Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
138. Pilihan Arleta


__ADS_3

Sheni lalu pergi meninggalkan tempat itu dengan marah. Apa begini jadi artis pemula, tidak dianggap.


"Nih rejeki buat kamu." Jono menyerahkan pemberian Sheni pada Sita, sekretaris Rion.


"Nanti kalau di guna-guna bagaimana mas?" tanya Sita khawatir.


"Memangnya jeruk makan jeruk. Lagi pula wajar kalau suka sama artis." jawab Jono santai.


"Terus kalau di kasih obat perangsang gitu bagaimana mas?" tanya Sita lagi. Bisa saja kan trik seperti itu.


"Tenang, nanti saya yang tanggung jawab." Jono mengedipkan sebelah matanya pada Sita. Sang sekretaris tidak bertanya lagi pada Jono semprul, percuma. Lumayan juga dapat makan siang gratis, kalau ada apa-apa si semprul itu yang tanggung jawab. Jono dengan santainya duduk dan main game. Sambil menanti siapa tau ada lagi yang datang untuk bertemu Rion membawa Tv, kunci mobil atau kunci rumah. Biar buat dia saja kalau itu mah.


Avery mendatangi Arleta. Dia diantar supir yang di sediakan Armando. Avery belum mengenal jalan-jalan di Jakarta. Maka dia sering di antar Armando. Tapi kali ini Armando menyediakan supir untuk Avery.


"Hai Arleta aku tidak mengganggumu kan?" Avery memasuki ruang kerja Arleta dan menyapanya.


"Tidak, kakak sudah bilang padaku kau akan datang." Armando sudah memberi tau adiknya, istrinya akan berkunjung.


"Kau sudah lama tidak mampir ke rumah, kami rindu padamu." Biasanya Restandi dan Arleta berkunjung dan makan malam bersama.


"Restandi sedang sibuk belakangan ini. Aku juga pusing karena kehamilanku. Baru beberapa waktu ini aku lebih sehat." jelas Arleta.


"Apakah kehamilanmu merepotkanmu?" Avery berpikir bagaimana jika dia hamil nanti. Dia masih takut untuk hamil.


"Awalnya memang sedikit repot, apa lagi jika kau sudah makan. Tapi percayalah ketika kau menggendong bayimu itu bukan apa-apa." Arleta sudah mengalaminya.


"Semoga saja kehamilanku tidak merepotkan." Avery berharap.


"Arleta kau tidak berminat buka klinik di mal?" tanya Avery, itu tujuannya datang.


"Di mal. Boleh juga sih, tapi aku harus melihat dulu tempatnya." Arleta tertarik.

__ADS_1


"Boleh, kita bisa melihat ke sana bersama tapi aku mau perawatan dulu." Avery bosan di rumah saja, saat ini dia bisa sekalian memanjakan diri.


"Kalau begitu aku hubungi Restandi ya, biar dia jemput aku di mal " Arleta memanggil Diana untuk membantu Avery perawatan. Lalu dia menghubungi suaminya. Restandi tengah mempelajari tawaran kerja sama dari Weny Ariste ketika Arleta menghubunginya.


"Hai sayang." sapa Restandi melihat nama di ponselnya.


"Rest, aku dan Avery akan melihat lokasi klinik di mal nanti, jemput aku di sana ya. Biar Avery bisa langsung pulang." kata Arleta manja.


"Kamu pergi sekarang?" tanya Restandi terkejut, karena dia masih ada pekerjaan.


"Avery sedang perawatan dulu. Nanti kalau kami berangkat aku kabari." Nah yang begini Restandi setuju, dia bisa siap-siap dan membereskan pekerjaannya.


"Ya kabari aku. Jangan terlalu sore sayang." jika terjebak macet mereka akan buang waktu di jalan.


"Iya Rest." Arleta memutus sambungan. Restandi memanggil Norman ke ruangannya. Pria itu pun segera datang.


"Dokter mencari saya?" tanya Norman siaga.


