Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
145. Gosip Tak Sedap


__ADS_3

Blazer pendek yang di gunakan Weny tidak dapat menutupi lekuk tubuhnya. Keren sih, juga seksi. Wajahnya menarik. Kalau suaminya merasa tidak nyaman berarti benar dia mencari perhatian Restandi.


"Sebenarnya dia pintar, mudah-mudahan kerjanya tidak mengecewakan." kata Restandi. Dia berusaha memisahkan urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Arleta mengerti. Tapi dia kesal juga, urusan Rion baru saja beres ada lagi yang meresahkan. Restandi melihat suasana yang mulai tidak menyenangkan. Di tatapnya Arleta.


"Cium dong sayang." Restandi merayu Arleta agar dia tidak marah dengan mencium pipinya. Arleta segera bergeser menjauh.


"Bibirnya belum sayang." Restandi protes.


"Apaan sih, ini kan di lampu merah. Malu tau." kata Arleta menolak.


"Awas ya, nanti malam kamu habis sama aku." ancam Restandi tanpa senyum. Arleta tidak takut. Dia memiliki kartu mati Restandi. Bayi di dalam kandungannya adalah kartu mati suaminya. Mereka tidak bicara lagi hingga tiba di restauran. Arleta cemburu, Restandi merajuk. Tapi ketika hidangan sudah datang Restandi berubah seperti ibu-ibu di penyuluhan.


"Sayang kamu harus makan ini, bagus untuk kulit." Restandi menyodorkan sayur pada Arleta. Dari pada ribut Arleta pun mengambilnya.

__ADS_1


"Yang ini bagus mengandung kalsium." kembali Restandi menyodorkan sayur. Arleta mengambil lagi.


"Ini untuk vitamin c loh." Ada lagi yang di sodorkan. Makan ko ribet ya.


"Rest, kita pulang yuk." Arleta mulai kesal. Restandi tersenyum, dia tau istrinya kesal.


"Habiskan dulu makannya, baru kita pulang." Tidak ada lagi yang di sodorkannya. Dari pada istrinya tidak makan. Di rumah sakit beredar gosip tentang Weny yang berusaha mendekati Restandi. Sangat tidak nyaman di telinga Restandi. Dia sangat tidak suka dengan hal-hal yang seperti ini. Restandi pun mengadakan rapat dengan para petinggi rumah sakit. Dia juga mengundang Sehun yang datang bersama Benny. Di antara para petinggi rumah sakit dokter mudanya hanya Restandi dan Norman. Karena Sehun sudah pindah ke Sentosa 2. Yang lain sudah sepuh. Walau begitu mereka dokter berpengalaman yang kompeten. Diantaranya ada dokter Lukman Aria.


"Pagi ini saya mengadakan rapat untuk membahas tentang gosip yang beredar di rumah sakit. Ini memang mengarah pada urusan pribadi, tapi saya melihat imbasnya pada rumah sakit kita. Oleh karena itu akan saya jelaskan saat ini. Rumah sakit kita mendapat penawaran kerjasama program kesehatan dari PT JM. Saya dan dokter Norman sudah mengkaji penawaran tersebut. Keuntungan dan manfaat untuk rumah sakit tidak perlu di pertanyakan lagi, karena kami bekerja tidak main-main. Masalahnya dari pimpinan PT JM yang mengadakan pendekatan pada saya di luar konteks pekerjaan. Ini mengganggu saya dan saya rasa tidak bagus juga untuk rumah sakit. Saya ingin meminta pendapat pada anda semua, apakah kerjasama ini patut di lanjutkan atau tidak. Bersama ini juga saya ingin menjelaskan permasalahan yang ada." proposal Weny pun di bagikan untuk di lihat. Setelah itu mulai ada tanggapan.


"Programnya bagus, tapi tingkah pimpinannya yang kurang bagus. Saya juga risih jika jadi dokter Restandi. Apa tidak bisa di lakukan tindakan antisipasi?" dokter Reynaldi Datar, rekan Nikolas yang lain berpendapat. Dia masih mempertimbangkan programnya.


