Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
120. Kejutan Kedua


__ADS_3

"Kalau sakit aku rela ko........ambil es batu." Khanza menggoda Kevin.


"Khanza.....kamu ko tau yang begitu?" Kevin curiga.


"Dari novel lah, memang dari mana?" Khanza tertawa sambil iseng menyentuh kancing kemeja Kevin.


"Mau di buka?" tanya Kevin balas menggoda Khanza.


"Ist jangan. Apa sih Anang." Khanza malu dia jadi mencubiti Kevin.


"Belum nikah sudah kdrt. Jadi kamu cinta sama aku?" Kevin tersenyum lembut, tangannya menahan tangan Khanza agar tidak mencubit lagi. Khanza mengangguk tersipu.


"Sejak kapan?" Kevin mengejar jawaban Khanza.


"Mungkin sejak Abang perhatian sama aku, sudah suka. Hari ini jadi cinta." kata-kata Khanza membuat Kevin tambah sayang pada gadis itu. Di peluknya Khanza, di ciumnya sesaat. Takut pertahanannya lepas kendali.


"Aku pulang dulu ya, takutnya kami nanti ada di bawah aku loh." kata Kevin dengan isyarat matanya.


"Memangnya kalau di atas tidak boleh?" Khanza tersenyum manis.


"Khanza." Kata Kevin geram. Dia berusaha menahan, gadisnya malah sibuk memancing. Khanza pun berdiri, di susul Kevin.


"Besok aku jemput kamu ya. Ada yang mau aku perlihatkan." Kevin mengusap rambut Khanza yang indah dan mencium kening gadis itu.


"Kejutan lagi?" tanya Khanza heran.


"Iya, lihat besok ya. Aku pulang." Kevin melangkah ke pintu, membukanya lalu tersenyum sesaat sebelum meninggalkan Khanza. Kevin pulang dengan bahagia. Khanza sudah jadi miliknya. Khanza sendiri senyum-senyum sendiri. Bibirnya bengkak karena ulah Kevin. Bisa di pastikan malam ini Khanza akan sulit tidur. Kevin tiba di rumah. Di ambilnya ponselnya dan menelpon seseorang.

__ADS_1


"Halo." suara di seberang sana.


"Hai Revan, kapan orangtuamu pulang? Aku akan melamar Khanza." kata Kevin tanpa basa-basi. Besok paginya Kevin sudah datang ke apartemen Khanza untuk menjemput gadis itu.


"Kita mau ke mana bang?" Khanza penasaran.


"Kan kejutan, nanti juga tau." Kevin suka melihat Khanza penasaran seperti itu. Hidupnya mulai semarak dengan Khanza yang sudah menjadi bagian dalam hidupnya. Mereka melakukan perjalanan dalam diam. Khanza yang berdebar-debar dan Kevin yang senyum-senyum senang. Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang tampaknya kosong.


"Ayo turun." Kevin membukakan pintu untuk Khanza. Tanpa banyak bertanya Khanza pun mengikuti Kevin memasuki rumah tersebut. Rumah itu cukup besar, apalagi dalam keadaan kosong jadi semakin tampak luas.


"Sayang kalau kamu suka rumah ini akan kita beli untuk menjadi rumah masa depan kita." kata Kevin dengan manis pada Khanza. Gadis itu terpana. Dia melihat Kevin sesaat. lalu melihat ke sekeliling rumah.


"Aku suka. Benar ini jadi rumah kita?" Khanza seolah tidak percaya.


"Iya Khanza sayang. Kita akan tinggal di sini." Kevin tidak bisa menahan tawanya melihat Khanza yang tidak percaya.


"Itu tergantung orangtuamu. Kalau mereka mengijinkan aku menikahimu." jawaban Kevin membuat semangat Khanza turun. Dia saja tidak tau orangtuanya di mana. Kevin sepertinya tau apa yang di pikirkan Khanza.


"Yang penting kamu suka rumah ini. Aku akan mengurusnya. Rumah ini akan jadi hadiah lamaranmu." Kevin mengajak Khanza keluar.


"Aku boleh menghias rumah ini sesuka aku?" tanya Khanza masih menatap rumah itu sebelum mereka pergi.


