Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
66. Usaha Sehun


__ADS_3

Trisia sudah biasa di rumah tanpa Armando. Di samping itu Armando juga tidak mau Trisia bergantung padanya. Alasan Armando selama ini pulang karena rasa tanggung jawab. Dia memilih untuk menikahi Trisia, itu berarti dia harus menjaga Trisia selama gadis itu menjadi istrinya walaupun dia tidak nyaman. Sebenarnya Armando sudah mengalah pada keinginan tiga wanita ini. Kegundahannya di tumpahkan ya pada Melani.


"Kamu tidak khawatir aku berpaling pada Trisia? Aku kan pria normal." tanya Armando pada Melani. Perut Melani mulai membesar. Dia duduk di pangkuan Armando yang rindu padanya.


"Tidak, karena aku tau anu kamu tidak normal." jawab Melani sambil merangkul Armando.


"Nakal ya kamu, bilang anuku tidak normal. Kan itu sudah ada buktinya." Armando gemas mendengar perkataan istrinya.


"Maksud aku hatimu. Bukan yang bawah. Aku tau hatimu tidak bisa berbagi, itu yang kamu harus buktikan padaku." Melani menerangkan maksudnya.


"Berarti yang bawah boleh dong." kata Armando menggodanya. Melani terdiam. Sebetulnya Trisia istri Armando juga. Statusnya jelas. Tapi apa Melani rela. Melihat raut wajah Melani yang mendung Armando tidak tega.


"Mel, kamu sakit hati?" tanya Armando lembut.


"Kalau di tanya sakit hati, sudah sejak dulu aku sakit hati. Dari awal ketemu mama kamu, waktu dengar kamu tunangan. Aku pergi juga karena sakit hati. Tapi kalau mama kamu tidak melihat sendiri kamu tidak bisa mencintai Trisia dia belum puas. Dia akan terus memaksamu. Maaf ya aku bikin kamu sudah." Melani menyesal melihat Armando tidak nyaman.


"Bukan salah kamu, ini karena keinginan mama yang tidak mau di hentikan. " Armando mengusap pipi Melani sayang.


"Sekarang aku mau tau keinginanmu. Apa kamu mau menjalani pernikahanmu dengan Trisia terus atau bagaimana. Ada kan pria walau tidak cinta tapi dia bisa berumah tangga dengan wanita lain dan melakukan kewajibannya sebagai seorang suami." tanya Melani menyelidik Armando. Mendengar pertanyaan Melani Armando tersenyum.

__ADS_1


"Kamu cemburu? Kamu tau kan aku menikahi Trisia karena apa. Aku tidak punya obsesi punya istri dua. Jika aku meniduri Trisia semua akan jadi rumit, aku juga tidak punya keinginan memiliki anak dari Trisia. Aku hanya punya istri satu yaitu kamu dan punya anak hanya darimu. Kalau kamu khawatir, sekarang juga ikut aku pulang dan kita ketemu mama. Apa pun yang mama katakan aku tetap akan menceraikan Trisia." Armando menantang Melani. Dengan kata lain jangan pernah meragukan Armando. Melani tersenyum.


"Tidak sekarang ya. Aku janji pas anak kita lahir kita akan kembali bersama." tinggal beberapa bulan lagi, pikir Armando.


"Baiklah, tapi sekarang suami sudah datang dan tertekan di sana di hibur dong." Armando merajuk. Tertekan? suami punya istri dua pasti senang, pikir Melani. Tapi tidak berani dia katakan. Keputusan Armando mengunjungi Melani secara berkala adalah karena Melani istrinya, sedang mengandung pula. Lalu dia sendiri juga memiliki kebutuhan biologis yang tidak dapat di abaikan. Armando meluapkan rasa rindunya. Dia hanya perlu bersabar beberapa bulan lagi, setelah itu dia akan memaksa Melani untuk ikut kembali bersamanya. Adanya anak menjadi alasan kuat bagi mereka untuk bersama dan Armando untuk berpisah dengan Trisia.


Monika akan mengajukan cuti. Dia di suruh pulang oleh orangtuanya. Adiknya lulus jadi sarjana. Mereka akan mengadakan syukuran atas kelulusan adiknya. Lagi pula sudah lama Monika tidak pulang. Sehun keberatan.


