
Kevin meremas jemari Khanza tanda kesungguhannya.
"Saya juga butuh bapak, karena kalau tidak saya tidak bisa makan, bayar tagihan, browsing dan lain-lain." kata Khanza yang memang sudah menggantungkan hidupnya pada Kevin. Padahal dengan keahliannya sekarang dia bisa mencari kerja di mana saja. Tapi Kevin tidak mau Khanza tau itu. Saat ini Kevin sedang kesal karena perkataan Khanza tadi. Tapi Kevin diam saja. Kevin jadi merasa rayuannya mental. Tiba di apartemen Kevin menghentikan mobilnya tapi tetap diam tidak turun. Khanza bingung melihat Kevin diam saja tidak bicara.
"Pak serius kita jadian nih?" tanya Khanza ragu. Kevin yang sedari tadi menahan diri mendekati Khanza. Di ciumnya gadis itu, awalnya lembut tapi dia terbawa emosi memperdalam ciumannya.
"Kamu panggil saya bapak lagi, akan saya tiduri saat ini juga." kata Kevin ketika melepaskan ciumannya. Khanza masih diam karena perasaannya yang membuncah, di cium tiba-tiba. Kevin mencium Khanza lagi selagi gadis itu membiarkan. Kali ini Kevin lebih menuntut. Dia baru melepaskan Khanza ketika gadis itu susah bernapas. Wajahnya merah karena malu. Kevin memutuskan untuk keluar dari mobil khawatir lupa daratan. Di bukanya pintu Khanza dan di bantunya gadis itu keluar. Dia ingin mengantar Khanza hingga apartemennya. Mereka berjalan bergandengan tapi tetap diam. Kevin bertanya dalam hatinya, apakah Khanza sudah jadi miliknya? Tiba di depan pintu mereka terdiam. Kevin harus merelakan Khanza untuk masuk ke dalam. Tapi Khanza masih belum ingin berpisah dengan Kevin. Hatinya ingin memastikan sesuatu.
"Mau mampir dulu?" tanya Khanza malu-malu. Kevin tersenyum, lalu mengangguk. Khanza pun membuka pintu dan membiarkan Kevin masuk. Apartemen Khanza wangi, sepertinya Kevin akan betah di sini. Kevin duduk santai di sofa.
"Sini." Kevin menepuk tempat di sebelahnya agar Khanza duduk di situ.
"Aku mau ambil minum dulu." bantah Khanza.
"Aku tidak butuh minum, aku butuh kamu." Kevin tidak mau di bantah. Khanza pun menurut.
"Aku harus panggil apa dong?" Khanza ingat ancaman Kevin di mobil.
"Panggil Abang." jawab Kevin tegas. Awalnya Khanza ragu.
"Bang." Khanza memanggil sambil menatap Kevin. Yang di panggil tersenyum.
"Ada apa Khanza?" Kevin berubah serius ketika di lihatnya Khanza terus menatapnya. Ada keraguan di wajah gadis itu.
"Abang serius sama Khanza? Abang kan tidak mencintai Khanza?" terjawab sudah keraguan gadis itu. Kevin mengangkat Khanza ke atas pangkuannya.
"Aku tidak akan mengenalkan mu pada orangtuaku jika aku tidak serius." Kevin mengusap lembut rambut Khanza.
__ADS_1
"Berarti tidak boleh ada sayang-sayangan di luar sana ya." seru Khanza galak.
"Aku kan terpikatnya cuma sama kamu. Tugas kamu bikin aku jatuh cinta sama kamu." Kevin menarik hidung Khanza gemas. Membuat Kevin jatuh cinta padanya, Khanza berpikir apa yang harus dia lakukan.
'Kalau dulu aku pernah menduakan Arleta karena nafsu. Kali ini karena aku sayang padamu. Lebih mudah kan?" Kevin menarik Khanza lebih dekat dengannya. Baru sayang saja begini, bagaimana kalau cinta. Khanza jadi bersemangat.
"Khanza, sekarang bilang sama aku sampai sejauh mana pergaulanmu dengan teman-temanmu. Kamu kan suka pergi ke club'." tanya Kevin dengan tatapan tajam.
