
"Kau tau seumur hidupnya dia belum pernah menentang mamaku. Tapi ini dia lakukan, aku langsung tau. Dia punya cinta yang besar pada adikmu. Lalu Armando menikahi Trisia bukan karena dia menuruti mamaku. Tapi dia sedang mengatur langkah untuk menentang mamaku lebih jauh lagi. Aku takut setelah hari ini dia akan semakin jauh dari keluargaku." kata Arleta sedih. Sekarang Restandi mengerti. Arleta berkeras datang bukan hanya untuk mendukung Armando. Tapi dia takut Armando menjauh dari hidupnya.
"Itu tidak akan terjadi sayang." Restandi meraih Arleta sayang dan mencium kepalanya lembut. Avery tersenyum melihat itu. Dia sudah melihat dua cinta yang indah. Hatinya kini tergerak untuk juga punya cinta. Melody sudah menghabiskan susunya, dia mulai mengantuk. Arleta menyerahkan bayi itu pada perawatnya. Mereka pun meninggalkan Melody agar bayi itu bisa tidur. Karena kehamilan Arleta Zakhary meminta mereka untuk menginap satu malam. Besok mereka bisa melakukan perjalanan pulang. Namun Zakhary tidak menginginkan mereka segera pulang. Dia mengharapkan keberadaan mereka lebih lama di rumahnya. Restandi minta maaf, ada jadwal operasi yang menantinya. Dia memutuskan untuk pulang besok bersama Arleta. Malam itu Armando tengah menggendong Melody, memberi susu pada putri kecilnya. Zakhary menatapnya sambil tersenyum. Melani putrinya mendapatkan suami yang baik.
"Kau tidak mau tinggal di sini nak? Kau bisa membantuku di perusahaan, kau juga bisa dekat dengan Melody." kata Zakhary pada Armando. Kehilangan putrinya membuat Zakhary belum bisa melepas cucunya pergi.
"Terima kasih ayah, aku tetap akan kembali. Aku menitipkan Melody untuk sementara di sini, sampai aku siap untuk membawanya pulang." jawab Armando tegas. Zakhary mengerti, Armando memiliki dunianya sendiri. Dia sudah menyayangi menantunya ini. Arleta yang melihat itu menghampiri Armando dan duduk di sebelahnya.
"Kak. kalau kakak mau aku bersedia menjaga Melody untukmu." kata Arleta lembut. Armando menatap sayang adiknya.
"Tidak Leta, belum waktunya Melody ikut denganku."
"Kita belum tau pasti tentang kematian Melani, perlu berhati-hati." kata Zakhary lembut.
"Betul sayang, kita tidak tau musuh kita siapa." kata Restandi mengingatkan. Dia tidak keberatan mengasuh bayi Armando, tapi Arleta sendiri juga akan melahirkan. Restandi dan Arleta pulang sesuai rencana. Armando masih akan bertahan beberapa hari lagi. Dia menghabiskan waktunya bersama Melody. Karena nanti dia harus meninggalkan putrinya. Di makam Melani tampak seorang pemuda bersimpuh dan menangis. Dia membawa seikat bunga mawar putih.
"Maafkan aku." katanya lirih. Cukup lama dia di sana, lalu beranjak pergi. Armando setiap hari mengunjungi makam Melani. Dia selalu mendapatkan seikat mawar putih di sana. Entah siapa yang menaruhnya. Hari ini hari terakhir dia mengunjungi Melani. Dia akan pulang. Masih ada persoalan yang harus di selesaikannya.
__ADS_1
Trisia menanti kepulangan Armando. Tapi yang di nanti tidak muncul juga. Trisia pun bertanya pada Arsen tentang Armando. Menurut Arsen Armando sudah pulang. Tapi tidak pulang ke rumah mereka. Trisia cemas pada Armando. Trisia pun meminta Arsen untuk mengantarnya ke apartemen Armando.
"Buat apa mbak Trisia ke sana?" tanya Arsen tidak suka.
"Saya istrinya, saya berhak tau keadaan suami saya." kata Trisia marah.
