Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
137. Pendekatan Sheni


__ADS_3

Armando menarik Avery agar bersandar di dadanya.


"Memang kamu tidak merasa di sayang?" tangan Armando mengusap punggung Avery. Armando suka posisi seperti ini. Dia bisa mencium Avery, mengusapnya dan dia suka aroma tubuh istrinya.


"Merasa kalau di tempat tidur." Avery hanya menggoda, dia tau Armando menyayanginya.


"Kalau begitu harus sering-sering di bawa ke tempat tidur ya." cocok untuk misi buat anak. Avery tertawa.


"Tadi aku bertemu Arleta, dia sedang hamil. Aku lihat kliniknya makin ramai, sudah waktunya untuk buka cabang. Aku janji untuk mencarikan tempat untuknya." Dari bicaranya terkesan betapa perhatian Armando pada adiknya.


"Bagaimana jika di mal?" Avery jadi teringat proyeknya.


"Mal kalian?" Armando baru terpikir.


"Iya, kan yang datang nanti bisa perawatan sekaligus berbelanja atau jika mau makan kan mudah." jelas Avery. Benar juga, pikir Armando.


"Pintar ya, kamu sekaligus mencari pengunjung mal ya." Armando mencubit pipi Avery. Tapi memang itu tujuan Avery.

__ADS_1


"Ya sudah kamu saja yang bilang pada Arleta, itu kan pekerjaanmu." Armando ingin dengar keputusan Arleta dulu. Berminat atau tidak.


"Aku akan temui Arleta, aku akan ke kliniknya." Avery setuju. Dia senang bertemu Arleta.


Rion tampak kesal di ruang kerjanya. Sudah beberapa waktu dia mendapat gangguan dari artis pendatang baru. Saat ini Rion sedang menggarap sebuah film. Ceritanya di ambil dari sebuah buku yang di tulis seorang penulis terkenal. Sang penulis memberi syarat untuk memasukan sepupunya yang baru menjadi artis. Melihat potensi gadis itu Rion setuju, dia juga tidak sembarangan memilih artisnya. Tapi tampaknya artis muda itu tertarik padanya dan terus mencoba mendekatinya. Rion sudah sengaja menetapkan lokasi syuting yang jauh dari kantornya. Tapi terkadang dia harus datang ke lokasi syuting untuk melihat jalannya proyek filmnya. Kesempatan itu di gunakan sang artis untuk mendekatinya. Gadis itu memang cantik, tapi cinta Rion kan hanya untuk Trisia. Seperti saat ini Rion tengah berdiskusi tentang beberapa hal di lokasi syuting yang mengganggu pikirannya. Rion ingin filmnya benar-benar bagus. Tiba-tiba Sheni sang artis mendekati mereka dengan membawakan makanan sebagai alasan dan terus di samping Rion. Tadinya Rion mengabaikannya saja, tapi lama-lama tingkah centilnya mengganggu Rion. Sang sutradara sih tidak terganggu, karena bisa melihat wajah cantik. Sheni memang cantik, itu daya tariknya yang pertama. Dia juga berbakat.


"Mas Rion di makan dong kuenya, Sheni bawa khusus untuk mas loh." kata Sheni dengan manis menggoda.


"Maaf saya baru makan. Yang lain saja ya. Ada yang mau kue enak, ini Sheni yang bawa." kata Rion dengan suara keras. Otomatis para pekerja di sekitar mereka langsung ambil kesempatan. Mereka tau Rion ramah tapi tetap menjaga wibawanya dengan anak buahnya. Dalam sekejap kue Sheni habis tak bersisa. Sheni cemberut.


"Terima kasih kamu sudah bawakan kue, sering-sering biar mereka semangat dalam bekerja." kata Rion tanpa senyum. Rion lalu menatap Romy sang sutradara penuh arti.


