
Revan berharap pada Kevin.
"Coba saja, jika dia bisa bertemu denganku akan aku tanda tangani." janji Kevin.
"Ok berikan alamatmu, dia akan mendatangimu." kata Revan lagi. Kevin memutus kontak. Di kirimnya pesan pada Revan alamat tempat dia menginap di Australia. Dia juga penasaran, apakah orang suruhan Revan dapat menemukannya. Kevin pun memasuki pesawat. Dia duduk dengan manis ketika seorang pramugari terus tersenyum padanya. Kevin mengabaikannya. Wajah tampannya telah menarik perhatian. Wajah tampan itu pernah membuat seorang Arleta tidak dapat tidur. Tapi sekarang pasti Arleta menyesal pernah terpesona. Sebenarnya Kevin seorang pria yang senang di rayu. Tapi tidak semua wanita masuk dalam kriterianya. Itu sebabnya Kevin dapat terjatuh pada pesona Melani, karena dia di rayu. Tapi pramugari tadi tidak masuk dalam kriterianya. Kevin memilih memejamkan matanya. Setelah tiba nanti dia akan sibuk. Khanza Wiguna tiba di sebuah cafe tempat perjanjiannya dengan relasi bisnis kakaknya. Tapi tiba di sana orangnya tidak ada. Khanza harusnya bertemu Kevin satu jam yang lalu. Karena bingung Khanza pun menghubungi kakaknya Revan.
"Kakak, aku sudah datang. Tapi orangnya tidak ada." kata Kanza manja.
"Ya jelas sudah pergi Khanza. Kamu datangnya jam berapa?" Revan naik darah. Adik bungsunya ini terlalu manja dan seenaknya. Tidak seperti adik keduanya Aira, yang sukses menjadi dokter.
"Lalu bagaimana?" Khanza menyesali kebodohannya semalam ikut pesta ulang tahun temannya di club'. Dia sedikit mabuk hingga tadi pagi kesiangan bangun. Belum lagi harus ke kantor Revan untuk ambil surat perjanjian.
"Aku tidak mau tau, jangan temui kakak jika perjanjian itu belum di tanda tangani. Kakak sudah janji pada papa tentang perjanjian itu." Revan berusaha sabar.
"Jadi aku ke kantornya kak?" tanya Kanza takut.
"Kevin akan berangkat ke Australia, kakak kadih alamatnya sama kamu. Terserah bagaimana caranya, kamu pikir sendiri. Yang penting kakak butuh perjanjian itu." kata Revan mengultimatum, lalu memutus kontak. Mendengar itu Khanza jadi lemas. Tidak lama masuk pesan dari Revan. Alamat Kevin di Australia. Masak sih harus nyusul ke sana? tapi Khanza tidak punya pilihan lain. Khanza jadi kesal sendiri. Sombong benar sih si Kevin ini, pikirnya. Tidak bisa sabar. Khanza pun pulang ke apartemennya dan menyiapkan bajunya. Dia pesan tiket untuk segera berangkat. Jika tidak dia khawatir tidak di akui sebagai adik oleh Revan. Khanza bergabung di perusahaan Revan belum lama. Itu juga karena terpaksa Khanza lulus kuliah tapi sibuk bersenang-senang dengan temannya. Karena anak paling bungsu dia sangat di manja oleh orangtuanya. Hingga kemalasannya itu membuat orangtuanya angkat tangan. Maka Khanza sekarang di bawah pengawasan Revan. Sang kakak sangat benci melihat pola hidup adik bungsunya itu. Revan mengharuskan Khanza bekerja. Dia tidak di beri uang saku lagi. Maka Kanza terpaksa bekerja. Dia harus meninggalkan teman-temannya dan waktu bergaulnya. Khanza tidak bisa lagi jalan-jalan ke luar negeri bersama sahabatnya. Selain uang tidak ada, waktunya juga tersita karena bekerja. Walau tidak punya jabatan di kantor Revan, tapi ada saja pekerjaan yang Revan berikan. Untung saja otaknya cerdas, tidak kalah dari Aira. Hanya tujuan hidupnya yang berantakan. Kini orangtuanya entah ke