Merebut Cintamu

Merebut Cintamu
92. Kerja Keras Eva


__ADS_3

Eva menuju lobby rumah sakit. Bertanya apa ada kiriman untuk nyonya Gutama. Ternyata ada kiriman bunga dan kue-kue dari teman-teman Arleta. Eva pun membawanya ke ruangan Arleta di bantu seorang perawat.


"Untuk selanjutnya biar saja di lobby, nanti biar aku yang bawa ke sini. Dokter Restandi tidak mau istrinya terganggu." kata Eva pada perawat itu.


"Dokter Restandi perhatian ya mbak sama istrinya." perawat itu masih magang di sana. Eva suka padanya karena mudah di arahkan. Arleta terbangun.


"Ada apa Eva?" tanya Arleta heran.


"Ini Bu ada kiriman kue dan bunga untuk ibu." kata Eva sambil memperlihatkan bawaannya.


"Aduh, jadi banyak kue dan bunga di kamarku nih. Coba Eva kue dan buah kamu bagikan saja. Saya kan tidak mungkin makan itu semua." kata Arleta sambil perlahan turun dari tempat tidur. Di pilihnya kue dan buah yang bisa di bawa Eva . Perawat manis itu pun segera berlalu membawa kue dan buah di tangannya. Dia ke bagian U.G.D.


"Ini di bagikan sendiri ya." kata Eva menaruh bawaannya.


"Dari siapa Eva?" tentu saja kedatangan Eva di sambut.


"Dari ibu Arleta Gutama. Kalau kurang bilang ya." sahut Eva.


"Cukup ko Eva, terima kasih ya. Sampaikan pada ibu." Mereka tidak berani sembarangan pada nyonya Gutama. Eva pun kembali ke ruangan Arleta.


"Eva kamu bawa lagi tuh untuk di lobby. Kasihan mereka yang sibuk dengan kiriman untuk saya. Terus kalau kamu pulang bawa juga untuk teman-teman kamu di mess ya." kata Arleta, dia mau tidur lagi.


"Ibu tau saya tinggal di mess?" tanya Eva heran.


"Saya tau, kenapa?" Arleta bertanya heran. Eva tersenyum dan menggeleng. Timbul rasa kagum di hatinya terhadap Arleta. Dia bukan Siapa-siapa, tapi Arleta tau tentangnya.


"Bunga-bunga itu juga kamu taruh saja di ruangan lain." kata Arleta, lalu dia mulai memejamkan mata.


"Baik Bu." Entah Arleta dengar atau tidak. Eva pun menjalankan apa yang di katakan Arleta. Ketika dia menaruh bunga di lobby rumah sakit, senior di sana memperhatikan.

__ADS_1


"Eva, benar sama ibu mau di taruh di sini?Bunganya cantik loh." Senior itu bertanya.


"Benar mbak, mau satu lagi?" tanya Eva, senior itu tidak menolak. Aira yang tengah lewat jadi melihat apa yang Eva lakukan.


"Eva, saya boleh minta satu untuk di ruangan saya?" tanya Aira.


"Boleh dok, nanti saya ambilkan." jawab Eva ramah. Biar bagaimana Aira kan wanita, dia juga suka pada bunga. Restandi baru keluar dari ruang kerjanya, dia akan ke ruang Arleta. Di lorong rumah sakit dia berpapasan dengan Paramita yang akan pulang.


"Dokter." sapa Paramita pada Restandi yang menatapnya dingin.


"Maaf saya sudah mengganggu dokter waktu itu." kata Paramita dengan menyesal.


"Bagus kalau anda tau itu. Saya permisi." Restandi berbalik menjauh.


"Dok." Paramita memanggil lagi. Restandi menoleh kesal.


"Selamat atas kelahiran putra pertamanya." kata Paramita sambil tersenyum tulus.


"Dok saya mau pulang dulu ya. Terima kasih bingkisannya." Eva berkata pelan. Restandi menatapnya bingung.


