Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
51. Restandi Sukses


__ADS_3

"Papa sama Mama berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa telpon kami." kata Sofi yang segera bangkit. Di usapnya rambut Rion sesaat. Mungkin maksudnya Sofi masih ingin mengobrol tapi waktunya tidak ada. Rion menanggapinya acuh dan meneruskan sarapannya. Arleta menatapnya kesal.


"Sayang aku harus buru-buru ke rumah sakit, kamu mau ikut aku?" tanya Restandi pada Arleta.


"Aku rasanya kurang sehat. Mungkin agak siang ke kliniknya." jawab Arleta. Wajahnya memang pucat.


"Nanti biar aku antar." kata Rion menawarkan. Restandi menatap Arleta, lalu menatap Rion. Restandi pun mengangguk.


"Kalau kurang sehat di rumah saja istirahat." kata Restandi lalu mencium kepala Arleta dengan sayang. Arleta mengantar Restandi ke mobil dan menunggunya hingga mobil Restandi menghilang dari pandangan. Waktu sarapan tadi Arleta tidak bisa makan banyak. Dia ingin minum susu agar lebih segar dan bisa pergi ke klinik. Arleta pun berjalan kembali ke ruang makan. Rion masih duduk di sana. Sarapannya sudah habis tapi dia sibuk dengan ponselnya. Pasti sibuk pacaran, pikir Arleta. Dia pun tidak memperdulikan Rion dan berjalan menuju lemari pendingin akan mengambil susu. Tapi tiba-tiba pandangan Arleta gelap dan dia pun pingsan. Rion terkejut melihat Arleta tiba-tiba roboh. Dia segera menghampiri dan mengangkat Arleta. Di bawanya Arleta ke dalam kamarnya dan di rebahkan di tempat tidur. Rion menepuk-nepuk pipi Arleta berharap Arleta sadar. Tapi tidak berhasil. Rion menjadi panik. Di telponnya Restandi berharap belum terlalu jauh dari rumah. Restandi yang mendapat panggilan dari Rion perasaannya langsung tidak enak. Di bawanya mobilnya ke tepi jalan dan menjawab panggilan Rion.


"Halo." kata Restandi cepat.


"Halo kak, Arleta pingsan." kata Rion panik.


"Apa? Aku segera pulang." Restandi menutup panggilan lalu menjalankan mobilnya. Dia berputar arah untuk kembali pulang. Karena memang belum jauh Restandi sudah tiba kembali ke rumah. Dia segera berlari menuju kamar. Di luar kamar Rion tampak mundar-mandir dengan panik. Restandi tidak menghiraukannya. Dia segera memasuki kamar dan melihat keadaan Arleta. Restandi memeriksa Arleta, dia kan dokter. Tidak lama kemudian Restandi keluar dari kamar yang segera di hampiri Rion.


"Bagaimana kak, apa perlu di bawa ke rumah sakit?" Rion cemas.


"Tidak perlu, sekarang kamu ke toko kue langganan mama. Beli Red Velvet cake, cepat ya." kata Restandi dengan tenang.


"Loh orang sakit harusnya kan di belikan obat." kata Rio bingung.


"Ya itu obatnya. Sudah sana cepat." Restandi kembali ke dalam kamar. Rion pun segera pergi untuk membeli apa yang Restandi suruh, walau dia tidak mengerti. Restandi menuangkan susu untuk Arleta. Dia baru teringat semalam dan tadi pagi Arleta hampir tidak makan. Dia lupa bertanya pada istrinya pikirannya penuh pada operasi pagi ini. Restandi ke dapur minta mbok Jumi membuatkan bubur untuk Arleta. Restandi lalu ke kamar. Di lihatnya Arleta belum juga tersadar, Restandi pun menuangkan minyak kayu putih pada tisyu dan mendekatkan pada hidung Arleta. Mata Arleta mengerikan lalu terbuka.


"Loh kamu kok di sini?" tanya Arleta bingung melihat Restandi.

__ADS_1


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Restandi lembut.


"Pusing sama mual." jawab Arleta jujur.


"Tadi malam dan pagi ini kamu tidak makan ya." Restandi membantu Arleta untuk duduk.


