Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
56. Kegundahan Revita


__ADS_3

Ini yang membuat Restandi marah. Betapa cerobohnya adiknya, dan betapa beraninya perempuan itu mengusik keluarga Gutama. Restandi pun menjalankan aksinya. Dia menginvestasikan uangnya untuk produksi film yang di bintangi Rion. Tapi Restandi minta Paula di keluarkan dari produksi film tersebut. Perempuan seperti itu jangan dekat-dekat dengan adiknya. Paula juga di beri peringatan untuk tidak mendekati Rion. Walau tidak tau siapa, tapi Paula bisa mengira adanya sosok yang kuat di balik Rion. Dia pun tidak berani macam-macam. Awalnya dia ingin menjadi kekasih Rion dengan menjebak pria itu. Tapi tampaknya usahanya gagal. Restandi menanti Arleta. Dia berharap dengan kedatangan istrinya itu kesalnya akan hilang. Arleta sendiri baru tiba di rumah sakit bersama Sofi. Pintu ruang kerja Restandi di ketuk orang. Itu pasti Arleta, pikir Restandi. Dia pun mempersilahkan masuk.


"Loh mama ?" tanya Restandi bingung. Bukan Arleta yang datang.


"Iya sayang, mama antarkan bekal untuk kamu." kata Sofi dengan senang.


"Arleta mana?" Restandi penasaran.


"Arleta ke toilet sebentar." Sofi menaruh bekalnya di meja dan duduk di sofa. Restandi tau ini ulahnya Arleta. Kan dia bisa menggunakan toilet di ruang kerjanya. Hm, istrinya mulai nakal nih. Tidak lama Arleta masuk. Restandi baru ingat jika belakangan ini Arleta tidak suka mengetuk pintunya tapi langsung masuk. Ah dia tertipu.


"Rest bekalnya sudah sampai kan." kata Arleta dengan senyum cerah. Sangat cerah. Restandi gemas, dia berdiri dan menghampiri Arleta. Di tariknya Arleta dan di ciumnya bibirnya tanpa malu pada mamanya. Sofi yang melihat itu tersenyum. Dia senang hubungan antara anak dan menantunya mesra. Arleta yang malu. Segera setelah Restandi melepaskannya dia memalingkan wajahnya karena malu. Itu akibatnya kalau nakal.


Revita jenuh dengan hubungannya bersama Arlan yang tidak ada kemajuan. Walaupun mereka sudah satu kantor sekarang, berangkat dan pergi bersama. Sepertinya Arlan tidak punya niat untuk membuat hubungan mereka lebih jauh. Arlan sibuk dengan upayanya memajukan perusahaan yang di pimpinnya. Sikapnya pada Revita tetap sama, menunjukan cinta dan sayangnya seperti biasa. Tapi perhatiannya mulai berkurang. Revita juga mulai tidak suka dengan sekretaris Arlan, Raina. Wanita itu seperti sedang mencari celah dalam hubungan Revita dan Arlan. Jika ada pertemuan di luar dia akan tersenyum sinis pada Revita, seolah dia pemilik Arlan. Revita merasa dia harus bicara pada Arlan. Saat ini mereka makan malam berdua, sengaja Revita mengatur ini karena ingin bicara pada Arlan.


"Kan kamu tidak merasa sekretarismu aneh?" tanya Revita memancing.

__ADS_1


"Raina? kenapa dengan dia, aku rasa biasa saja." kata Arlan yang tetap sibuk dengan makan malamnya. Berarti Arlan tidak merasa sekretarisnya mulai mendekatinya.


"Kamu tidak peka ya." kata Revita kesal.


