Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
77. Tragedi


__ADS_3

Trisia lalu memiliki pikiran yang lebih kurang ajar lagi. Armando yang memberi kenikmatan untuknya. Pikirannya buyar ketika mereka mencapai puncaknya. Rion mencium bibir Trisia lembut, itu ungkapan terima kasihnya karena telah memenuhi hasratnya. Rion selalu melakukan itu pada saat dia mendapatkan pelepasannya. Rion pun membantu Trisia membetulkan bajunya. Rion benar-benar merasa puas, bukan hanya karena hasratnya terpenuhi tapi mengetahui Trisia di bawah kendalinya.


"Kamu tenang dulu di sini ya." Rion berkata pada Trisia sambil memberikan sebotol air putih. Rion masih mencuri ciuman di bibir Trisia , sebelum meninggalkan gadis itu. Rion melangkah pergi dengan wajah bahagia. Ah hidup menyenangkan, pikirnya. Dia rela di pukul Arleta jika nikmatnya seperti tadi. Jono memotret wajah bahagia Rion dan mengirimkannya pada Arleta. Jono tidak mengirim foto pada saat Rion beradegan mesra. Bosnya sedang hamil besar, kasihan kalau nanti kepingin. Ketika Arleta bicara pada Rion, Don Juan buluk itu berkata dengan jujur.


"Arleta aku sudah kecanduan tubuh Trisia. Kamu tau kan, aku tidur dengan wanita bukan sekali ini saja. Tapi Trisia berbeda untukku. Aku betul-betul bahagia bersamanya." Arleta pikir adik iparnya sudah gila. Tapi perkataan Rion menjadi bahan pemikiran Arleta. Seorang pria kecanduan dan merasa bahagia atas tubuh wanitanya. Dia pun bertanya pada Restandi.


"Aku puas dan bahagia jika bersamamu." jawaban Restandi malah membuat Arleta salah paham.

__ADS_1


"Jadi kamu pernah melakukan dengan yang lain?" tanya Arleta marah.


"Sumpah, aku tidak pernah melakukannya dengan yang lain." Restandi menampakkan wajah lugu dan menaikan dua jarinya. Arleta jadi kesal. Di tanya serius suaminya malah bercanda. Restandi dengan sayang meraih Arleta ke dalam pelukannya.


"Sayang, kalau aku puas dan bahagia bersamamu untuk apa mencari yang lain. Buktinya aku inden berapa kali, coba ingat?" tanya Restandi manja.


"Masak sih sebanyak itu. Kamu tidak salah hitung? Setau aku baru sepuluh kali." kata Restandi santai.

__ADS_1


"Dokter jantung lulusan luar negeri tapi tidak becus menghitung." Arleta mengejek Restandi.


"Bagaimana jika mulai hari ini kita menghitung dari awal?" tanya Restandi dengan wajah penuh minat. Ah, Arleta merasa tertipu.


Melani akan menyambut suaminya datang. Armando akan segera tiba. Dia akan berbelanja dan memasak untuk Armando. Mungkin yang terakhir kali, karena sebentar lagi akan melahirkan dia pasti sibuk dengan bayinya. Karena perutnya yang besar Melani tidak berani pergi sendiri. Dia minta pengawal pribadinya Ryan untuk mengantarnya. Mereka berjalan kaki menuju toko serba ada yang di sukai Melani. Ketika akan menyeberang jalan, Ryan menyodorkan tangannya.


"Nona pegang tangan saya." kata Ryan pada Melani.

