Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
125. Raja Dan Ratu Semalam


__ADS_3

Melody segera pindah bersama Frans, karena sang opa menonton sambil berkomentar dengan lucu.


"Kau mau teh?" tanya Armando pada Avery, yang di jawab dengan anggukan kepala. Avery melihat Melody yang terkikik geli karena komentar opanya yang membuat dia jadi kalah pamor. Avery meregangkan tubuhnya. Tidurnya tadi membuatnya lebih segar.


"Kau ingin tidur lagi?" tanya Armando lembut. Dia menyodorkan cangkir teh hangat pada istrinya. Avery menggelengkan kepalanya lalu menghirup teh itu.


"Mungkin sebaiknya aku mandi." Avery menghabiskan tehnya.


"Mandilah, ku rasa sebentar lagi periasmu datang." Armando melihat pada jam di tangannya. Avery pun bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Armando menatapnya, Avery tampak manis dengan gaun tidurnya. Armando duduk dan memakan kudapan. Tampaknya bukan Melody saja yang lapar. Tim perias datang, tepat setelah Avery mandi. Maka mereka pun langsung bekerja merias Avery. Armando memutuskan untuk mandi. Keluar dari kamar mandi dia sudah siap dengan kemeja putih dan celana panjang hitamnya. Frans sedang menyuapi Melody makan, sedang Mauren sedang merapihkan riasan wajahnya. Mereka akan menyambut keluarga dan tamu. Melody tiba-tiba tertawa kencang melihat film kartunnya.


"Jangan tertawa kencang, nanti tersedak." bujuk Frans pada cucunya. Tapi bujukannya ternyata tidak mempan, karena tidak lama kemudian Melody melakukannya lagi. Armando yang sedang mengancingkan kancing pada lengan kemejanya tersenyum. Dia menatap sekilas pada putrinya. Tampaknya Melody mewarisi sifat ibunya. Tindakan itu tidak lepas dari pengamatan Avery. Dia sedari tadi memperhatikan apa yang Armando lakukan dari kaca rias di hadapannya. Tampak kemudian Armando duduk di tepi tempat tidur dan mengenakan kaos kakinya lalu sepatunya. Setelah itu Armando bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar, dia duduk bersama Frans.


"Suami anda tampan." bisik sang perias di telinga Avery. Sang perias menunggu Armando keluar sebelum membicarakannya.


"Keluarganya juga tampak baik." sambung perias itu.


"Itu sebabnya aku setuju menikahinya. Dia suami adikku yang meninggal dunia. Aku sangat menyayangi putri mereka." kata Avery menjelaskan.


"Oh jadi anda menggantikan adik anda. Pria sebaik dirinya tentu tidak sulit untuk mencari istri lagi. Tapi yang betul tulus mencintai putrinya belum tentu banyak." kata perias itu menyimpulkan. Itu yang di pikirkan Avery selama ini. Rupanya dia bukan khawatir tanpa alasan. Avery melihat apa yang di lakukan Armando. Pria itu tampak sibuk berbicara dengan Frans.


"Kalian itu selalu saja bicara bisnis." keluh Mauren terus terang.

__ADS_1


"Kan tidak mungkin jika kami membicarakan tentang masakan atau make up yang sedang trend." Frans menjawab istrinya santai. Armando diam saja. Dia memilih memperhatikan putrinya yang tampak mengantuk. Di raihnya Melody dan di pangkunya. Mata Melody masih memperhatikan film kartunnya, tapi dengan mata sayu. Tidak lama putrinya tertidur. Lelah bermain dan perutnya yang terisi membuat gadis kecil itu mengantuk. Armando mengangkat dan membawa Melody ke kamar. Di rebahkannya Melody di tempat tidur.


"Biar dia tidur sebentar." kata Armando sambil mencium pipi Melody. Lalu menyelimuti putrinya. Avery meliriknya sambil tersenyum. Sang perias tengah menata rambutnya.


"Putrimu tidur Ar?" Mauren masuk membawa gaun Melody dan sepatu yang akan di kenakan nanti.


"Ya ma, lelah dia sudah banyak bermain." jawab Armando berdiri sambil mengamati Melody.


