Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
177. Sebuah Permintaan


__ADS_3

Arleta yakin apa yang di bisikan Restandi bisa terjadi. Subuh Arleta merasa Restandi memasuki dirinya, dia pun terbangun.


"Maaf ya sayang kamu jadi terbangun." Restandi menjelajahi wajah Arleta yang membuatnya jatuh cinta. Wajah dulu, baru turun ke bawah. Arleta pasrah. Mungkin karena hasratnya yang sudah sangat tinggi Restandi segera selesai.


"Arleta sayang, kamu sudah memberi warna dalam hidupku. Cape tidak jadi istriku?" Restandi menyimpan Arleta dalam pelukannya.


"Capelah, di ganggu pagi dan malam." Arleta mengomel. Restandi tersenyum. Di usapnya rambut Arleta, di ciumnya keningnya. Restandi tau Arleta tidak bersungguh-sungguh.


"Sejak di pertemukan denganmu aku sudah tertarik dan yakin kamu istri yang tepat untukku. Pilihan mama ternyata benar, kamu bisa buat aku bahagia." Restandi mengusap wajah Arleta mesra. Hati Arleta jadi berbunga-bunga.


"Sekarang bilang sama aku perasaan hatimu jadi istri aku." Restandi menatap Arleta.


"Awalnya aku ragu, kita tidak saling cinta tapi harus menikah. Sedangkan orang yang aku cinta malah bisa membagi hasrat dan tubuhnya dengan wanita lain. Tentu saja aku takut kamu juga bisa begitu dan aku tidak bisa menerima itu. Walaupun Kevin mencintai aku dan dia buktikan dengan terus mengejarku tapi itu tidak merubah hatiku. Tapi kamu bisa buat aku nyaman dan percaya pada janjimu. Walau kita menikah tanpa cinta tapi kita melakukannya atas dasar kepercayaan dan upaya bersama untuk menumbuhkan cinta itu. Kamu buktikan sama aku kalau aku orang terpenting dalam hidupmu. Sudah ganteng, lembut, perhatian bagaimana aku tidak jatuh cinta." Arleta mencium pipi Restandi yang sekarang berbunga-bunga hatinya.


"Cuma satu yang aku sebal." kata Arleta lagi.


"Apa tuh?" Restandi mengusap bibir Arleta, ingin cium rasanya.


"Terlalu nurut sama Sehun. Bagaimana kalau Sehun kadih projek baru lagi?" Arleta kesal jadinya.

__ADS_1


"Aku mati sepertinya. Makanya aku butuh kamu." Restandi mempererat pelukannya.


"Rest aku sadar di luar sana banyak wanita yang sempurna dan menawan. Karena aku pernah merasakan sakitnya di khianati maka tolong jujur dan bilang sama aku kalau kamu tertarik atau jatuh cinta pada wanita lain. Jangan main di belakangku." Arleta mengusap dada Restandi dengan sayang.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan?" Restandi ingin tau dulu pandangan Arleta, sebelum memberikan pendapatnya.


"Waktu Ke in lakukan itu aku merasa tidak cukup berharga untuknya sehingga dia bisa berpaling pada yang lain. Perasaan itu akan aku bawa terus. Aku tidak bisa berbagi, suami aku ya untuk aku seorang. Jika tidak bisa menerima kekuranganku ya jangan hidup bersamaku." kata Arleta tegas.


"Punya istri satu saja aku sudah kewalahan, apa lagi punya istri dua." Restandi paham maksud Arleta.


"Memangnya aku rewel?" Arleta mau protes.


"Bukan begitu. Punya istri itu bukan hanya untuk pelengkap hidup atau mengurusi suami. Istri juga harus di perhatikan, di penuhi haknya dan di bahagiakan hidupnya. Karena itu tanggung jawab suami ketika dia menikah. Aku punya segudang pekerjaan yang tidak ada habisnya. Tapi aku juga harus punya waktu untuk istri aku, belum lagi untuk anak-anakku. Selain aku butuh kamu aku juga harus penuhi kebutuhanmu. Kalau cuma uang yang aku kasih bisa-bisa kamu peluk yang lain." Restandi mencium Arleta posesif. Dari tindakannya mengandung peringatan untuk Arleta agar tidak melirik yang lain.


"Mandi yuk, aku mandiin kamu. Atau aku naik lagi nih." kata Restandi, Arleta langsung setuju untuk mandi. Sesuai janjinya Restandi memandikan Arleta. Dia mengagumi tubuh istrinya yang terjaga. Buat siapa kalau bukan buat suami. Karena masih terlalu pagi Restandi memberikan baju tidur pada Arleta. Restandi membuatkan susu hangat dan memberikan pada Arleta yang sedang mengeringkan rambutnya.


"Di minum susunya, masih hangat." Restandi mengambil alih mengeringkan rambut Arleta.


"Belakangan ini aku ingin bawa kamu kemanapun aku pergi. Karena rasa ingin aku tinggi, jadi kalau aku ingin aku kan tinggal tarik kamu." Restandi berkata sambil menyisir rambut Arleta.

__ADS_1


"Kenapa begitu ya?" Arleta penasaran dengan keinginan Restandi yang tinggi.


"Habis kamu pamer-pamer itu terus sih." Restandi menunjuk dada Arleta. Menatap ke cermin Arleta melihat dadanya yang menggoda karena belahan baju tidurnya yang rendah.


"Kan kamu yang pilihin bajunya. Jangan-jangan.........." Arleta melihat seringai Restandi yang nakal, dia langsung tau kalau pria itu sengaja memilihkan gaun tidur yang seperti itu.


"Ini sih maling teriak maling." Arleta bangkit ingin mengganti bajunya. Restandi segera memeluknya.


"Ko aku di bilang maling sih sayang. Ini kan milik aku, kapan aku mau aku bisa menikmatinya." Restandi mencium pipi Arleta lalu turun ke leher berlama-lama mengecup di sana.


"Rest nanti mau lagi." Arleta mulai terpancing.


"Mau sih, tapi tidak sekarang. Nanti kamu lelah. Kamu kan harus urus anak belum lagi ke klinik. Nanti malam saja. Ini di pake lagi." Restandi berbisik dan menarik sedikit baju Arleta. Setelah itu dia berbalik, mengeringkan rambutnya sendiri yang masih basah sambil berjalan ke ruang pakaian. Karena masih terlalu pagi dia malas rapih-rapih. Restandi mengenakan kaos dan celana pendek. Dia berbaring di sofa sambil melihat TV. Restandi mencari tau perkembangan saham di saluran luar negeri pada TVnya. Arleta menyiapkan baju kerja Restandi lalu bajunya sendiri yang akan dia pakai hari itu. Setelah selesai Arleta menghampiri Restandi.


"Rest aku boleh minta sesuatu?" Arleta duduk di tepi sofa menatap suaminya.


"Minta apa sayang?" Restandi mematikan TV dan mendengarkan istrinya. Di pegangnya tangan Arleta lembut. Beberapa tahun menikah, Arleta jarang meminta sesuatu.


"Aku bokeh minta mobil kecil? kalau besar bawanya repot." Restandi baru ingat mobil Arleta yang tidak pernah pulang lagi karena kecelakaan dulu. Restandi tidak mau Arleta teringat pada kecelakaan itu. Selama ini Arleta menggunakan mobil Sofi.

__ADS_1


"Kan bukan kamu yang bawa, Jono yang bawa." Restandi masih khawatir Arleta setir mobil sendiri.


"Jono kadang repot." Arleta berkilah. Restandi harus mencari tau akan hal ini.


__ADS_2