"Makan tapi sedikit." Arleta ingat tadi malam dan pagi ini dia tidak nafsu makan.


"Di minum dulu susunya, pelan-pelan." Restandi memberikan gelas susu pada Arleta yang meminumnya pelan-pelan. Sampai setengah gelas Arleta sudah tidak sanggup lagi. Rion datang membawa kue yang di pesan Restandi.


"Kalau makan itu mau?" tanya Restandi menunjuk kue tadi. Mata Arleta berbinar dia langsung menganggukkan kepala.


"Biar aku siapkan." kata Rion lalu membawa kue tersebut ke meja. Tidak lama Rion menyodorkan piring berisi kue pada Arleta.


"Tanya mbok Jumi buburnya sudah jadi belum?" kata Restandi pada Rion yang langsung lari menuju dapur. Restandi memperhatikan Arleta menghabiskan kuenya.


"Hasil usahaku di Bali sukses. Sekarang kamu mengandung bayi kita." Restandi meraih tangan Arleta dan mencium punggung tangannya mesra.


"Jadi aku hamil?" tanya Arleta takjub. Restandi mengangguk. Di ciumnya bibir Arleta penuh cinta.


"Bibir kamu rasa red Velvet." kata Restandi tersenyum. Terlihat dia bahagia.


"Aku harus ke rumah sakit, ada operasi. Nanti kalau sudah selesai aku pulang. Buburnya di makan, perutnya jangan kosong ya sayang." Arleta mengangguk mendengar perkataan suaminya, dia sadar Restandi punya tanggung jawab. Restandi pun meninggalkan Arleta, di luar dia berpapasan dengan Rion yang membawa semangkuk bubur.


"Pastikan dia memakan habis buburnya, jika tidak kamu yang aku habisi." kata Restandi pada Rion galak.

__ADS_1


"Kak, Arleta kenapa?" tanya Rion penasaran.


"Dia hamil anakku." jawab Restandi sambil berlalu. Dia sudah terlambat untuk jadwal operasinya. Rion terpana mendengar jawaban kakaknya. Dia cemas setengah mati ternyata Arleta hamil. Ah, awas kamu ya Arleta. Rion membawakan bubur, dia duduk di tepi pembaringan akan menyuapi Arleta.


"Aku makan sendiri saja." kata Arleta menolak.


"Tidak bisa, kakak berpesan padaku jika kau tidak menghabiskan bubur ini aku yang akan di habisi." Rion berkeras. Dasar pemuja kakak, kata Arleta dalam hati. Tapi Arleta tidak punya tenaga melawan Rion. Arleta pun membiarkan Rion menyuapinya. Baru setengah Arleta sudah merasa kenyang.


"Aku tidak mau lagi." Arleta menolak suapan Rion.


"Tapi ini masih banyak Arleta." Rion menunjukan mangkuk buburnya.


"Kamu habiskan saja dari pada kamu yang di habisi kakakmu." kata Arleta memberi solusi.


"Wah jika semua pasien seperti dirimu aku yakin para suster akan jadi gendut. Aku tidak mau ah punya pacar suster." kata Rion santai. Mendengar itu kaki Arleta langsung menendang Rion. Restandi baru selesai melakukan operasi, kali ini operasi di pimpin Sehun karena Restandi terlambat datang. Dia memasuki ruang kerjanya dan mengambil minuman. Monika masuk ke ruangannya.


"Dokter mau pulang?" tanya Monika.


"Ya Monika, Arleta kurang sehat aku harus pulang." kata Restandi sambil duduk di kursi kerjanya.


"Mbak Arleta sakit, serius dok?" Monika penasaran dia jadi khawatir. Restandi tersenyum.


"Loh dokter ko malah senyum." Monika bingung. Tiba-tiba Sehun masuk ke ruang kerjanya.


"Kenapa kau terlambat tadi pagi?" tanya Sehun. Mata Sehun tertambat pada Monika yang masih menunggu jawaban Restandi.

__ADS_1


"Tadi pagi Arleta pingsan. Untung ada Rion di rumah, aku jadi balik lagi ke rumah." jelas Restandi.


"Ada apa dengan istrimu?" tanya Sehun ingin tau, juga terkejut.


__ADS_2