
"Aku akan ajukan proposal ya. Arleta masih ke klinik?" tanya Armando kemudian.
"Tidak setiap hari, aku melarangnya." Restandi khawatir Arleta terlalu lelah.
"Aku ingin bekerja sama dengan Leta. Dulu waktu klinik itu milik mama aku malas, karena banyak maunya. Tapi sekarang sudah milik Arleta, aku tertarik." Armando menyatakan rencananya.
"Apa? Milik Arleta?" Restandi baru mendengarnya.
"Kau tidak tau? Arleta tidak bilang itu hadiah pernikahannya?" Armando tertawa melihat reaksi Restandi.
"Dia tidak pernah bilang. Wah istriku Mein kucing-kucingan rupanya." Restandi sudah membayangkan hukuman manis apa untuk istri tercintanya itu.
"Menurutku dia pintar. Aku jadi menyesal menyebutnya di depanmu." ejek Armando.
"Aku sih tidak masalah, itu hak Arleta. Aku senang dia memiliki sesuatu untuk dirinya sendiri. Walau segala miliku juga miliknya. kata Restandi. Armando sudah tau karakter Restandi, itu sebabnya dia dulu mendukung Restandi untuk mendapatkan adiknya.
"Aku harus kembali ke kantor. Nanti aku hubungi lagi." kata Armando pamit. Dia meninggalkan ruangan Restandi dengan undangan di tangannya. Di rumah Restandi melihat Arleta sedang bersantai dengan menonton drama di tv. Arleta sedang malas keluar dari kamar.
"Sayang aku pulang nih. Aku mandi dulu ya." Restandi segera ke kamar mandi. Dia baru datang dari rumah sakit, terbiasa membersihkan diri sebelum melakukan kegiatan di rumah. Arleta hanya tersenyum, dia malas bangkit dan sibuk dengan makanan ringannya. Matanya kembali fokus pada dramanya. Restandi selesai mandi, rupanya nyonya muda Gutama tidak ingat punya suami. Restandi menghampiri Arleta, lalu mengangkatnya dan mendudukkan istrinya di pangkuannya.
"Kamu bikin kaget saja?" Arleta protes.
"Makan apa sih? jangan banyak-banyak." kata Restandi memperhatikan apa yang Arleta makan.
"Ini sehat ko." Arleta membela diri.
"Bukan begitu, nanti aku tidak kebagian." Restandi mengganggu Arleta. Istrinya kesal menarik hidung Restandi.
"Kami di tanya Armando, sayang. Katanya klinik sudah jadi milikmu ya? Restandi ingin memastikan.
__ADS_1
"Iya memang sudah di serahkan ke aku waktu kita nikah." jawab Arleta jujur.
"Kamu tidak bilang, mau diam-diam ya sama suami." Restandi pura-pura marah.
"Masak sih aku belum bilang? Sorry deh, mungkin aku lupa bilang." Arleta menyesal.
"Kamu musti di hukum nih sayang, aku mau perawatan di klinik kamu tapi kamu sendiri yang merawat aku." kata Restandi manja. Arleta bingung, berarti dia harus belajar dulu dong.
"Terus Armando juga bilang dia mau kerja sama di klinik. Memang kamu mau klinik di perbesar?" Restandi baru dengar rencana ini.
"Pingin sih tapi aku mau lahiran, rasanya belum sanggup." jawab Arleta.
"Nanti ngobrol saja sama Armando." kata Restandi. Besoknya mereka menghadiri pesta pernikahan Sehun dan Monika. Keluarga Gutama lengkap datang ke pesta. Armando datang bersama Trisia, dia melihat Rion. Tapi karena ini pesta dan di hadiri banyak undangan maka Rion dan Trisia menjaga jarak. Apa lagi keduanya aktor dan artis yang di kenal. Mungkin ini terakhir kalinya Armando dan Trisia tampil berdua. Banyak staf rumah sakit juga yang datang ke perhelatan itu.
"Apa kabar adik gendut?" sapa Armando sambil mengusap kepala Arleta.
"Yang penting sehat. Jaga bayinya baik-baik ya." ada nada sedih dalam perkataan Armando. Mungkin ingat Melani.