"Pergaulanku dengan teman-temanku biasa saja. Kami suka jalan-jalan, kuliner ke club' kalau ada pesta atau ulang tahun. Tapi kami tidak macam-macam. Cuma dansa dan cari keramaian saja. Karena perginya sama-sama ya saling menjaga. Kalau soal minum aku tidak suka. Menurutku rasanya tidak enak." jawab Khanza santai.
"Betul kamu tidak macam-macam?" Kevin masih curiga. Khanza mengangguk.
"Kamu tidak boleh ke club' lagi. Ingat itu. Lalu sekarang katakan terus terang apa kamu pernah melakukannya?" tanya Kevin tajam.
"Melakukan apa?" Khanza tidak mengerti. Kevin sedikit kesal. Khanza kan sudah dewasa, masa tidak mengerti.
"Jawab." Kevin tidak sabar.
"Belum pernah." jawab Khanza cepat. Takut di isengin Kevin lagi. Soalnya jantungnya jadi main drum. Kevin menatap Khanza lekat, mencari kejujuran di sana.
"Memangnya kalau sudah pernah kenapa?" tanya Khanza ingin tau. Apakah Kevin jadi tidak suka padanya kalau ternyata dia tidak suci lagi. Kevin mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Khanza.
"Aku akan tidurin kamu saat ini juga." Kevin pantang menyerah. Dia sudah terjerat pada Khanza. Kevin pria dewasa, dia akan melakukannya dengan Khanza jika memang sudah tidak gadis lagi. Tapi jika Khanza masih suci Kevin akan menjaganya hingga pernikahan nanti. Khanza tersipu malu. Wajahnya merona. Kevin mencium rona di pipi Khanza gemas.
"Memangnya pacar kamu dulu tidak suka minta?" Kevin memancing Khanza seperti apa gaya pacarannya dulu.
"Aku belum pernah punya pacar, ada sih yang nembak tapi aku tidak suka. Kadang sama ka Revan tidak di kasih." jelas Khanza, Kevin menatapnya tidak percaya.
__ADS_1
"Jadi aku pacar pertama kamu?" Kevin ingin memastikan. Khanza mengangguk. Kevin serasa mendapat berlian. Sebadung-badungnya Khanza ternyata dia masih bisa menjaga dirinya.
"Abang sendiri bagaimana?" Pertanyaan Khanza menohok Kevin.
"Kamu kan tau aku pria berengsek." kata Kevin jadi lesu.
"Maksud Khanza setelah putus dulu apa Abang tidur lagi sama perempuan. Atau sayang-sayangan di luar sana?" Khanza ingin tau sehelas-jelasnya.
"Semenjak putus aku tidak pernah melakukannya lagi. Aku juga tidak punya pacar. Pernah di jodohkan beberapa kali dan menjalin hubungan tapi tidak berhasil. Aku juga bukan tipe pria yang suka punya sayang-sayangan di luar. Cuma sama kamu Khanza aku jatuh bangun nih." Kevin menjawab jujur pada Khanza.
"Tapi Abang yang ganteng dan sukses gini pasti banyak yang mau tidur sama Abang." Khanza jadi khawatir.
"Seperti yang kemarin?" Kevin memaksudkan Isye.
"Itu sih norak banget." Khanza tertawa.
"Jadi kamu mau tidur sama aku?" Kevin menguji Khanza.
"Katanya pada saat pertama sakit ya." Khanza tampak ngeri.
"Sakit, tapi nanti sakitnya hilang. Nanti pas malam pengantin kamu boleh godain aku sepuasnya, aku ladenin." kata Kevin sambil menatap sayang. Khanza tersentuh. Kevin mau menunggu hingga malam pertama. Perlahan Khanza mendekati Kevin, dia mencium Kevin lembut. Kevin menyambutnya dengan bersemangat. Karena ciuman mereka semakin seru, akhirnya membuat sesuatu di sana naik. Kevin menghentikan ciumannya, dia berusaha mengatur napasnya.
"Bang sepertinya ada yang keras nih." kata Khanza terus terang.
"Biarin saja." Kevin tersenyum, tangannya mengacau rambut Khanza. Dia jadi merasa seperti pria dewasa yang pacaran sama anak ABG.
"Tapi bang katanya kalau di tahan sakit ya?" tanya Khanza lagi.
__ADS_1