
" Mbak Melani? ya ada. Darimana mbak Arleta tau?" Arsen memang yakin ada hal penting yang ingin Arleta bicarakan hingga mengajaknya bertemu. Tapi pertanyaan ini di luar dugaannya.
"Tidak penting itu. Aku ingin tau siapa yang mencari Melani?" Arleta tidak mau Arsen tau permintaan Melani. Hal itu akan menyulitkan pria itu nanti.
"Kakaknya, nona Avery Cody. Ternyata Mbak Melani putri dari konglomerat Cody di Amerika. Dia melarikan diri satu tahun yang lalu ke Singapure. Kakaknya nona Avery datang menemui pak Armando beberapa waktu yang lalu." Arsen selalu jujur pada Arleta, tidak menutupi apa pun. Tapi jika orang lain yang bertanya Arsen tidak akan mengatakan apa pun.
"Jadi Melani melarikan diri." kata Arleta pelan. Sekarang jelas di kepala Arleta benang merahnya. Bagaimana kehidupan cinta Melani, bertemu Lordy, berpacaran dengan Kevin dan sekarang terjebak dengan Armando.
"Ya saat ini keluarganya sedang mencarinya." kata Arsen.
"Lalu sikap kakak bagaimana?" Arleta ingin memastikan dugaannya.
"Pak Armando justru tidak mau mbak Melani bertemu dengan kakaknya, karena nona Avery bilang akan membawa mbak Melani pulang." penjelasan Arsen membenarkan dugaan Arleta.
"Kamu tau sekarang Avery di mana?" tanya Arleta. Walau dia belum tau apa yang akan di lakukannya. Arsen memberikan alamat hotel tempat Avery menginap.
"Apa yang akan mbak Arleta lakukan?" tanya Arsen penasaran.
"Tidak ada, aku hanya ingin tau Avery itu seperti apa." jawab Arleta santai. Dia sendiri belum tau apa yang akan di lakukan. Seandainya tau dia juga tidak akan mengatakan pada Arsen. Pria itu pasti tidak akan menutupi hal yang akan merugikan Armando. Dia lebih setia pada Armando. Setelah makan siang Arsen segera kembali ke kantor. Arleta mendatangi hotel tempat Avery menginap. Dia hanya ingin memastikan informasi yang di dapat. Arleta tidak bisa bertemu Avery di kamar hotelnya. Arleta paham, dia putri konglomerat pasti banyak pengawalnya. Mereka bertemu di restauran hotel. Avery menemui Arleta seorang diri.
"Aku Arleta Gutama. Teman Melani." kata Arleta memperkenalkan diri. Dia menilai Avery diam-diam. Cantik dan sangat berbeda dengan Melani. Arleta yakin jika di hadapkan pada Avery mamanya akan setuju pada gadis ini.
"Aku tidak tau dia punya teman tapi aku senang." Avery juga menilai Arleta. Sepertinya kali ini adiknya tepat memilih teman. Cantik, anggun dan terpelajar. Kesan Avery tentang Arleta. Avery pun mengatakan tujuannya bertemu Melani, tepat seperti yang Arsen katakan. Untuk membawanya pulang. Avery juga mengatakan jika Melani berpacaran dengan pria yang salah hingga berani meninggalkan rumah. Arleta jadi menangkap sosok Lordy pada cerita Avery. Ketika Arleta menyebutkan ciri-ciri pria itu pada Avery.
"Itu pasti Lordy Vin. Jadi Melani masih berhubungan dengan pria itu?" tanya Avery dengan marah.
__ADS_1
"Tidak, tapi dia terus mencari Melani." kata Arleta.
"Itu sebabnya aku harus membawanya pulang." kata Avery tegas. Sudah cukup Arleta menggali informasi, dia pun pamit pada Avery.
"Tolong tunjukan di mana adikku jika kau tau." kata Avery jauh dari kesan angkuhnya. Tapi tidak mungkin Arleta menunjukan di mana Melani. Yang tepat Melani lah yang akan menemui Avery. Setelah Arleta tau semuanya dia jadi bingung. Hal itu membawa kakinya melangkah ke rumah sakit bertemu Restandi. Suaminya langsung tau jika ada yang meresahkan Arleta.
