
"Aku tidak mau menempatkannya pada keadaan yang tidak menyenangkan." Melani tetap pada pemikirannya. Avery merasa percuma bicara pada adiknya.
"Ya sudahlah kau pikirkan dulu. Dia sudah pulang aku rasa, dia tidak mungkin terus di sini. Kau boleh merasa lega." Avery meninggalkan Melani. Gadis itu semakin sedih mendengar perkataan kakaknya. Mana mungkin dia merasa lega. Hatinya sejak kemarin sudah ingin bertemu Armando. Dia merindukan pria itu. Tapi kalau dia bertemu Armando hatinya akan goyah. Dia akan mengikuti pria itu. Sepertinya Armando tau itu maka dia berkeras untuk bertemu Melani. Mendengar Armando sudah pulang ada kehampaan dalam hatinya. Kalau saja dia wanita egois, dia pasti tidak akan melepaskan Armando. Hati dan pikirannya yang sesak membuat Melani merasa harus keluar rumah. Dia berjalan-jalan di taman tidak jauh dari rumah. Duduk sambil menikmati suasana taman membuatnya lebih tenang. Setelah merasa cukup duduk di sana Melani pun memutuskan untuk pulang. Dia bangkit berdiri tapi tiba-tiba dia merasa pusing dan jatuh terduduk. Seorang wanita paruh baya yang lewat di dekatnya menghampirinya.
"Kau kenapa? Ada yang bisa ku bantu?" tanya wanita itu ramah.
"Aku merasa pusing dan mataku gelap." kata Melani menjelaskan.
"Mari kubantu berjalan, ada dokter di sana kita bisa memeriksa keadaanmu." wanita itu pun membantu Melani berjalan. Melani merasa beruntung ada yang membantunya. Mereka datang pada sebuah klinik kecil di ujung taman. Dokternya sangat ramah. Melani berterima kasih pada wanita yang membantunya dan mengatakan dia boleh meninggalkan Melani. Dia akan menelpon Avery untuk menjemputnya. Dokter itu memeriksa Melani dengan seksama dan memberi tau gadis itu hasilnya. Beberapa saat kemudian Melani duduk di depan klinik menunggu Avery datang. Gadis itu berlari menghampiri Melani.
"Ada apa? Kau sakit? Mengapa kau pergi tidak bilang padaku?" Avery mengatur napasnya karena habis berlari.
__ADS_1
"Avery......aku hamil." kata Melani tanpa ekspresi di wajahnya.
"Apa??? luar biasa." Avery terduduk di sebelah Melani. Ada apa lagi ini, pikirnya.
Arleta di rumah sakit sedang bergosip dengan Monika. Asisten Restandi ini sebenarnya cantik tapi gayanya terlalu biasa. Pantas saja Sehun tidak pernah meliriknya. Arleta pun membujuk Monika untuk mengubah penampilannya. Awalnya Monika tidak mau. Dia merasa jika ada pria yang mau bersama dengan dia ya harus terima dia apa adanya. Tapi dengan dia yang apa adanya ini sang pujaan tidak meliriknya. Diam-diam Arleta dan Monika bertemu di luar rumah sakit. Monika mengunjungi klinik Arleta di hari liburnya. Monika melakukan perawatan di tangan Diana langsung. Dia belajar untuk berhias walau sederhana. Arleta membawanya ke salon untuk mengubah potongan rambutnya. Tidak hanya itu, gaya berpakaian Monika pun di ubah. Maka berubahlah Monika menjadi wanita yang menawan. Restandi sampai terkejut melihat Monika di hari pertama kemunculannya sebagai wanita yang baru. Arleta memperhatikan Restandi menatap Monika heran.
"Suamiku, awas jangan macam-macam." kata Arleta mengancam Restandi.