__ADS_1


"Ok." kata Melani lalu memegang tangan Ryan. Ada banyak penyebrang jalan saat itu dan Melani berada di tengah mereka. Ryan menggandeng Melani ketika lampu sudah hijau. Ketika tengah menyeberang tas Melani terjatuh. Dia pun melepaskan tangan Ryan dan berbalik untuk mengambil tasnya. Ryan ingin mencegahnya dan akan mengambilkan tas Melani. Tiba-tiba sebuah motor kencang melaju ke arah Melani. Pengemudi motor mengira semua penyebrang jalan sudah akan liwat ketika dia melintas. Dia tidak menyangka ada yang kembali lalu berhenti dan mengambil sesuatu. Ryan belum menyelesaikan kalimatnya ketika di lihatnya Melani sudah terkapar di jalan dengan berdarah. Sekilas di lihatnya sebuah motor tetap melaju kencang menjauh. Ryan segera menghampiri Melani. Anak buahnya datang untuk membantu. Ada tiga orang penjaga yang mengikuti dia dan Melani. Ryan menyuruh yang seorang untuk mengambil mobil, karena dia akan membawa Melani yang tidak sadar ke rumah sakit. Yang seorang lagi di suruh menghubungi Avery. Dan yang seorang lagi di suruhnya untuk mencari tau siapa yang menabrak Melani. Ryan pun membawa Melani ke rumah sakit terdekat. Kepala Melani berdarah. Melani masuk ke ruang gawat darurat. Dia kehilangan banyak darah karena benturannya yang hebat. Bayinya juga terancam meninggal dunia, harus segera di keluarkan. Avery baru saja turun dari pesawat ketika di kabarkan tentang Melani. Dia datang untuk membawakan perlengkapan bayi yang di minta Melani. Karena adiknya akan segera melahirkan dan merasa kesulitan mencari perlengkapan bayinya. Melani juga di sibukkan dengan kuliahnya. Avery mendapat informasi dari Ryan, di mana Melani berada. Avery pun segera ke rumah sakit. Ketika Avery datang dokter meminta tanda tangannya untuk tindakan operasi untuk penyelamatan bayi Melani. Avery pun segera melakukannya. Dia menghubungi Armando, tapi tampaknya Armando sudah di pesawat dan tidak bisa di hubungi. Avery pun meninggalkan pesan agar Armando datang ke rumah sakit karena Melani berada di sana. Mereka menunggu operasi dengan tegang. Ryan telah menceritakan apa yang terjadi pada Avery. Penyelidikan terus di lakukan untuk mencari tau siapa penabrak Melani. Operasi berhasil di lakukan. Untuk sementara bayi Melani di tempatkan di inkubator, sampai bayi itu siap. Melani melahirkan bayi perempuan. Tapi keadaan Melani sangat lemah dan belum sadarkan diri. Melani di tempatkan di ruang ICU, dan menggunakan alat bantu pernapasan. Avery berurai air mata, dia melihat bayi Melani yang cantik. Lalu melihat adiknya yang lemah tak berdaya. Avery menghubungi ayahnya. Menceritakan apa yang terjadi pada Melani. Zakhary terkejut dan marah. Zakhary memutuskan memindahkan Melani ke Amerika jika keadaannya sudah lebih baik. Dia tidak mau lagi jauh dari putrinya. Avery berjanji akan memberi tau ayahnya. Semakin malam keadaan Melani semakin buruk. Avery terus berada di sampingnya. Hingga akhirnya Melani tidak sanggup lagi dan menghembuskan napas yang terakhir kalinya. Avery histeris. Dia lemas dan tidak sanggup berdiri. Ryan harus memegangnya agar dia terus berdiri. Tanpa sadar Ryan pun meneteskan air mata. Selama Melani di Australia Ryan yang menjaganya. Terlihat atau tidak terlihat. Melihat nonanya meninggal di depan matanya, Ryan tidak dapat memaafkan dirinya. Ryan membopong Avery yang masih menangis hebat. Mereka keluar dari ruang ICU karena para dokter masih berusaha untuk menyelamatkan Melani. Tapi sia-sia. Melani tidak pernah bangun lagi. Dengan di bantu Ryan, Avery memberi tau ayahnya yang langsung jatuh terduduk dan menangis. Istrinya bingung, tapi ketika di beri tau dia pun menitipkan air mata. Avery tidak berani memberi tau Armando. Jadi ketika Armando turun dari pesawat dilihatnya pesan Avery, Armando mengira Melani sudah melahirkan. Maka dia bergegas ke rumah sakit. Avery tidak memberi tau bahwa yang dia temui hanya tubuh istrinya, tanpa napas kehidupan. Armando berdiri di depan tubuh istrinya yang membisu. Air matanya turun tanpa dapat di hentikan. Dia ingin memeluk Melani, tapi dia takut pada kenyataan.


__ADS_2