mana. Khanza tidak bisa minta uang pada mereka. Hidupnya bergantung Revan sepenuhnya. Kakak kandung berasa kakak tiri namanya, menurut Khanza. Setelah menyiapkan keperluannya Khanza pun berangkat hari itu juga mengejar Kevin Monta. Kevin sendiri sudah selesai dengan pertemuan bisnisnya. Saat ini dia berada di cafe. Tempat di mana dulu dia dan Melani duduk dan berbincang. Kevin melihat fotonya bersama Melani di cafe itu. Armando yang mengirimkannya. Ternyata foto itu ada di ponsel Melani. Kevin jadi ingat kenangan malam itu. Sebelum kematian Melani. Dia rindu pada Melani. Wanita yang pernah dekat dengannya. Jika dia rindu pada Arleta, dia masih bisa melihatnya. Walau dari jauh. Tapi Melani tidak. Kevin memesan makanan yang sama pada malam itu. Termasuk es krim yang Melani suka. Kevin menatap ke seluruh cafe. Suasananya pun sama, tidak terlalu ramai. Kevin memandang ke jalan, karena dinding cafe itu terbuat dari kaca. Tampak sosok yang sangat di kenalnya sedang berjalan perlahan di luar. Kevin pun melambaikan tangannya hingga lambaiannya menarik perhatian si pejalan kaki. Dia berhenti dan mengamati ke dalam cafe. Setelah memastikan siapa yang ada di dalam, dia pun melangkah masuk.
__ADS_1
"Kevin." sapanya dengan ceria.
"Avery, apa kabarmu?"tanya Kevin pada Avery.
"Baik, kau sendiri sedang apa di sini?" Avery duduk di hadapan Kevin.
"Aku ada bisnis, lalu nostalgia di sini. Aku pernah bertemu seorang yang istimewa di sini." Kevin memperlihatkan fotonya bersama Melani pada Avery.
"Kapan ini?" tanya Avery penasaran.
"Beberapa hari sebelum dia pergi untuk selamanya." jawab Kevin sendu.
"Kau menjualnya?" tanya Kevin terkejut.
"Tidak ada yang mau menempatinya, dan rumah itu penuh kesedihan. Kebetulan ada yang menawarnya jadi ku lepaskan. Aku memindahkan barang-barang Melani di sana." jelas Avery dengan sedih.
"Bagaimana dengan Armando?" tanya Kevin penasaran.
__ADS_1
"Kau pikir dia mau ke sini." kata Avery yang menjelaskan perasaan Armando pada rumah itu.
"Aku mengerti. Kau sudah makan?" Kevin mengalihkan pembicaraan.
"Belum, sebaiknya aku makan." Avery melihat menu dan memesan pada pelayan cafe. Mereka menikmati hidangan sambil berbincang. Bertemu Avery membuat hati Kevin yang rindu pada Melani terhibur. Tidak lama kemudian datanglah seorang gadis ke dalam cafe itu. Sebenarnya dia ingin makan tapi kemudian dilihatnya sosok yang di carinya. Kebetulan pikirnya. .
"Maaf, anda bapak Kevin Monta bukan? Bisa kita bicara?" tanya Khanza ragu, karena Kevin tidak sendiri.
"Bicara apa?" tanya Kevin memperhatikan Khanza.
"Saya Khanza Wiguna, maaf tadi tidak bisa memenuhi janji bertemu. Apa kita bisa melanjutkan di sini?" tanya Khanza berharap cemas. Kevin jadi mengerti siapa yang menyapanya.
"Maaf tapi aku sedang kencan dengan kekasihku. Kalau kau mau kau bisa menunggu." kata Kevin dengan tenang sambil menatap Khanza. Dia ingin tau reaksi Khanza. Avery tadinya akan protes, tapi tangan Kevin menyentuh tangannya. Mengisyaratkan untuk diam. Maka Avery pun diam.
"Baiklah aku akan menunggu anda selesai ." jawab Khanza dengan kecewa. Dia pun mencari tempat duduk untuk menunggu Kevin. Khanza pun memanggil pelayan untuk memesan makanan karena dia lapar.
"Kevin, apa yang kau lakukan?" tanya Avery tidak mengerti.
__ADS_1
"Tidak apa Avery, aku hanya ingin mengganggu dia."