"Tentu saja, rumah ini milikmu. aku suka jika kau mau melakukannya." jawab Kevin lega karena Khanza menyukai rumah pilihannya. Mereka pun meninggalkan rumah itu. Di perjalanan Kevin tersenyum menatap Khanza yang masih terpesona akan rumah tadi.


"Kita mau ke mana?" tanya Khanza karena Kevin diam saja.


"Ke rumah Revan, aku ingin kita segera menikah karena kamu banyak yang mau " kata Kevin. Khanza baru pernah dengar kata-kata itu. Tiba di tempat tujuan, Revan terkejut dengan kedatangan Kevin dan Khanza. Dia tidak percaya ketika tadi malam Kevin mengatakan akan melamar Khanza.

__ADS_1


"Jadi kalian serius ingin menikah?" tanya Revan, mereka tengah duduk di ruang tamu rumah Revan.


"Buat apa malam-malam aku telpon kamu kalau hanya bergurau." Kevin kesal niat baiknya di sepelekan. Khanza baru tau jika Kevin sudah memberi tau Revan.


"Aku rasa cuma kamu yang bisa menaklukan Khanza. Baiklah akan aku sampaikan pada orangtuaku tentang ini. Tapi kamu sudah siap Khanza menjadi istri Kevin?" tanya Revan pada adiknya.


"Tenang dia tidak perlu harus bisa masak atau mengurus rumah. Tugasnya hanya mendampingi aku saja. Selama ini dia sudah bisa melakukannya." Kevin yang menjawab untuk Khanza. Terlihat di sini Kevin lah yang tidak sabar untuk menikah dengan Khanza. Revan melihat adiknya sendiri tenang-tenang. Tapi memang Revan melihat Khanza lebih dewasa. Penampilannya rapih dan cantik, tidak sama ketika baru bekerja di kantornya. Revan tidak sabar ingin melihat reaksi orangtuanya ketika melihat Khanza. Kevin tidak ingin bicara panjang lebar lagi. Dia ingin menghabiskan waktu bersama Khanza, maka dia pamit.


"Bang kita mau kemana lagi?" Khanza ingin tau rencana Kevin.


"Kita lihat cincin yuk." Kevin tengah mengarahkan mobilnya ke mal.


"Tapi bang kita kan belum di setujuin sama orangtuaku " Khanza khawatir sia-sia membeli cincin.


"Pokoknya kita harus menikah." Kevin sudah bertekad kuat. Khanza pun tidak membantah lagi. Kevin membiarkan Khanza memilih cincin yang di sukainya. Dia ingin memanjakan Khanza karena sudah mau menikah dengannya. Apa lagi ternyata Khanza mencintainya. Setelah mendapat cincin mereka makan siang berdua. Khanza senang dengan cincinnya. Dia saat ini sedang makan sambil memperhatikan babang tampannya. Khanza yang sekarang bertekad untuk merebut cinta Kevin dari mantannya. Beberapa hari kemudian Revan memberi tau jika orangtuanya ingin bertemu Kevin. Maka di aturlah pertemuan di sebuah restauran untuk makan malam bersama. Romy dan Nesa Wiguna sudah datang di restauran ketika Kevin datang bersama Khanza. Mereka sangat penasaran pada sosok Kevin yang menurut Revan bisa mengubah Khanza.


"Selamat malam om dan Tante, saya Kevin Monta kekasih Khanza." sapa Kevin mengenalkan dirinya.


"Saya dengar kamu juga atasan Khanza di kantornya?" tanya Romy menatap Kevin lekat. Pria tampan berpenampilan baik dan sopan.


"Pa, ma apa kabar?" tanya Khanza pada orangtuanya. Mereka pun mengalihkan perhatian pada Khanza.


"Kamu sehat nak?" tanya Nesa pada putrinya.


"Sehat ma." Khanza menjawab sambil memeluk orangtuanya singkat. Sebenarnya dia rindu pada orangtuanya tapi juga kesal pada mereka karena meninggalkannya.


"Mari kita duduk dulu." Ajakan Romy membuat mereka duduk. Romy bersama Nesa, Kevin bersama Khanza. Pasangan Wiguna bisa melihat bagaimana berubahnya putri mereka. Penampilan Khanza lebih baik, perilakunya juga lebih baik dan Khanza tampak menurut pada Kevin. Pada dasarnya mereka setuju pada pasangan Khanza. Yaitu Kevin Monta.

__ADS_1


__ADS_2