Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
172. Realita Keluarga


__ADS_3

Akhirnya Alrest selesai makan juga. Restandi membawa Alrest ke kamarnya. Mereka bermain sebentar di tempat tidur Alrest. Karena anak itu sudah lelah dia segera mengantuk dan tidur. Restandi membereskan mainan Alrest. Di ciumnya putranya, lalu beranjak menuju kamarnya. Arleta tampak sedang membereskan baju yang menurutnya kurang rapih tergantung di ruang baju mereka. Dia sekalian memilih pakaian untuk besok dia kenakan.


"Rest, besok aku ke klinik ya." Arleta minta ijin pada suaminya. Besok dia mulai bekerja kembali, setelah lama cuti.


"Kalau aku melarang bagaimana?" Restandi menggoda istrinya. Arleta cemberut.


"Aku kan sudah lama cuti. Lagi pula tidak seharian aku ke klinik. Siang aku pulang ko." kata Arleta memelas. Dia tau Restandi mengutamakan anak-anak.


"Bagaimana kalau kau bawa mereka sayang?" Restandi menguji kesabaran istrinya. Arleta menatapnya bingung. Tapi dari raut wajah Restandi dia tau suaminya sedang menggodanya.


"Bagaimana kalau kliniknya di pindah ke sini. Di belakang kan masih luas." Arleta menantang. Restandi tertawa.


"Boleh sayang. Aku tau ko kamu bisa memilih mana yang lebih penting. Tapi ini dulu dong." Restandi menunjuk pipinya.


"Minta ijin ada prosedurnya ya." seru Arleta, tapi dia menurut juga. Mencium kedua pipi Restandi.


"Jangan bawa mobil sendiri ya. Biar Jono yang bawa." Restandi memeluk Arleta sayang. Arleta mengangguk manja. Mereka pun bersiap untuk tidur. Karena Alris terbangun malam hari mereka menggunakan waktu untuk tidur lebih cepat. Besok paginya Arleta terbangun lebih dulu. Dia heran Restandi belum bangun. Biasanya suaminya bangun lebih dulu untuk berolahraga di lantai tiga. Atau berenang. Ini masih tidur pulas.


"Rest bangun yuk." panggil Arleta lembut. Restandi tidak bereaksi, tetap pulas. Beberapa kali di panggil tidak mempan. Akhirnya karena iseng Arleta meraba bagian bawah Restandi. Di usap-usapnya benda keramat itu. Restandi pun bereaksi. Dia mengerang nikmat.


"Istriku pagi-pagi minta jatah rupanya." kata Restandi dengan suara malas. Di tuduh seperti itu Arleta menghentikan kegiatannya. Restandi membuka celana tidurnya yang masih di bawah selimut agar Arleta lebih leluasa mengusapnya. Terpaksa Arleta melanjutkan usapannya. Restandi menggerai nikmat, dia melepas kaos tidurnya karena mulai panas dengan apa yang Arleta lakukan. Akhirnya dia tidak tahan, dia pun menindih Arleta.

__ADS_1


"Kita olahraga ya sayang." kata Restandi menciumi mesra istrinya.


"Rest aku kan mau ke klinik." Ini hari pertama Arleta akan bekerja.


"Nanti kalau kau merasa letih dan lesu datang saja ke rumah sakit. Temui dokter Restandi Gutama " Restandi merayu.


"Untuk apa?" Arleta belum mengerti maksudnya.


"Biar dapat yang enak-enak." kata Restandi mesra.


"Itu sih bukannya segar malah makin lemas." Arleta protes.


"Kita belum pernah loh sayang, main di kantorku." ide Restandi.