"Arleta sayang, kenapa sih murung begitu?" Restandi duduk di sofa di sebelah Arleta. Di sapa demikian Arleta pun menumpahkan segala kegundahannya. Berawal ketika Melani menemuinya, bicara dengan Arsen dan terakhir mendatangi Avery.
"Rest bagaimana ya kalau aku mempertemukan Melani dengan Avery, aku salah tidak?" tanya Arleta bingung. Restandi berpikir sejenak.
"Karena kamu sudah berjanji untuk bantu dia, pertemukan saja." jawab Restandi akhirnya.
"Tapi Rest kalau ada sesuatu nantinya bagaimana?" Arleta khawatir.
"Tapi dia tampaknya sudah menyerah." Arleta ingat dengan perkataan Melani.
"Berarti itu keputusannya. Kalau kamu kemarin juga menyerah aku tidak akan menyalahkan mu." walau Restandi berkata demikian dia sendiri tidak akan pernah membiarkan Arleta berlalu dari hidupnya. Arleta terdiam mendengar perkataan suaminya. Restandi merangkul Arleta dan mencium kepalanya lembut.
"Aku kira datang ke rumah sakit karena ingin mesra-mesra sama aku." Restandi mencium bibir Arleta sekilas. Arleta langsung menyembunyikan wajahnya di dada Restandi.
"Malu ah." kata Arleta jujur, ini kan di rumah sakit.
"Seharian kamu mikirin orang lain, suami sendiri di telantarkan." protes Restandi lagi.
"Memang kamu maunya apa Rest?" Arleta memancing.
__ADS_1
"Arleta sudah boleh dong aku minta jatah aku sebagai suami?" tanya Restandi merayu. Arleta terkejut, tiba-tiba Restandi membahasnya di sini.
"Siapa takut?" kata Arleta menantang, toh ini di rumah sakit.
"Kalau begitu ayo kita pulang." Restandi berkata sambil tersenyum senang. Arleta menatapnya tidak percaya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu lalu Monika masuk.
"Dok ruang operasinya sudah siap." kata Monika serius.
"Ok, sebentar saya ke sana." jawab Restandi cepat.
"Kamu jahat." kata Arleta sambil mencubit lengan Restandi, sadar suaminya sudah menggodanya.
"Habis kamu serius banget sih, seperti memikirkan hidup dan mati." Restandi memegang tangan Arleta agar tidak di cubit lagi. lalu di ciumnya tangan Arleta lembut.
"Aku operasi dulu ya, kamu sama Monika kalau bosan." Restandi bangkit berdiri.
"Trus aku gimana dong." Maksud Arleta keputusan apa yang harus diambilnya.
"Apa pun yang kamu putuskan aku akan mendukungmu." kata Restandi meyakinkan istrinya.
"Atau kamu mau ikut aku ke ruang operasi, di sana kamu boleh ko peluk-peluk aku." selesai berkata Restandi langsung melangkah dengan cepat keluar ruangan, karena dilihatnya Arleta dengan gemas bangkit akan mencubitnya lagi. Arleta pun memantapkan hatinya dan memberi tau Melani di mana Avery berada. Keputusan apa yang akan diambil Melani nanti Arleta tidak akan mencampurinya.
Trisia menghadiri pertemuan dalam rangka pembuatan film barunya. Kali ini yang kedua kalinya dia bermain film dan menjadi pemain utama wanita. Dan yang menjadi pemain utama pria adalah Marionata Gutama. Trisia tidak begitu mengenal Rion. Dia hanya tau Rion aktor berpengalaman dan aktingnya bagus. kalau soal terkenal Trisia yakin dengan wajahnya saja Rion akan terkenal.
"Hai aku Rion, lawan mainmu nanti." kata Rion menyapa Trisia. Terus terang Rion mau berperan di film tersebut karena lawan mainnya adalah Trisia. Ceritanya sih biasa saja. Tapi Rion ingin mengenal Trisia. Rion tau Trisia sudah bertunangan dengan Armando. Kakak dari Arleta.
__ADS_1