"Baik dok akan saya pelajari." Norman mengambilnya lalu meninggalkan ruangan. Restandi pun membereskan pekerjaannya. Ketika Arleta memberi kabar, Restandi sedang membubuhkan tanda tangannya di beberapa berkas. Restandi segera berangkat. Di mal Avery dan Arleta telah tiba. Mereka melihat-lihat lokasi yang sekiranya cocok untuk Arleta.


"Kami sedang melakukan renovasi dan penambahan. Bila kau mau mengubah atau memiliki pengaturan di ruang klinikmu bisa langsung di kerjakan." jelas Avery. Tawaran menarik, Arleta suka itu.


"Aku buat dulu ya rancangan tata letak klinikku." Arleta jadi bersemangat.


"Kalau begitu mungkin kau bisa menentukan klinikmu di mana." Avery menawarkan karena masih banyak yang belum di tempati. Restandi datang menghampiri mereka.


"Kalian sedang apa?" Restandi mencium kepala Arleta sayang.


"Kami akan memilih tempat untuk klinik Arleta." jawab Avery.


"Kita lihat sebentar ya Rest." ajak Arleta, Restandi pun setuju. Arleta melihat satu tempat yang menarik hatinya. Tapi dia masih ragu.

__ADS_1


"Avery, kalau yang di sebelah itu sedang di renov?" Arleta penasaran dengan yang di sebelahnya.


"Oh itu akan di buka cafe, aku dengar mereka akan menyediakan makanan tradisional juga bukan barat saja." jawab Avery. Dia sudah menguasai pekerjaannya.


"Kalau begitu aku pilih yang ini. Aku rasa bagus jika klinikku dekat cafe. Jika para suami mengantar istri mereka untuk perawatan, mereka bisa menunggu di cafe." Arleta mantap dengan pilihannya semula. Tapi dia menatap Restandi meminta saran.


"Menurutku pilihanmu tepat. Tapi di mana pun kau suka kau tidak perlu khawatir. Avery akan membuat Malnya tidak membosankan." kata Restandi yakin. Dia sudah melihat konsep yang Avery buat.


"Untung kau memilih sekarang. Lusa akan ada beberapa brand ternama yang akan masuk." jelas Avery, dengan koneksinya tidak sulit bagi Avery untuk mengundang mereka masuk.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Arleta kau pasti lelah." kata Restandi kemudian. Toh urusan mereka telah selesai. Dia tidak mau Arleta kelelahan.


"Aku juga sebaiknya pulang, sebelum Armando pulang." Avery juga ingin pulang. Mereka pun berjalan keluar. Setelah mengantar Avery pergi dengan supirnya Restandi menatap Arleta.


"Sayang kamu mau makan sesuatu atau beli sesuatu?" Restandi merangkul istrinya.


"Makan dulu ya Rest, sudah lama kita tidak makan berdua." Arleta rindu akan waktunya dulu bersama Restandi. Di mana mereka pulang bekerja berdua, kadang kumpul bersama Revita dan Arlan.


"Aku ada rapat di hotel bersama Sehun dan pak Heru. Biasa, rapat tentang hotel. Kamu mau ikut atau aku antar pulang dulu?" Restandi takut Arleta lelah.


"Ada Monika?" Arleta jadi rindu pada Monika.


"Biasanya kalau rapat dia tidak ikut, tapi aku bisa bilang Sehun untuk bawa Monika." tawaran Restandi di terima Arleta, Restandi segera menghubungi Sehun untuk mengajak Monika.


"Kalau begitu kita makan di hotel saja ya." Restandi memutuskan. Menurutnya lebih baik tidak membuang waktu dan melakukan semuanya di satu tempat. Mereka tiba di hotel, Restandi ingin berdua saja dengan Arleta sebelum Sehun dan Monika datang. Mereka menuju restauran hotel. Karena ini acaranya dengan Arleta, Restandi dengan manja duduk berdekatan dengan istrinya.


"Memangnya sering rapat di sini?" tanya Arleta penasaran.


"Biasanya mereka yang datang ke rumah sakit. Tapi kali ini aku dan Sehun ingin melihat keadaan hotel." Mereka sedang menunggu hidangan datang.


"Kamu tuh bosi banget di datangi terus tau."

__ADS_1


__ADS_2