksa secara keseluruhan oleh dua dokter berpengalaman. Dokter dan perawat pun keluar. Membiarkan Arleta untuk istirahat lagi.
"Minum ya sayang." Restandi memberikan air minum. Perlahan-lahan Arleta menelan air minumnya.
"Rest aku lapar." kata Arleta sambil mengelus perutnya.
"Makan bubur saja ya. Biar aku suruh Jono beli." Restandi bangkit berdiri dan keluar, meminta Jono untuk membelikan bubur ayam.
"Aku kenapa Rest?" tanya Arleta ketika Restandi sudah duduk lagi di dekatnya.
"Kamu ingatnya bagaimana?" tanya Restandi ingin tau apa yang di ingat istrinya.
"Mobilku di tabrak, habis itu aku tidak tau apa-apa lagi." jawab Arleta.
__ADS_1
"Iya kamu di tabrak lalu tidak sadar. Kevin dan Khanza yang tolong kamu. Kevin telpon ambulance karena takut tubuhmu ada yang cedera. Lalu di bawa ke sini." jelas Restandi.
"Oh terus yang nabrak aku siapa?" Arleta ingin tau.
"Panjang ceritanya. Nanti saja diobrolinnya ya. Kamu kan baru sadar." Restandi mengelak. Tidak mau Arleta cemas.
"Berapa lama aku tidak sadar?" Arleta tidak tau hari dan jam saat ini.
"Ini hari ke tiga." Restandi dengan sabar meladeni istrinya.
"Tiga hari? Alrest bagaimana?" Arleta terkejut.
"Dia di rumah, kalau kangen kamu dia konser nanti Rion yang bawa ke sini." jawab Restandi jujur. Arleta tersenyum.
"Kamu benar tidak merasa sakit atau nyeri? Bayinya bagaimana?" Restandi penasaran.
"Baik-baik saja ko." Arleta meyakinkan suaminya.
"Maksud aku bayinya kangen papanya tidak?" Restandi mengedipkan sebelah matanya. Dia senang Arleta sudah sadar. Arleta sendiri memejamkan matanya, kesal. Ini suami siapa sih? jangan-jangan salah kamar, batinnya. Jono datang membawa bubur ayam.
"Tidur ya sayang." kata Restandi sambil duduk di tepi tempat tidur. Perlahan wajahnya mendekati Arleta, di ciumnya bibir Arleta lembut. Dia rindu pada istrinya.
"Kak, Alrest tidak mau tidur. Dia sudah membangunkan seisi rumah." tiba-tiba Rion masuk sambil menggendong Alrest. Restandi dengan malas bangkit dan menghampiri Rion. Mengambil Alrest.
"Alrest bikin heboh di rumah ya?" tanya Restandi lembut.
"Mama." kata Alrest sedih.
"Itu mama." Restandi menunjuk pada Arleta. Rion terkejut. Dia kira tadi Restandi mencium Arleta yang belum sadar.
"Kamu sudah sadar?" tanya Rion sambil menghampiri Arleta.
"Kamu siapa?" tanya Arleta pada Rion.
"Loh kamu tidak ingat aku? kamu amnesia?" tanya Rion tidak percaya. Tapi tunggu dulu, tadi kan Restandi sedang mencium Arleta. Tidak mungkin dia melakukannya kalau Arleta amnesia. Sepertinya dia di kadalin nih. Rion curiga.
__ADS_1
"Jadi kamu amnesia, Arleta. Tidak ingat aku pasti tidak ingat kakak. Mungkin kalau Kevin kamu ingat ya?" kata Rion memancing.
"Kamu mau di hajar?" tanya Restandi marah. Arleta tertawa. Akal-akalannya ketahuan.
"Sini Alrest sama mama." Arleta merentangkan tangannya pada putranya.
"Mama." seru Alrest girang. Sejak kemarin namanya di panggil tidak menanggapi. Restandi menghampiri Arleta, pelan-pelan meletakan Alrest di tepi tempat tidur.
"Hati-hati perutmu." kata Restandi ketika Arleta memeluk Alrest.
"Alrest kangen mama ya." Arleta mencium putranya rindu.
"Arleta kamu kemana saja?" tanya Rion setengah kesal setengah senang.
"Paris." jawab Arleta cepat. Restandi mengangkat Alrest, lalu menidurkan putranya di sebelah Arleta.
"Bobo sama mama ya. Nanti kalau dia sudah tidur biar aku pindahin." Restandi yakin Alrest pasti lelah sudah menangis di rumah. Arleta menepuk Alrest lembut. Tidak lama Alrest tertidur.
"Biar dulu sebentar." kata Arleta pada Restandi, dia masih rindu pada putranya.
"Kapan Arleta sadar ?" tanya Rion pada kakaknya. Dia bingung Restandi tidak memberi tau yang lain.
"Jam sepuluh tadi. Biar yang lain tau besok saja ketika menengok ke sini. Arleta masih perlu banyak istirahat." jelas Restandi.
"Rest boleh tidak infus aku di copot?" Arleta merasa terganggu.
"Sudah mau habis, biar dulu. Nanti tidak di pasang yang baru." Restandi meluluskan keinginan istrinya.
"Rion kamu beli martabak dong." kata Arleta manis.
"What? martabak?" Rion tidak percaya, ada pasien rumah sakit yang belum lama sadar minta martabak. Tapi dia lalu ingat Arleta sedang hamil.
"Tidak dulu tidak sekarang, kalau ngidam yang di cari aku ya." Rion pun beranjak pergi untuk mencari martabak yang Arleta mau.
"Sayang kamu tadi sudah makan bubur. Benar malam-malam begini mau makan martabak?" Restandi bingung.
__ADS_1
"Aku masih lapar." jawab Arleta malu. Restandi tersenyum. Kalau cuma martabak biarlah, lagi pula Rion ini yang beli. Tidak lama perawat datang rencana mau mengganti infus Arleta.