"Yang penting dia tidak rewel nak." Mauren ikut mengamati sejenak. Mauren menepuk bahu Armando lalu keluar sambil tersenyum. Terlihat dia sayang pada putranya. Armando mengikuti Mauren keluar kamar dan duduk lagi bersama Frans. Mereka pun terlibat lagi dalam obrolan. Sementara Avery telah siap di rias, sang perias segera membereskan peralatannya dan pamit.


"Ar kamu harus bersiap nak." Tegur Mauren halus. Armando pun bangkit mengambil dasinya di kamar.


"Avery kamu tidak lapar sayang?" tanya Mauren pada Avery yang tengah memasangkan dasi Armando.


"Tidak ma, tapi aku ingin yang manis-manis." Avery malas untuk makan tapi dia butuh asupan sesuatu.


"Mama buatkan coklat hangat ya." tanpa mendengar jawaban Avery, Mauren segera pergi membuatkan coklat hangat untuk menantunya.


"Sudah selesai." kata Avery tentang tugasnya. Armando meraih tuxedonya dan mengenakannya perlahan. Dia menatap bayangannya pada cermin.


"Ini coklatmu, minum pelan-pelan ya." Mauren menghampiri Avery. Tepat seperti yang di katakan Mauren Avery minum dengan hati-hati.

__ADS_1


"Kau harus menjaganya Ar, dia sudah cantik begini." kata Mauren menggoda putranya.


"Justru aku ingin tau wajah-wajah yang menginginkan istriku." Armando menjawab sambil tersenyum. Dia sudah siap dengan penampilannya. Avery tidak tau siapa saja yang menginginkannya atau melamarnya pada ayahnya. Zakhary tidak pernah mengatakan pada Avery. Mauren memberikan bunga tangan pada Avery, lalu memasangkan bunga pada jas Armando.


"Ingat ya ini pernikahanmu yang terakhir." kata Mauren yang tidak menyangka kehidupan cinta putranya begitu semarak. Tiga istri.


"Jadi aku tidak boleh jatuh cinta lagi. Aku sudah latihan punya istri dua tidak masalah. Mama tidak mau mengenalkan aku sama anak teman mama?" Armando mengganggu Mauren, tapi dia tidak tau jika Avery sudah sangat ingin melempar bunga tangannya pada wajah Armando.


"Nanti mama kenalkan kamu sama anak keluarga Handira." kata Mauren berusaha tidak terpancing untuk marah.


"Siapa?" Armando masih santai.


"Joko Arvan Handira. Dia masuk militer jadi kalau kamu macam-macam tinggal di tembak saja." jawab Mauren tenang sambil meninggalkan Armando. Avery tertawa geli mendengar perkataan Mauren. Armando menghampirinya dan berbisik.


"Tertawa saja terus, lihat saja nanti malam." Avery langsung terdiam. Sebenarnya maksud Armando setelah pesta Avery pasti akan kelelahan, tapi Avery berpikir lain. Tiba waktunya bagi Armando dan Avery untuk tampil. Kali ini mereka berjalan berdua memasuki ruang resepsi. Tamu yang banyak segera membuat Avery merasa lelah. Untung saja Armando melarangnya menggunakan sepatu yang di incarnya. Yang ini saja sudah membuat kakinya sakit. Armando sepertinya tau.


"Kamu lelah?" tanya Armando lembut. Avery mengangguk. Armando memberi tanda mereka ingin istirahat dulu. Pengarah acara mempersilahkan mereka duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk menikmati hidangan.


"Apa tidak mengapa kita duduk di sini Ar?" tanya Avery masih kurang nyaman.


"Ini pestamu. Kau harus menikmatinya. Makanlah, kau pasti lapar." Armando berkata tegas. Tanpa di suruh dia kali Avery langsung menikmati hidangan yang ada. Selain lapar kakinya juga bisa beristirahat. Benar kata Armando, ini pestanya. Terserah dia mau melakukan apa. Mereka masih bisa menikmati pesta dengan memperhatikan para undangan yang berdansa di iringi musik. Armando sendiri tidak mau melakukannya. Dia tidak suka berdansa. Lagi pula kaki Avery sakit tidak mungkin berdansa.

__ADS_1


__ADS_2