"Nanti siapa yang masak buat aku?" tanya Sehun pada Monika.


"Dokter kan bisa pesan dulu, nanti saya kembali di masakin lagi." Monika bingung, Restandi saja atasannya memberi ijin. Lah dokter satu ini malah keberatan. Modus nih Sehun. Beberapa waktu ini Monika memang sering mampir ke apartemen Sehun untuk memasak. Sehun sudah terbiasa masakan Monika. Sebetulnya bukan karena masakan juga Sehun keberatan, tapi dia tidak bertemu Monika jika gadis itu cuti.


"Berapa lama kamu cuti?" tanya Sehun penasaran.


"Aku boleh ikut?" tanya Sehun spontan. Monika terkejut.


"Dokter mau ikut?" tanya Monika tidak percaya.


"Aku malas sendirian, jadi aku ikut kamu sekalian jalan-jalan." kata Sehun beralasan. Dia pikir ini mungkin kesempatan bagi dirinya untuk tau bagaimana keluarga Monika.

__ADS_1


"Di sana tidak ada apa-apa, nanti dokter bosan." kata Monika khawatir. Dia bingung harus bilang apa nanti pada keluarganya. Sehun ini atasannya bukan, pacar bukan.


"Kan hanya tiga hari, tidak masalah." Sehun berkeras. Monika tidak dapat mencegah Sehun. Karena sudah sepakat Sehun pun akan mengantar Monika pulang. Sehun ijin dan menyerahkan pasiennya pada Restandi dengan alasan ada keperluan mendadak. Berangkatlah mereka ke Tasik. Sehun bahagia bisa pergi bersama Monika, gadis itu yang bingung.


"Dok maaf ya, ada yang saya ingin tanya." kata Monika bimbang.


"Ada apa?" tanya Sehun ingin tau.


"Nanti kalau keluarga saya tanya dokter siapa, saya harus jawab apa?" wajah bingung Monika terlihat jelas. Ah Sehun tau sekarang. Ini yang membuat gadis itu menolaknya kemarin.


"Monika, selama ini kamu pergi sama saya kamu keberatan?" pertanyaan Sehun yang pertama.


"Tidak dok, saya senang." jawab Monika jujur.


"Kamu masak buat saya, kamu keberatan?" pertanyaan Sehun yang kedua.


"Tidak juga, saya suka melakukannya." jawaban yang ini juga jujur.


"Lalu perasaan kamu sendiri ke saya bagaimana?" pertanyaan Sehun yang ketiga. Monika terdiam. Ya ampun akang Sehun ini, masa aku yang harus ngomong duluan batin Monika. Melihat Monika menunduk dan tersipu Sehun pun meminggirkan mobilnya dan berhenti. Tangan Sehun meraih tangan Monika dan menggenggamnya lembut.

__ADS_1


"Monika, kamu boleh bilang kalau saya kekasih kamu jika kamu menerima perasaan saya saat ini." akang Sehun menembak sasarannya. Monika menatap Sehun tidak percaya. Tapi melihat senyum manis Sehun dan ketulusan di matanya Monika yakin dia tidak bermimpi. Karena Monika juga sudah lama jatuh cinta pada Sehun, tidak ada alasan untuk menolak pria tampan ini. Monika pun mengangguk. Sehun sangat senang, dia memeluk Monika. Sehun mengambil sesuatu dari kantong kemejanya. Ternyata gelang pasangan. Sehun memasangkan pada Monika juga pada tangannya.


"Sekarang kita pasangan." kata Sehun puas. Ya ampun, akang manis banget sih pikir Monika. Mereka pun melanjutkan perjalanan. Walaupun diam tapi senyum di bibir mereka bisa memadamkan perang dunia. Monika tidak menyangka, akhirnya dia jadi kekasih Sehun. Sang dokter sendiri tidak menyangka, akhirnya punya kekasih. Sehun yang tadinya meremehkan Restandi yang mengejar Arleta, sekarang paham. Bagaimana rasanya memiliki seseorang di samping kita. Dia saja belum jadian sudah malas di tinggal Monika. Apalagi sekarang sudah jadian. Mereka berhenti untuk makan siang.


__ADS_2