"Ada apa sih kamu ko jadi kesal begitu. Coba nanti aku lihat ya kalau Raina macam-macam aku akan ambil tindakan." kata Arlan santai. Sebenarnya Arlan tidak mengerti yang Revita bilang aneh itu bagaimana. Dia hanya menenangkan tunangannya saja. Dan perkataan Arlan ternyata hanya basa basi. Arlan kembali sibuk dengan pekerjaannya tanpa melihat Raina mulai semena-mena. Raina mulai mengatur makan siang untuk Arlan sehingga Arlan tidak perlu makan siang dengan Revita. Arlan tidak keberatan karena dia tetap bisa bertemu dengan Revita. Tapi kemudian Raina mengatur pertemuan di pagi hari yang membuat Arlan kesulitan menjemput Revita. Raina juga dengan licik mengatur Arlan pulang terlambat dari jam biasanya. Revita mulai gemas tapi dia tidak dapat berbuat apa-apa karena itu semua atas nama pekerjaan. Ingin rasanya kembali ke masa di mana Arlan hanya staf biasa tapi rasanya dia tidak mensyukuri berkah yang di dapat. Akhirnya Revita protes lagi pada Arlan.


"Kenapa lagi sih Vita?" kata Arlan ketika Revita melancarkan protesnya.


"Kamu sadar tidak, kamu tuh sekarang sudah jarang ketemu aku." Revita memandang Arlan kesal. Arlan berpikir dulu. Ternyata Revita benar. Mereka sudah jarang berangkat bersama lagi. Makan malam pun jarang karena Revita sudah di rumah sedangkan Arlan masih di kantor.


"Apa kamu maunya begini?" tanya Revita tajam.


"Vita aku begini karena pekerjaan. Aku sadar kita jarang bersama sekarang." Arlan berusaha memberi pengertian pada Revita. Dasar pria tidak peka, pikir Revita.


"Kamu bisa kan mengatur jadwal kamu. Atau aku memang tidak berarti lagi dalam hidup kamu?" Revita berkata tajam.

__ADS_1


"Vita jangan berkata seperti itu." Arlan marah. Mereka sudah bertunangan, tidak mungkin Arlan tidak serius dengan hubungan mereka. Revita diam saja. Masa dia harus terus-tetusan protes.


"Ok kamu tidak suka pada Raina, tapi aku tidak bisa memecat seseorang karena alasan pribadi." Arlan bingung harus bagaimana.


"Kamu kan bisa mengganti sekretarismu. Pindahkan dia ke divisi lain atau ke kantor cabang lain." Revita benar-benar gemas.


"Baik akan aku pikirkan." kata Arlan pada akhirnya. Dia ingin menghentikan perdebatan ini. Sedangkan Revita walaupun diam tapi hatinya masih tidak puas. Masih akan di pikirkan kata Arlan, sabar ya Vita kata Revita dalam hati. Arlan belum sempat memikirkan perkataan Revita. Hari ini dia sibuk dari pagi hingga malam ini masih bertemu calon investor di sebuah restoran. Mereka hanya bicara tentang bisnis dan Arlan di temani Raina. Setelah pembicaraan selesai dan tamunya pergi Arlan merasa lega.


"Raina kamu pulang saja dulu, saya mau makan dulu. Saya sudah sangat lapar." kata Arlan pada Raina .


"Saya temani ya pak, saya mau menumpang sampai mal di depan." kata Raina mencari alasan. Arlan tidak mengiyakan dan juga tidak menolak. Yang dia pikirkan adalah makan lalu pulang dan menelpon Revita. Satu harian ini dia tidak bertemu dengan tunangannya itu. Ketika sedang makan Arlan merasa ada yang menatapnya. Pada saat dia menoleh dia melihat Revita, Arleta dan Restandi tengah melihatnya. Revita hari itu tidak dapat bertemu Arlan, karena katanya Arlan ada pertemuan penting. Revita pun pergi bersama Arleta dan Restandi untuk makan malam bersama. Tidak di sangka ketika akan pulang dia melihat Arlan yang tampak sedang makan malam dengan Raina. Hati Revita sakit, tapi dia tidak berkata apa-apa hanya menatapnya. Sampai kemudian Arlan melihatnya.


"Vita kamu di sini, kamu mau makan?" tanya Arlan terkejut. Hatinya langsung merasa tidak enak.


"Tidak perlu, kamu terusin saja makan." Revita berkata dengan dingin lalu melangkah pergi. Arleta dan Restandi mengikuti Revita. Mereka langsung tau ada yang tidak beres dengan hubungan antara Revita dan Arlan. Revita pun masuk ke dalam mobil Restandi.

__ADS_1


__ADS_2