"Dari tadi ibu bagi-bagi kue dan buah pada staf rumah sakit dok." jelas Eva.


"Baru kali ini ya ada pasien yang membagikan bingkisannya pada staf rumah sakit." kata Restandi sambil tersenyum melihat Arleta.


"Betul dok. Makanya ibu jangan cepat pulang." Eva berkata riang.


"Terima kasih ya Eva."kata Restandi tulus. Eva mengangguk dan melangkah pergi. Eva perantauan yang menjadi tulang punggung keluarganya. Gajinya hanya cukup untuk keluarganya. Maka dia tinggal di mess. Restandi melihat ternyata apa yang di lakukan istrinya membawa kebahagiaan kecil bagi para stafnya. Restandi merasa kecolongan. Selama ini dia lupa memberi perhatian pada para stafnya. Tapi tenang saja, kan dia inden seratus anak. Akan ada kesempatan berikutnya. Restandi tengah tertidur pulas di sofa ketika dia merasa ada seseorang yang membangunkannya. Dia pun membuka matanya. Aira, di depannya.


"Dok ada pasien baru masuk. Sepertinya butuh operasi. Tapi saya khawatir observasi saya salah. Bisa tolong dokter lihat sebentar." kata Aira pelan. Khawatir membangunkan Arleta dan bayinya.

__ADS_1


"Ok akan saya lihat. Di mana?" tanya Restandi sambil bangkit berdiri.


"Di U.G.D. dok." kata Aira, dia pun keluar. Restandi membasuh wajahnya agar segar, lalu berjalan menuju U.G.D. Pasien itu seorang pria yang baru di bawa keluarganya karena kecelakaan. Restandi pun memeriksanya. Benar menurut Aira, harus di operasi.


"Panggil Norman." kata Restandi keluar dari U.G.D.


"Norman baru saja pulang dok."kata Aira.


"Dio?" maksud Restandi Claudio.


"Dia bisa di panggil kapan saja dok." jawab Aira.


"Dio saja. Katakan pada keluarga pasien untuk temui saya di ruang praktek saya. Siapkan ruang operasi jika mereka setuju akan kita operasi." Restandi berjalan ke ruang prakteknya dengan membawa data pasien. Aira pun menghubungi Claudio yang langsung ke rumah sakit. Keluarga pasien bertemu Restandi yang menjelaskan kondisi pria itu. Mereka setuju untuk operasi. Persiapan pun di lakukan. Claudio datang dan langsung bertemu Aira di ruang operasi. Pria tadi sudah di siapkan. Hanya menunggu dokter Restandi. Tidak lama Restandi datang. Operasi pun di lakukan. Arleta tengah tertidur ketika dia merasa ada tangan yang menyentuh pipinya lembut. Dia pun terbangun. Dilihatnya sang pemilik tangan. Armando.


"Adikku sudah jadi ibu sekarang." kata Armando lembut. Arleta tersenyum. Di lihatnya jam di dinding, sudah malam sekali. Lalu dilihatnya sekeliling ruangannya, Restandi tidak ada.


"Suamimu sedang menangani operasi." kata Armando, mengerti apa yang Arleta cari. Arleta tersenyum lega.


"Kakak baru datang?" tanya Arleta memperhatikan Armando.


"Turun dari pesawat aku langsung ke sini. Tidak sabar melihatmu dan baby Al." kata Armando tersenyum dan melirik baby di dalam box.


"Kakak tau namanya." Arleta terpana.


"Restandi yang memberi tau ketika memberi kabar. Aku datang dia sudah masuk ruang operasi. Jadi aku menunggunya di sini." Armando ingin memberi selamat pada Restandi.


"Mama menanyakan kakak." kata Arleta lagi, dia juga rindu pada Armando.


"Lalu?" Armando mengusap kepala Arleta dengan sayang.

__ADS_1


"Aku jawab sibuk. Walau sibuk yang tidak jelas." kata Arleta.


__ADS_2