"Mbak Sheni terima kasih kuenya, kita tidak keberatan di bawakan lagi." kata mereka. Sheni pun dengan kesal meninggalkan mereka. Rion tersenyum pada para kru. Romy menepuk bahu Rion. Mereka sering kerja bareng karena sehati dan selikuran. Para kru juga tau dulu Rion memang berandal dengan para wanita yang kadang datang ke lokasi syuting. Tapi sejak mengenal Trisia Rion berubah, menikahi Trisia dan menjadi pria yang bertanggung jawab. Mereka pun salut pada Rion. Maka mengetahui Sheni yang mendekati Rion, pria yang sudah jelas punya istri mereka sebal juga.


"Aku tinggal dulu ya Rom, gerah di sini." kata Rion pada Romy.


"Jelas gerah, tidak ada Trisia sih di sini. Coba yang main Trisia, pasti betah di sini." kata Romy menggoda.

__ADS_1


"Ya sudah aku lihat istri aku dulu." Rion menangkap godaan Romy. Mengingat istrinya Rion jadi tersenyum senang. Rion pun pergi meninggalkan lokasi syuting di iringi tatapan Sheni yang penasaran. Dia jatuh cinta pada Rion. Awalnya dia suka melihat aktor tampan itu, makanya Sheni minta pada sepupunya untuk di libatkan pada film ini. Karena dia tau rumah produksinya milik Marionata Gutama. Ketika bertemu berhadapan Sheni merasa Rion lebih tampan dari pada di layar kaca. Sheni jatuh cinta. Karena itu Sheni bermain bagus agar tidak di depak oleh Rion dari film tersebut. Dan dia juga mendekati Rion, pujaan hatinya. Sheni tau Rion telah menikah. Dengan artis cantik Trisia Amanda. Dulu Sheni juga mengaguminya. Tapi setelah dia jatuh cinta pada Rion rasa kagumnya berubah. Dia cemburu pada Trisia. Ulah Sheni tidak sampai di situ. Dia mulai merambah ke kantor Rion. Di saat kosong syutingnya dia datang ke kantor Rion. Saat ini Jono yang menjadi tameng Rion. Sheni yang ingin ke ruang kerja Rion tertahan di luar.


"Maaf, ada perlu apa mbak di sini?" tanya Jono tegas pada Sheni.


"Saya mau ketemu mas Rion." jawab Sheni angkuh. Gayanya sudah seperti nyonya Marionata Gutama.


"Maaf pak Rion tidak bisa di ganggu." jono berkata kesal. Nyonya Trisia saja tidak seperti ini gayanya.


"Saya bukan mau mengganggu, saya bawa makan siang untuk mas Rion." kata Sheni.


"Makan siang pak Rion itu saya yang mengatur, dan sudah saya sediakan. Mbak ini dari jasa pengantaran mana, ko saya baru pernah lihat?" tanya Jono dengan oon yang di sengaja. Sekertaris Rion sudah tertawa mengikis diam-diam.


"Saya ini artisnya mas Rion, mau ketemu." Sheni mulai kesal. Tapi dia tetap berusaha.


"Hari ini pak Rion tidak punya jadwal jumpa artis. Maaf mbak tetap tidak bisa masuk." jawab Jono tegas.


"Tapi saya kan bawa makan siang untuk mas Rion." Sheni bingung bagaimana menembus Jono

__ADS_1


"Di taruh saja makan siangnya di sini. Kalau pak Rion mau ya di makan. Tapi mbak tidak bisa masuk ke dalam. Paling mbak tunggu di sini, nanti saya kadih tau di makan atau tidak." Jono sekeras batu. Sheni melihat beberapa karyawan sudah mulai memperhatikan mereka. Sheni merasa malu. Lagi pula di suruh menanti di luar sambil menunggu kabar bekalnya di makan atau tidak gengsi dong. Kalau nanti bekalnya tidak di makan kan dia malu.


"Ya sudah nih." Sheni akhirnya menyerahkan makan siangnya itu.


__ADS_2