"Saya sebentar lagi pensiun. Saya serahkan pada yang lain untuk keputusan yang di ambil." dokter Arman Zaki, dia memang akan pensiun.

__ADS_1


"Saya sih curiga dengan motifnya walau programnya bagus. Tapi kalau tetap di laksanakan saya siap untuk bertanggung jawab menanganinya." pendapat Norman. Dia melihat sendiri ulah Weny. Menurut Sehun dan Benny programnya bagus. Tapi mereka tidak berpendapat lebih karena rumah sakit itu wewenang Restandi.


"Terima kasih untuk pendapatnya. Saya melihat ini program yang bisa menjadi contoh untuk kerjasama yang akan datang. Sebenarnya saya masih ingin memberi kesempatan. Bagaimana jika pelaksanaannya di rumah sakit Sentosa 2 ?" tanya Restandi. Itu rupanya rencananya mengundang Sehun.


"Saya setuju, untuk meredam gosip dan berjalanya operasional rumah sakit dengan baik." Lukman Aria berkata lebih dahulu. Yang lain setuju.


"Saya sih tidak keberatan karena rumah sakit saya butuh dana." Sehun seperti yang Restandi bilang, mata duitan dengan senang hati menerima. Uang datang begitu loh, masa di tolak. Mereka semua setuju, rapat di bubarkan. Tinggal Norman yang bicara pada Weny. Norman pun datang bersama Benny. Karena program kerjasama akan dilakukan di sentosa 2, maka Benny lah yang akan bertanggung jawab. Weny kesal luar biasa. Niat hati ingin menjerat Restandi dia malah terlempar di Sentosa 2. Berarti dia tidak bisa beralasan lagi untuk bertemu Restandi di rumah sakitnya. Tapi pilihannya hanya itu. Di terima atau batal. Terpaksa Weny menerimanya. Program pun berjalan. Tapi rupanya karena Weny belum berpengalaman dia salah menempatkan orang. Hasilnya program tidak sesuai dengan perjanjian, banyak keluhan yang datang. Sehun melaporkannya pada Restandi. Menurut Restandi jika tidak sesuai kesepakatan mereka berhak membatalkan. Norman dan Benny pun bicara pada Weny tentang ketidak puasan mereka pada pekerjaan Weny. Jika terus seperti itu pihak mereka bisa menuntut Weny akan kerugian yang di dapat rumah sakit Sentosa 2. Weny jadi pusing. Apa lagi hal itu sampai ke telinga papanya. Weny pun di tegur. Karena ini proyek pertamanya, jika gagal Weny di pertanyakan, apakah bisa menggantikan papanya. Malam itu Weny mengunjungi club'. Dia melampiaskan kekesalannya di sana dengan minum bersama temannya. Raul, teman Weny. Pria pengangguran yang sering mendompleng Weny kemana pun. Malam ini pun dia di traktir Weny. Raul sering mendekati wanita hanya untuk di peras uangnya. Wajahnya lumayan tapi rayuannya maut. Weny tidak perduli dengan tingkah Raul, karena selama ini Raul yang mendengar curhatan dirinya. Raul kembali bersama Weny ke Indonesia. Di luar negeri dia menumpang pada Weny dan mencari mangsanya. Wanita berduit. Nikmat juga dapat uang itu pekerjaannya.


"Aku benci sekali seperti ini. Biasanya aku tidak sulit mendapatkan pria." Weny mulai mabuk.


"Kenapa sih sayang, apa kendalanya?" Raul menanggapi Weny, tapi matanya berkeliaran mencari mangsa. Lumayan buat teman tidur malam ini, juga dapat uang. Dia kan tidak mungkin minta uang pada Weny terus.


"Aku rasa istrinya itu, di rumah dia pasti mengancam suaminya agar jangan dekat-dekat dengan wanita." Weny meracau.

__ADS_1


"Siapa sih targetmu? Kelihatannya kau suka sekali pria ini." Raul tau Weny tengah mendekati pria yang dia suka. Kadang Raul membantu Weny mendapatkan pria yang dia suka. Weny membuka handphonenya, lalu memperlihatkan pada Raul targetnya.


__ADS_2