
"Kalau Rama atau Nirma tidak mendapat perlakuan yang semestinya akan kami ambil kembali." kata Sehun khawatir.
"Tidak masalah, akan saya buktikan mereka baik-baik dan sehat." Marwan teguh dengan keinginannya.
"Yah kami hanya mengutamakan kebahagiaan anak-anak. Karena saya dan Monika belum bisa memberikan kasih sayang secara utuh." kata Sehun jujur.
'Tapi apa yang kalian lakukan sudah luar biasa. Saya secara pribadi juga ingin melakukan yang kalian lakukan. Punya anak banyak. Tapi secara ekonomi saya tidak sanggup. Jadi saya hanya menyempurnakan keluarga kecil saya saja." kata Marwan tulus. Sehun pun meminta Marwan untuk mengurus surat adopsi Nirma. Marwan dan Yanti bahagia telah memiliki dua orang anak.
"Papa anak kita hilang dua orang." kata Monika pada Sehun.
"Ayo kita buat dua anak sekarang juga." Sehun menggendong Monika ke kamar.
Fajar terus terbayang pada Farida. Apa lagi hidupnya sepi tanpa seorang istri. Dia harus mengurus putranya seorang diri. Saat ini sang putra sudah beranjak remaja. Mulai sibuk dengan teman dan hobinya. Fajar jera mencari istri karena pengalaman yang di dapatnya. Tapi dia merindukan Farida. Sejak melihat tingkah laku Astari Fajar telah menyesal melepaskan Farida. Harusnya dulu Astari yang dia ceraikan dan hidup bersama Farida. Mantan istrinya itu masih tampak cantik dan awet muda. Fajar tidak percaya, tidak ada pria yang tidak mengincar Farida. Tapi wanita itu masih tetap sendiri, apakah karena belum bisa melupakannya? Fajar sedang membangun kepercayaan dirinya. Siang itu dia pergi ke rumah Farida. Dia berkata pada satpam kalau ternyata Farida itu temannya. Satpam pun memberi ijin pada Fajar untuk masuk. Fajar pun duduk di ruang tamu.
"Bu ada tamu." kata Wati pada Farida.
"Iya tunggu sebentar." jawab Farida. Dia pikir Yanti yang datang. Farida pun keluar menemui tamunya.
"Siang Rida." sapa Fajar pada Farida yang baru muncul di ruang tamu. Farida terpaku. Bagaimana Fajar bisa tau tentang rumahnya.
"Rida ijinkan aku bicara." pinta Fajar memohon. Fajar menghampiri Farida yang membuat Farida jadi gugup.
"Duduklah mas, memangnya mas mau ngomong apa?" akhirnya Farida mengalah. Karena Fajar sudah terlanjur masuk ke dalam rumahnya. Fajar duduk tapi matanya menatap lekat pada Farida.
"Rida mas mau minta maaf. Mas pernah menyakiti perasaan Rida dulu. Sebenarnya mas tidak mau menceraikanmu tapi karena hasutan Astari dan keinginanmu maka mas menceraikan Rida. Mas menyesal karena mas betul-betul mencintai Rida. Tidak ada yang dapat menggantikan Rida di hati mas." kata Fajar jujur.
"Kalau mas mencintai aku dulu mas tidak akan melupakan aku." kata Farida ketus. Dia masih menyimpan kekecewaan pada Fajar.
__ADS_1
"Mas hanya lupa sesaat karena mendapat putra. Kamu kan tau Rida mas sangat ingin punya anak." Fajar membela diri.
"Kalau aku tidak menuntut cerai, apa mas ingat padaku?" Farida tidak yakin Fajar akan mengingatnya.
"Maaf Rida mas salah tidak datang dan memperhatikanmu. Tapi bukan berarti mas tidak mencintaimu. Astari tidak bisa menggantikanmu di hatiku." Fajar berusaha meyakinkan Farida.
"Tapi mas tinggal bersama Astari." Farida berkata sinis.
"Tidak lagi. Sudah bertahun-tahun lamanya mas menceraikan Astari dan merawat Robby sendirian." Fajar ingin mencari simpati Farida.
"Bukankah dia muda dan cantik. Mengapa mas ceraikan dia?" Farida terkejut, dia baru tau tentang itu.