"Justru pak Armando saat ini sedang kehilangan istrinya, dia perlu menenangkan diri." Arsen ingin menegaskan bahwa istri Armando adalah Melani. Trisia bukan istri Armando yang sebenarnya. Trisia tau Arsen tidak suka padanya sejak dia berkeras untuk menikah dengan Armando. Dari panggilannya saja berbeda. Arsen terus menyebutnya mbak Trisia, sedangkan Melani di panggilnya ibu.
"Pokoknya antar aku ke sana." kata Trisia keras kepala.
"Saya akan antar mbak Trisia pulang." kata Arsen lalu menjalankan mobil.
"Saya harus bagaimana?" tanya Trisia putus asa.
"Menurut saya mbak Trisia menyerah saja. Mbak harus sadar bahwa mimpi mbak tidak akan pernah terealisasi. Pak Armando menikahi mbak Trisia karena permintaan ibu Melani. Sekarang ibu Melani sudah tidak ada pasti pak Armando akan menceraikan mbak." kata Arsen dengan lembut.
"Tapi aku harus bicara dengan Armando." kata Trisia bingung.
__ADS_1
"Dalam beberapa hari pasti bapak ke kantor, nanti saya beri tau jika bapak datang." Arsen baik hati menawarkan bantuan.
"Ok, saya tunggu kabar dari kamu." Trisia lega. Beberapa hari kemudian Arsen memberi kabar pada Trisia, Armando ada di ruang kerjanya. Trisia pun langsung terbang ke kantor Armando. Karena semua tau dia istri Armando tidak ada yang menghalanginya masuk ke ruang Armando. Pria itu sedang sibuk dengan berkas-berkas di hadapannya ketika Trisia masuk. Mungkin Armando mengira yang masuk adalah Arsen, jadi dia tidak menoleh.
"Ar." Trisia memanggil lembut. Armando terkejut dan menoleh.
"Kamu tidak syuting?" tanya Armando dingin namun tetap menatapnya. Trisia langsung tau Armando menyimpan lukanya. Armando tidak ingin membaginya dengan siapa pun. Tadinya Trisia berpikir untuk bertahan sementara waktu. Dia ingin membantu Armando melewati kesedihannya. Tapi tampaknya pernikahannya memang akan berakhir. Trisia menunduk sedih.
"Ada apa?" tanya Armando bingung. Trisia tidak menjawabnya malah terdiam dan menunduk. Air mata Trisia mulai turun. Dia mengumpulkan kekuatannya untuk bicara.
"Ar, aku ikut bersedih untukmu. Aku tau perasaanmu pasti hancur. Harusnya bukan dia yang pergi, tapi aku. Aku khawatir padamu, jika ada yang bisa kulakukan pasti akan kulakukan untukmu. Tapi aku yakin kau tidak akan mau menerimanya. Maaf aku sudah mengganggu waktumu." Trisia tetap tidak berani menatap Armando, dan air matanya terus turun. Dia berdiri dan mulai melangkah ke arah pintu.
"Cuma itu saja yang kamu mau bilang?" tanya Armando lembut. Langkah Trisia terhenti, tiba-tiba dia merasa mendapat angin. Trisia berbalik menatap Armando.
"Ar, bolehkah aku mengunjungi makamnya?" tanya Trisia berharap. Armando menatapnya beberapa saat, kemudian mengangguk.
"Besok kita berangkat." kata Armando kemudian. Karena mereka akan berangkat besok ke Amerika, Armando menahan Trisia di kantor. Mereka akan pulang bersama setelah Armando menandatangani beberapa berkas. Arsen mengantar minuman untuk Trisia. Kali ini dia tersenyum manis pada Trisia. Mereka tiba di rumah dengan cepat. Karena Armando malas makan di luar Trisia pun memasak. Armando mengerjakan pekerjaannya di kamar sementara menunggu istrinya selesai memasak. Setelah selesai Trisia memanggil Armando di kamarnya untuk makan. Trisia melayani Armando makan seperti biasanya jika Armando di rumah. Walaupun tampaknya biasa saja, tapi Trisia tau Armando menyimpan kesedihannya. Trisia pun ikut sedih dalam hatinya.
__ADS_1