"Aku beri pelayanan spesial " katanya dengan memandikan istrinya, mencuci rambut Arleta. Tidak lupa menghujani dengan ciuman. Restandi mengagumi tubuh istrinya. Walau sudah punya dua anak tubuh Arleta tetap indah. Arleta menjaganya dengan baik. Untuk hal ini Restandi memang rewel. Menurutnya itu untuk kenyamanan istrinya juga. Arleta pasti akan mengeluh jika tubuhnya gemuk. Sedangkan Restandi sendiri mengakui, salah satu yang membuatnya tertarik pada Arleta katena tubuhnya yang indah. Arleta sendiri merasa nyaman. Dia tidak perlu menambah nomer bajunya. Dia sadar suaminya banyak yang suka, maka dia menjaga penampilannya tetap baik di mata suaminya. Arleta senang Restandi menunjukan minat pada dirinya dan tidak pernah menolak keinginan suaminya. Restandi bukan suami yang banyak maunya. Dia hanya sibuk bekerja lalu jika penat dan lelah akan mencari istrinya. Semakin penat Arleta semakin di buru. Arleta bukan wanita super, kadang dia kewalahan dengan minat Restandi. Kalau sudah begitu pekerjaan yang dia korbankan. Restandi membantu Arleta mengeringkan rambutnya. Baru kemudian dia mengeringkan rambutnya sendiri. Melihat putrinya mulai menggeliat Restandi menggendongnya.


"Papa yang minum susu duluan tadi, boleh ya." kata Restandi sambil mencium pipi Alris. Arleta tersenyum mendengar itu. Dadanya memang habis sama Restandi tadi.


"Minum susu dulu ya." Arleta mengambil Alris sebelum bayi itu menangis. Dia duduk lalu menyusui putrinya. Restandi melihat itu dengan senang. Pemandangan yang tidak selamanya bisa di lihat.


"Bagaimana kalau aku yang di pangkuanmu sambil menyusu?" tanya Restandi nakal.

__ADS_1


"Kamu pakai botol susu saja." Arleta tidak kalah sama suaminya.


"Pinjam punya Alrest ya." Restandi tertawa, dia memakai bajunya. Ketika sedang memakai dasinya mbok Jumi datang membawa susu untuk Arleta.


"Mbok kira den Rest di atas." kata mbok Jumi sambil menaruh susu di meja. Mbok Jumi menyiapkan air hangat untuk Alris.mandi.


"Si mbok yang mau ke lantai atas?" tanya Restandi menggoda mbok Jumi.


"Putus napasnya ke lantai atas." mbok Jumi protes. Mbok Jumi memang sudah tua. Dia dulu mengasuh Restandi dan Rion ketika kecil.


"Mandi sama mbok ya." kata mbok Jumi pada Alris yang sudah selesai menyusu. Arleta meluluskan keinginan mbok Jumi dan menyerahkan Alris. Mbok Jumi memandikan Alris sambil terus mengoceh. Arleta segera bersiap, duduk di meja riasnya. Restandi sudah selesai dan mulai memakai sepatunya. Selesai memandikan Alris mbok Jumi memakaikan bajunya.


"Mbok kalau lelah ke sini suruh yang lain saja." kata Restandi sambil menyiapkan tasnya.


"Hitung-hitung olahraga den. Kita turun yuk lihat Kaka Alrest di bawah." mbok Jumi menggendong Alris, lalu turun ke bawah. Restandi membuka pintu penghubung, hanya untuk memastikan Alrest sudah bangun. Lalu dia menghampiri Arleta yang sedang berhias.


"Jangan cantik-cantik, nanti banyak yang lirik." pesannya pada sang istri. Di ciumnya kepala Arleta. Restandi lalu turun ke bawah, ingin melihat putranya. Di ruang makan sudah ramai. Tetangga pagi-pagi sudah datang. Trisia telaten mengurus Matris. Pagi-pagi Matris sudah rapih dan cantik. Alrest tampak berlarian, Rina sedang menyuapi bubur.


"Alrest, sini sama papa." panggil Restandi. Dia tidak suka anaknya makan sambil berlarian seperti itu. Alrest terkejut, dia menghampiri Restandi.


"Makan dulu, baru main." kata Restandi tegas. Alrest menatap Restandi sambil diam, dia menilai apakah papanya marah karena suaranya yang cukup keras. Alrest merogoh saku celananya, menunjukan mobil kecil warna biru. Dia ingin merayu papanya agar tidak marah.

__ADS_1


"Dari mana lagi itu?" tanya Restandi lembut.


"Uncle." jawab Alrest senang, tampaknya papanya tidak marah. Restandi melirik Rion yang menatap Alrest dengan bangga. Mobilnya di sukai Alrest.


__ADS_2