"Aku janji sayang tidak macam-macam." Restandi berkata sambil mengacungkan dua jarinya. Tapi beberapa hari kemudian Restandi mulai mengeluh. Beberapa dokter mulai mengunjunginya tanpa alasan yang jelas. Meja Monika mulai banyak kiriman entah dari siapa saja. Bahkan Sehun datang ke ruang kerjanya dan bertanya apa dia punya asisten baru. Waktu Restandi katakan itu Monika Sehun terkejut. Lalu ketika akan pergi Restandi melihat Sehun tampak menatap Monika sesaat sebelum kemudian berlalu. Arleta tersenyum mendengarnya. Ternyata Sehun mulai memakan umpan. Sejak saat itu Arleta selalu bertanya pada Restandi tentang Sehun dan Monika. Restandi sampai heran.
"Ok, aku akan cerita ke kamu bagaimana perkembangan Sehun dan Monika. Aku juga penasaran sih apa upayamu ini berhasil. Tapi aku mau tau, kenapa kamu sekarang dekat dengan Rion?" tanya Restandi menggunakan kesempatan.
__ADS_1
"Kamu cemburu?" tanya Arleta iseng.
"Untuk apa aku cemburu sama berandal itu. Kan kamu sendiri yang bilang, lebih keren aku kemana-mana." jawab Restandi santai. Arleta tersenyum. Akhirnya Arleta cerita awal dia merasa kasihan pada Rion. Tentang pengakuan Rion waktu itu. Semua Arleta ceritakan. Arleta juga berkata dia hanya ingin menjadi keluarga yang baik bagi Rion, karena sepertinya ada yang hilang dalam hidupnya. Restandi terdiam mendengar penjelasan Arleta. Dia tidak menyangka Rion punya pikiran seperti itu.
"Ya sudah, sekarang sudah malam tidur ya." Restandi membantu Arleta berbaring. Tidak lama kemudian Arleta terlelap. Mata Restandi belum bisa terpejam. Pikirannya lari pada Rion. Apa yang di katakan adiknya benar. Mereka sibuk dengan luka masing-masing hingga lupa bahwa Rion sebenarnya tidak bersalah. Mamanya sudah berbesar hati membesarkan Rion, tapi mungkin belum bisa menggantikan sosok ibu sepenuhnya. Karena ada luka yang dalam. Dia sendiri tidak suka pada Rion, bukan benci. Apa yang membuat mamanya terluka Restandi tidak suka. Tapi dia lupa bahwa Rion tidak bersalah. Dia berhak mendapatkan pengakuan dan kadih sayang. Yang paling parah adalah papanya. Dia sosok yang bersalah tapi egois. Perasaan bersalahnya hanya di tujukan pada istrinya, tapi tidak memandang putra hasil perbuatannya. Jika dulu dia tidak terpancing tidak akan terjadi hal yang menyakitkan ini. Oleh sebab itu perasaan Restandi pada papanya tidak berubah. Tapi pada Rion dia jadi merasa bersalah. Pikirannya yang baru di dapatnya ini karena wanita di sampingnya. Restandi merengkuh Arleta dalam pelukannya. Diciumnya kening istrinya lembut. Dia akan berhati-hati agar tidak menyakiti perasaan istrinya. Apalagi Arleta sudah mencintainya. Restandi sudah memenangkan pertempuran. Merebut cinta Arleta. Dia tidak akan menyia-nyiakan kemenangannya. Pagi hari mereka berkumpul di ruang makan. Nikolas dan Sofi pagi ini akan berangkat ke Paris. Rion tampak santai di sebelah Sofi.
"Kamu tidak syuting nak?" tanya Sofi lembut.
"Tidak ma. Sepertinya ada kendala tentang biaya pembuatan filmnya. Yah bikin film yang bagus itu tidak mudah." kata Rion kesal.
"Loh jadi filmnya bisa di hentikan dong. Trus kamu di bayar tidak?" tanya Sofi cemas.
__ADS_1
"Tidak masalah sih di bayar atau tidak. Aku sih lebih mikir produksi filmnya. Sayang jika berhenti." Buat Rion cari uang lagi mudah. Dari iklan atau kontrak film baru dia dapat uang. Dia betul-betul menyayangkan produksi film yang harus berhenti. Restandi menatap Rion tajam, tapi tidak berkata apa-apa.
"Ma kita harus berangkat." Nikolas memotong percakapan seolah itu tidak penting. Dia memang tidak suka Rion menjadi aktor. Sofi menghela napas tidak berdaya.