"Tidak lihat nih pengawalnya?" kata Restandi menunjuk dirinya.
"Yakin deh, yang ngasal dokter jantung." kata Armando tersenyum. Mereka menikmati hidangan bersama. Tengah mengobrol dengan undangan lain, Restandi di hubungi oleh rumah sakit. Darma Huzen mengalami serangan jantung. Restandi dan Arleta pun bergegas ke rumah sakit. Untung saja jaraknya tidak jauh.
"Kamu tunggu di ruanganku ya sayang." kata Restandi pada Arleta, dia bergegas ke ruang ICU. Di depan ruang itu Restandi sudah di nanti seorang perawat.
"Dok ini jasnya." perawat itu menyodorkan jas putih pada Restandi. Dia sudah memperkirakan Restandi akan langsung ke ICU. Restandi pun membuka jas yang di pakainya, menukarnya dengan jas dokternya. Ada Paramita di sana yang tengah cemas akan ayahnya. Di tengah kecemasannya dia masih mengagumi Restandi yang datang dengan setelan jas biru tuanya.
Tampan, pikir Paramita. Restandi langsung masuk ruang ICU.
"Bagaimana keadaannya? Siapa tadi yang memantaunya?" tanya Restandi cepat.
__ADS_1
"Aira dok, sudah stabil sekarang." jawab Norman. Restandi memeriksa pasien untuk memastikan perkataan Norman. Lalu dia membaca catatan Aira. Restandi melihat keadaan Darma Huzen tepat seperti yang di katakan Norman.
"Untuk sementara jangan ada yang besuk dulu." kata Restandi sambil melangkah keluar dari ruangan itu. Norman dan Aira mengikuti mentornya.
"Aira, kamu pulang saja. Biar Norman yang memantaunya malam ini." kata Restandi melihat rona lelah di wajah Aira. Tapi memang sudah lewat waktu bertugasnya malam itu.
"Baik dok." Aira pun memisahkan diri menuju ruangannya. Dia akan pulang. Sementara Norman masih terus mengikuti Restandi ke ruang kerjanya. Perawat tadi juga mengikuti mereka sambil membawa jas Restandi. Sesampainya di ruangannya Restandi menuju meja kerjanya di ikuti Norman.
"Terima kasih ya Eva." Arleta mengambil jas Restandi dari perawat tadi.
"Sama-sama Bu. Saya permisi." kata Eva pada Arleta.
"Kamu pantau sampai besok Aira datang. Jika sudah benar-benar stabil bisa pindah ruangan dan di besuk lagi." kata Restandi pada Norman.
"Baik dok, akan saya pantau terus." kata Norman yakin.
"Besok saya harus keluar kota. Tapi saya yakin kamu bisa menangani bapak Huzen. Tadi saja tindakannya sudah bagus." kata Restandi pada Norman. Besok memang Restandi libur dan dia akan mengantar Arleta pijat.
"Tadi itu Aira dok, saya belum lama datang." jawab Norman jujur. Aira memang cekatan, pikir Restandi tentang asistennya.
"Ok tolong dilihat untuk malam ini. Saya pulang dulu kasihan istri saya bawa-bawa anak tuh." kata Restandi yang bangkit dan membuka jas putihnya.
"Semoga lancar ya Bu." kata Norman pada Arleta, yang tidak perlu repot-repot sekolah kedokteran tapi jadi ibu dokter.
"Terima kasih." kata Arleta yang bangkit dari duduknya karena akan pulang. Restandi mengambil jas dari tangan Arleta dan menggandeng tangan istrinya untuk pulang. Norman masih mengikuti mereka yang kemudian menuju posnya. Dia harus bertugas malam ini. Dari jauh Paramit melihat itu, diam-diam dia kecewa. Besok paginya Aira datang dengan wajah lebih segar. Norman pun menyerahkan Darma Huzen di bawah pengawasan Aira. Sekarang dia yang akan pulang.
"Bagaimana ayah saya dok?" Paramita menemui Aira untuk mengetahui perkembangan ayahnya.
"Sudah lebih baik, jika stabil terus bisa pindah ruangan. Tapi besuknya nanti saja ya jika sudah di pindah."
__ADS_1