
Avery seperti melihat hubungan Armando dengan istri keduanya jadi lebih baik dengan perginya Melani.
"Kasihan kamu nak, ayahmu bejad." kata Avery mengumpat dalam hati. Hal yang akan di sesalinya di kemudian hari. Setelah mengunjungi Melody, Armando mengajak Trisia duduk di sebuah cafe.
"Trisia Amanda, kapan kau akan melepasku?" tanya Armando pada Trisia. Tentu saja Trisia terkejut dengan pertanyaan itu. Di tatapnya Armando lama. Trisia bingung harus menjawab apa. Kapan kata Armando?
"Kamu kan sudah punya seseorang. Aku yakin hatimu akan baik-baik saja melepaskan aku." kata Armando lagi.
"Maksudmu Rion?" tanya Trisia ingin menegaskan.
"Marionata Gutama. Sepertinya dia sudah tidak sabar menantimu." jawab Armando membenarkan bahwa dia tidak salah orang.
"Kamu tau hubunganku dengan Rion?" tanya Trisia tidak percaya.
"Aku tau semua?" jawab Armando meyakinkan.
"Kamu tidak marah?" tanya Trisia khawatir. Takut sih sebenarnya.
"Kamu berhak bahagia. Kalau dia bisa buat kamu bahagia, kenapa tidak. Pernikahan kita hanya di atas kertas. Kalau sudah seperti ini bukankah kita harus mengakhirinya?" kata Armando dengan tenang. Tidak ada kemarahan dalam matanya.
"Maafkan aku Ar." Trisia merasa bersalah.
"Tidak perlu. Sudah ada seseorang yang mencintai dan membuatmu bahagia, tunggu apa lagi. Aku sendiri tidak bisa mencintaimu." Armando mengingatkan.
"Aku akan mengatakannya jika aku sudah siap." kata Trisia dengan lesu.
__ADS_1
"Aku tidak ingin memaksamu, karena waktuku banyak. Namun waktumu tidak banyak." Maksud Armando mengatakan itu adalah hubungan Trisia dengan Rion bisa saja mengakibatkan sesuatu di luar kendali. Dan Rion bukan pria yang sabar menantinya. Armando sendiri bebas dan tidak di tuntut untuk menikah. Trisia paham Armando benar. Sekarang Trisia menyesal telah memberikan tubuhnya pada Rion. Jika saja dia masih suci, dia mungkin masih bisa bertahan di samping Armando. Sekarang apa yang mau dia pertahankan, dan dia di kejar oleh pria yang tergila-gila pada tubuhnya.
"Sekarang tentang rumah, kamu mau menempati rumah itu?" tanya Armando tentang rumah mereka.
"Aku rasa tidak. Rumah itu akan mengingatkan aku padamu. Di mana aku sering sendirian. Kamu pulang juga kadang aku tetap merasa sendirian." kata Trisia sedih.
"Aku jarang pulang karena kadang aku dalam kondisi kesal atau marah. Aku tidak mau kamu kena imbasnya. Bukan karena aku benci kamu. Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang mencintai istrinya." Armando menjelaskan . Mendengar itu hati Trisia merasa terhibur. Memang jika kita tidak mencintai seseorang sulit berlaku manis pada saat kita kesal atau marah.
"Aku akan menjual rumah itu jika kamu tidak mau menempatinya." kata Armando lagi. Trisia setuju saja.
"Kamu pasti senang karena sebentar lagi akan terbebas dari aku." kata Trisia kesal.
"Trisia, seseorang yang menganggap serius pernikahan tidak akan suka menjalani perceraian. Aku tidak keberatan untuk terus menjagamu, tapi kau sudah menemukan orang yang tepat. Jangan sia-siakan itu." Armando tidak mau Trisia terus menantinya. Trisia tau dia tidak punya pilihan lain. Trisia pernah berjanji untuk menyerah, tapi pada saat itu tiba perasaannya jadi sangat sedih.
"Kamu yakin aku akan bahagia?" tanya Trisia ragu.
"Bagaimana jika dia mengkhianati aku atau menyakitiku?" tanya Trisia lalu menangis sedih.