"Astari tidak setia, dia selingkuh dan tidak pernah mengurus Robby." jelas Fajar. Ah karena istrinya selingkuh dia baru ingat aku, pikir Farida.
"Mengapa mas tidak menikah lagi? Untuk seorang Fajar Dewangga tentu mudah untuk mencari istri lagi." Farida menyindir Fajar.
"Tidak mas hidup kita sudah berbeda. Aku senang dengan hidupku sekarang." Farida menolak. Fajar belum patah semangat. Dia bangkit dan pindah duduk di sebelah Farida. Di genggamnya tangan Farida lembut.
"Rida mas mohon berikanlah kesempatan pada mas untuk menebus semua kesalahan mas." mata Fajar menatap wajah cantik Farida. Ingin rasanya dia memeluk wanita yang dia rindukan ini.
"Maaf mas, mas malah membuat hatiku sedih. Aku sudah memaafkan mas Fajar. Tapi untuk kembali bersama aku tidak bisa." Farida tidak tersentuh dengan permintaan Fajar. Farida melepaskan tangannya dari genggaman Fajar.
"Mas pulang saja. Aku mau istirahat." Farida berdiri dan beranjak masuk ke dalam. Fajar kecewa. Usahanya tidak membawa hasil. Fajar pun pulang.
Arleta memeriksakan kandungannya. Hasilnya bagus, bayinya sehat dan Arleta pun tidak mengalami kendala. Tapi dalam hatinya dia sangat ingin ini hamilnya yang terakhir. Dia berharap Restandi tidak berubah pikiran. Ingin anak kembar misalnya. Repot kan.
"Hati-hati Arleta, bayimu bisa kapan saja keluar ini. Kamu terlalu aktif." kata dokter Lukman Aria., maksudnya Arleta terlalu banyak bekerja.
__ADS_1
"Iya dok, dia aktif menggoda suami." kata Restandi santai. Lukman Aria tertawa.
"Kamu tuh apa sih." Arleta kesal.
"Iya kamu tuh kalau tidur bajunya minim sayang." Restandi tidak berhenti.
"Ibu hamil itu suka kepanasan. Jadinya bajunya ya begitu ingin yang adem." jawab Arleta berusaha sabar.
"Memang di usia kehamilan yang sudah besar mengalami demikian." Lukman Aria membela Arleta. Kasihan ibu hamil di buli suami.
"Tapi dok AC sudah di besarin. Kalau AC nya besar saya kan jadi kedinginan. Kalau suami kedinginan dokter tau kan hasilnya apa?" kali ini Arleta sangat malu dengan perkataan Restandi. Di cubitnya Restandi.
"Tau, tau. Saya tau. Hasilnya ya begini, bisa melahirkan cepat." Lukman Aria tertawa lepas.
"Berarti usaha sedikit lagi gol ya dok. Saya harus pesan kamar rawat dong." Restandi tau Arleta sudah sangat malu. Tapi senang saja menggodanya begini. Arleta diam tapi hatinya menjerit. Suami siapa sih ini. Harusnya waktu di jodohkan dulu dia curiga. Tampan, sukses, supel tapi tidak punya pacar. Ternyata begini. Arleta pun ingin cepat keluar dari ruang Lukman Aria. Ketika keluar dari ruangan ada seorang ibu membawa bayi kembarnya.
"Wah lucunya, berapa bulan Bu?" tanya Restandi sambil menghampiri.
"Rest." Arleta segera memanggil. Restandi menoleh pada Arleta.
"Di tuntun dong istrinya " Arleta harus mengalihkan perhatian Restandi dari bayi-bayi tersebut. Seperti pemikirannya, repot kalau Restandi ingin bayi kembar.
"Ok nyonya, siap." Restandi pun menghampiri Arleta. Sedangkan Arleta mengangguk sopan pada ibu bayi kembar tadi. Ibu itu tersenyum. Dia maklum pada Arleta yang sudah hamil besar.
"Di gandeng dong suaminya. Nanti tertukar loh. Misalnya sama yang itu." Restandi menunjuk pada Norman Sati.
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita saya sampai sejauh ini. Kita ada di hampir penghujung cerita. Tolong Vote dan like nya ya..ini karya ke dua saya . Yang pertama MENCARI KEKASIH HATI akan saya buat seson 2 nya. Yang ketiga PADA DUA HATI sedang berjalan. Sekali lagi terima kasih ❤️