"Sudah jangan menangis, kalau dia mengkhianatimu kau bisa kembali padaku. Tapi kau harus berjanji untuk melakukan semampu yang kamu bisa. Seperti yang kau lakukan dulu padaku. Aku yakin kau akan berhasil." Armando memberi semangat.
"Semampu aku bisa. Tapi aku gagal padamu." Trisia mengungkap fakta.
"Itu karena aku terikat pada hati yang lain." jelas Armando.
"Tapi sekarang......."
__ADS_1
"Cukup." Armando memotong perkataan Trisia. Dia tau maksud gadis itu adalah, sekarang Melani sudah tidak ada.
"Jangan buang-buang waktumu. Kesempatan sudah di depan mata." Armando tidak ingin Trisia berharap lagi padanya. Keputusan Armando sudah bulat. Trisia melihat saat ini Armando seperti kakak yang sayang pada adiknya. Tetap tidak ada cinta di hati pria itu untuknya. Mereka berjalan kaki kembali ke hotel. Kali ini Armando yang menggandeng Trisia, dia tau gadis itu sedang kecewa. Tapi biar bagaimana pun Rion harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Armando berjanji dia akan menjaga Trisia lagi jika Rion menyakiti Trisia. Karena Armando juga yang mendorong gadis itu pada Rion.Mudah-mudahan Rion bukan pria bajingan.
"Ar, apa aku wanita murahan?" tanya Trisia ingin tau.
"Kalau kamu wanita murahan, aku sudah memasukanmu ke dalam sumur dan menutupnya rapat-rapat." kata Armando jujur.
"Maksudmu?" Trisia ingin tau standar murahan di mata Armando.
"Yah kamu bisa saja memberiku obat atau menjebak aku agar bercinta denganmu." jelas Armando.
"Ide yang bagus." kata Trisia dengan wajah cerah.
"Kamu mau di masukan ke dalam sumur?" tanya Armando galak. Trisia bergidik ngeri.
"Percayalah, kamu jatuh pada orang yang tepat. Manfaatkan dia agar membuatmu bahagia." kata Armando lembut. Sebenarnya Trisia gadis yang penurut seperti Arleta. Mengapa Armando bisa tahan pada gadis itu karena dia penurut. Sedangkan Melani kadang melawannya. Diam-diam keluar dari apartemen, bahkan melarikan diri salah satu bentuk ketidak patuhannya pada Armando. Tapi kalau sudah cinta mau di bilang apa.
"Ar, kamu mau tidak temani aku di rumah sampai aku siap?" tanya Trisia lagi.
"Cukup ya main rumah-rumahannya. Kapan siapnya jika di temani terus?" Armando menarik hidung Trisia. Gadis itu cemberut. Mereka tiba di hotel. Trisia segera tidur karena besok mereka akan pulang ke Indonesia. Armando masih memeriksa beberapa laporan dari Arsen. Besok paginya seorang pemuda masuk ke dalam toko bunga.
"Hai Rodrigo, seperti biasa mawar putih?" tanya ibu pemilik toko. Pemuda itu mengangguk. Setelah mendapat bunganya pemuda itu beranjak pergi. Dia datang ke makam Melani. Di letakkannya bunga putih itu dan dia bersimpuh lalu menangis.
"Maafkan aku. Kau harus berpisah dengan keluargamu. Andai ada yang dapat kulakukan agar kau hidup kembali, pasti kulakukan." kata Rodrigo sambil menangis. Lalu dia merasa seperti ada yang mengamatinya. Rodrigo pun menoleh. Tampak Armando berdiri tegak dengan tatapan membunuh padanya. Pemuda itu terkejut.
__ADS_1
"Jadi kamu yang menabraknya?" tanya Armando penuh amarah. Pagi-pagi dia datang ke makam Melani seorang diri. Trisia masih tidur di kamarnya. Armando ingin melihat Melani sekali lagi, sebelum pulang. Di lihatnya pemuda itu dengan bunga putihnya. Dia tau sekarang, siapa yang menaruh bunga putih itu. Tangis Rodrigo pecah.
"Maafkan aku, Sungguh aku tidak sengaja." katanya dengan pilu. Misteri kematian Melani terungkap.